Perjalanan Literasiku

Dokpri buah literasiku

 

Ikatlah ilmu dengan menulis, biarlah tulisanmu menemui takdirnya.

 

Perjalanan literasiku dimulai ketika pertama kali bergabung dengan kelas menulis online yang dibentuk oleh Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. atau akrab disapa Omjay. Seorang Guru Informatika di SMP Labschool Jakarta yang memiliki semboyan khusus Bapak Bloger Indonesia. Sekarang kelas menulis ini diberi nama Kelas Menulis Belajar Nusantara(KBMN) yang diresmikan pada bulan Desember 2023.

Awal aku bergabung dengan KBMN adalah ketika aku mendapat tautan link WAG kelas menulis gelombang 8 dari sahabatku Ibu Sulistijowati, S.Pd. Beliau adalah seorang Kepala SDN 1 Bintangsari, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Beliau bergabung di KBMN gelombang 7 sedangkan aku gelombang 8. Aku cukup dekat dengan beliau dan aku selalu memanggilnya dengan sebutan Bunda Sulis. Saat itu beliau mengatakan bahwa sangat asyik ikut kelas menulis. Selain melatih keterampilan kita sebagai guru, kita juga dilatih untuk mengembangkan ide tulisan dari tantangan yang Omjay berikan.

Saat tergabung dalam WAG gelombang 8 dengan ketua kelasnya adalah Bapak Bambang Purwanto atau akrab disapa Mr.Bams. Di sana aku satu kelas dengan Mayor Nani, Pak Mukminin atau akrab disapa Cakinin, Cang Suharto, Ibu Noralia, dan Pak Yulius Roma Patandean. Namun saat itu, aku tidak lulus sehingga mengulang kembali di gelombang 12.

Dahulu ketika kelas ini dibentuk pada bulan Maret 2020, aku sempat putus asa karena kebingungan untuk menulis resume yang baik itu seperti apa. Pernah juga copy paste WA materi dari narasumber dan langsung posting ke dalam blog. Ternyata, hal yang aku lakukan itu salah. Saat mengulang kelas, aku baru memahami bahwa menulis resume itu mengambil pelajaran penting dari materi yang disampaikan oleh narasumber dengan menggunakan kaca mata 5 dimensi. Artinya, kita bisa mulai menuliskan resume dari sudut pandang yang dapat kita pahami. Bisa dimulai dengan kalimat motivasi, sebuah pantun, puisi, atau pengalaman pribadi yang menarik hati.

Istilah kaca mata 5 dimensi pertama kali mendengarnya saat mengikuti materi Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd. atau akrab di sapa Bu Kanjeng. Beliau adalah salah satu narasumber yang membangkitkan gairah menulisku dan termasuk salah satu ULAMA (Usia Lanjut Masih Aktif) atau LOLITA (Lonjak Lima Puluh Tahun). Beliau telah memberikan inspirasi bahwa tidak ada kata terlambat untuk mulai menulis. Bahkan beliau produktif menulis saat memasuki usia senja yang saat itu masih kuliah S2.

Usai mengisi materi kelas menulis, Bu Kanjeng mengajak para peserta untuk membukukan pengalaman terbaiknya ketika mengikuti materi bersama Bu Kanjeng. Aku mengikuti tantangan menulis buku antologi pertama dan lahirlah buku antologi pertamaku berjudul Semangat Menulis Bersama Bu Kanjeng yang saat itu editornya adalah Bapak Heronimus Bani dari Kupang, Nusa Tenggara Timur(NTT). Pak Roni salah satu penulis andal karena saat aku membaca artikelnya, seketika aku langsung terkesima dengan gaya bahasanya karena Pembaca akan menemukan pengalaman seru serta mendapatkan sebuah ilmu yang senantiasa akan menambah wawasan atau pengetahuan baru.

Dokpri Semangat Menulis Bersama Bu Kanjeng

Pengalaman menulis bersama atau sering disingkat Nubar adalah pengalaman berharga untuk seorang penulis pemula sepertiku. Sejak lahirnya buku antologi perdana, kobar semangat untuk menulis buku solo semakin menggebu-gebu. Karena sejatinya, mahkota seorang penulis adalah buku. Jadi, aku telah berhasil menorehkan langkahku sebagai penulis. Dengan menulis antologi kita bisa belajar tulisan teman dan biaya pun ditanggung bersama. Selain itu, dengan menulis antologi kita bisa saling bersilaturahmi dan saling menyemangati untuk menuntaskan tulisan. Sehingga ketika buku tersebut lahir, ada rasa kepuasan tersendiri karena kalau peserta kompak, buku pun akan segera terbit. Bahagia rasanya, ketika namaku ada diurutan pertama dari 42 penulis se-Indonesia.

Dokpri buku solo perdana

Pengalaman menulis buku antologi membuatku lulus menuntaskan 20 pertemuan online kelas menulis dan berhasil menerbitkan buku solo yang berjudul Mengukir Mimpi Jadi Penulis Hebat. Saat lulus kelas menulis di gelombang 12, tepatnya pada tanggal 12 Agustus 2020 usiaku genap 32 tahun. Betapa bersyukurnya diriku ketika buku solo itu lahir dan membuatku berhak menerima sertifikat bernilai 40 jam yang ditandatangani oleh Ketua Umum Pengurus Besar PGRI yaitu Ibu Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd. dan ketua IGTIK PGRI Bambang Susetyanto, S.Kom.

Dokpri sertifikat KBMN

Semenjak lahirnya buku antologi pertama dan buku solo pertamaku pada bulan Agustus 2020 sampai akhir Februari 2023, perjalanan literasiku berbuah manis hingga mencapai 60 buku yaitu 4 buku solo, satu buah buku duet kolaborasi bersama Prof. Richardus Eko Indrajit, dan 55 buku antologi dengan jenis buku fiksi maupun nonfiksi. Bermula dari sebuah mimpi, akhirnya satu persatu mimpi itu pun menjadi nyata. Dari sebuah kegagalan di kelas menulis gelombang 8 akhirnya aku bisa berproses dan lulus di gelombang 12.

Menulis itu butuh kesabaran dan sebuah keterampilan yang harus dilatih. Jadi, hal itu adalah bagian dari sebuah perjalanan panjang yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Untuk itu, setiap pengalaman selalu aku abadikan dalam bentuk buku sehingga menjadi jejak literasiku di masa depan. Seperti kisahku ini yang akan kujadikan sebuah buku autibiografi yang berisi perjalanan hidup dari kecil hingga mencapai puncak karirku. Ayo berbagi kebaikan melalui tulisan. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Salam blogger inspiratif
Aam Nurhasanah

KMAC DAY9

#DAY9
#KMAC
#KarenaMenulisAkuCeria
#YPTD
#Minggu,19Februari2023

Tinggalkan Balasan