PANTESAN PUASA SAYA HANYA LAPAR DAHAGA SAJA

Terbaru678 Dilihat

PANTESAAN..

Beberapa hari ini perut saya kekenyangan. Saya makan terlalu banyak. Sahur makan banyak apalagi pas berbuka.
Hampir kaya kesurupan saja. Sikat apa saja. Makan apa saja.
Akibatnya nyaris saya ga pernah merasakan lapar ketika puasa. Biasa saja seperti hari hari diluar Ramadhan.
Waduh gawat saya fikir nih. Bukankah salah satu hikmah puasa itu adalah merasakan rasa lapar yang sering dirasakan orang orang yang kurang beruntung?
Bukankah salah satu esensi puasa itu adalah tumbuhnya sifat empati pada mereka yang kehidupannya jauh dibawah kita?
Kalau saya ga merasa lapar, gimana saya mau merasakan derita mereka? Gimana bisa saya berempati dan mau berbagi kalau saya ga tahu atau ga rasakan bagaimana sakitnya menahan lapar? Kayanya puasa saya sia sia aja.
Sayapun mikir, biar saya bisa merasakan lapar, saya harus menahan diri makan banyak. Bisa pas buka atau pas sahur, saya harus makan sedikit.
Tapi kalau waktu buka saya makan sedikit, malamnya akan lapar lagi dan terdorong makan lagi. Bahaya juga. Malah bisa merusak diet saya.
Kalau begitu, lebih baik saya makan sedikit waktu sahur saja. Jadi saya masih bisa merasakan sensasi lapar waktu siang hari dan tentu tidak akanĀ  terdorong cheating makan.
Hmmm saya fikir ini pemikiran yang tepat. Pahala dapat, diet selamat.
Tapi tiba tiba saya tersadar. Logika berfikir saya salah. Orang orang miskin dhuafa itu menahan lapar bukan karena pilihan tapi karena itulah satu satunya keadaan yang mereka hadapi.
Saya ini masih bisa memilih kapan waktu saya mau kenyang dan lapar. Saya masih bisa memilih apakah saya mau lapar di malam hari atau lapar di siang hari.
Kaum miskin dhuafa menahan lapar karena mereka tidak punya pilihan lain. Kondisi keterbatasan membuat mereka harus menahan lapar seharian, siang dan malam.
Saya masih bisa memilih kapan saya mau kenyang. Saya bisa memilih menu makan apa. Bahkan bisa memilih lebih dari satu lauk untuk makan.
Kaum dhuafa tidak memiliki kebebasan untuk memilih apa yang ingin mereka makan. Jangankan memilih menu atau menambah menu,untuk bisa mendapatkan sepiring nasi saja sudah jadi kemewahan.
Astaghfirullah. Seharusnya kalau mau berempati, bukan memilih kapan saya mau lapar atau krnyang. Bukan pula memilih menu apa yang bisa dimakan.
Seharusnya, saya memilih untuk lapar seperti mereka yang selama ini terus menerus merasakannya. Saya memilih menahan lapar karena itulah yang seharusnya saya rasakan selama puasa ramadhan.
Dengan merasakan hal yang sama seperti mereka saya akan lebih memahami perasaan dan fikiran mereka. Lalu akan timbullah empati dan keinginan untuk menolong mereka.
Menolong mereka bukan hanya dilandasi karena besarnya pahala yang Allah berikan. Menolong kaum dhuafa harus kita lakukan penuh kesadaran bahwa bukan hanya kita yang harus merasakan penderitaan mereka, tetapi juga kesadaran bahwa mereka juga punya hak yang sama untuk merasakan kebahagiaan kita.
Seharusnya empati kita bisa membuat mereka tak seterusnya menjadi dhuafa.
Astaghfirullah,ampuni hamba Ya Allah…Pantesan saya sering keras hati, kurang berempati, dan tidak bersyukur. Saya berfikir dengan dasar logika saya dan bukan dengan dasar aturan dan kehendak Allah, Tuhan yang Maha Kuasa.
Pantesan iman saya masih kacau balau, bisnis masih acak acakan, dan urusan saya ga beres beres. Saya masih melihat sesuatu dari kacamata perut,dan bukan kacamata hati saya.

Tinggalkan Balasan