Aku, Kisahku, dan Cita-Cita Pengabdianku Untuk Negeriku
By: Aisya Amaria Fitra Wijaya (21058)
“Jangan pernah menyerah, jangan pernah putus asa, dan jangan pernah mengatakan bahwa kamu tidak bisa. Jika hari ini gagal mungkin ini bukan rezekimu. Teruslah mencoba apapun hasilnya. Ingatlah bahwa Allah tau mana yang lebih baik untukmu. Ingatlah juga bahwa banyak doa dan kasih sayang yang ditujukan untukmu.”
Kalimat itu aku dengar langsung dari lisan kedua orangtuaku yang kala itu dikatakan tepat setelah aku gagal mengikuti tes kedinasan. Dalam pikiranku kalimat yang diucapkan oleh orang tuaku tersebut merupakan arti dari sebuah semangat dan harapan besar.
Aisya, itulah namaku. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Aku mempunyai adik laki-laki bernama Nafi’. Ayahku bekerja sebagai pekerja pemisah beras(selep) di Bulog. Ibuku seorang ibu rumah tangga yang kesehariannya membuat kue dan menjualnya dengan menitipkan di toko roti. Keluargaku penuh dengan kasih saying serta harmonis. Disini aku akan menceritakan tentang kisahku mengejar cita-cita.
Sejak aku duduk dibangku Sekolah Dasar aku ingin sekali menjadi dokter.entah alas an apa aku menginginkannya. Suatu hari, saat aku hendak pergi ke sekolah di perempatan dekat sekolahku, terjadi kecelakaan. Darah sangat bercecer di jalanan. Aku sangat takut melihat begitu banyaknya darah segar berwarna merah kental keluar dari salah satu tubuh orang yang kecelakaan. Disaat itulah ada ambulans dan seorang perawat yang membopong orang itu. Aku sempat berfikir apakah aku seberani itu untuk menangani orang yang banyak mengeluarkan darah. Pada akhirnya aku mengubah pikiranku untuk mengganti cita-citaku menjadi pramugari.
Waktu telah berlalu, aku bertekat untuk menpelajari bagaimana menjadi seorang pramugari dibangku SMP. Tapi usahaku itu tidak lama, karena pada tahun itu ada kabar bahwa jatuhnya pesawat yang menghilangkan banyak nyawa. Semenjak itu aku juga berpikir keras lagi untuk mengganti cita-citaku. Aku yang tidak bisa berfikir jernihpun menetapkan bahwa aku sekarang hanya ingin menjadi orang sukses. Prinsip cita-citaku tersebut aku bawa sampai ke jenjang SMA.
Disinilah ceritaku dimulai, dibangku SMA tepatnya semester lima aku berfikir dimana aku akan melanjutkan pendidikan ini. Pengumuman sudah didepan mata dan aku sangat senang karena namaku berada pada urutan ke empat dari lima puluh dua se-IPS yang mendapatkan golden ticket untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri tanpa tes. Orang tuaku sangat bahagia mendengar kabar ini. Awal tahun 2021, dengan persetujuan orang tuaku aku mendaftarkan diri melalui jalur SNMPTN. Universitas Negeri Malang dengan program studi Bimbingan dan Konseling pada pilihan pertama dan Universitas Negeri Surabaya dengan program studi Psikologi Pendidikan dan Bimbingan pada pilihan kedua. Aku sangat berharap dapat lolos melalui jalur ini.
Saat aku dibangku kelas 3 SMA aku sempat bingung memikirkan akan kuliah dimana. Saat itu bapak dan ibu guru menjelaskan bahwa memasuki Perguruan Tinggi Negeri prosesnya melalui tiga jalur. Jalur pertama yaitu SNMPTN atau Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri tanpa tes. Jalur kedua yaitu SBMPTN atau Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri berbasis UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer). Dan yang terakhir yaitu Mandiri. Sambil menunggu hasil, akupun selalu berdoa agar bisa diterima di Universitas yang aku inginkan. Aku terlena dan terlalu yakin bisa lolos. Tanpa mempunyai list atau pilihan lain jika gagal. Pengumuman hasil SNMPTN 2021 diumumkan pada tanggal 22 Maret hari Senin pukul 15.00 wib. Jantungku berdetak kencang menunggu hasil pengumuman itu. Keluargaku berkumpul di ruang keluarga. Aku yang masih memakai mukena hanya bisa merapalkan doa. Harapanku sia sia saat pengumuman menunjukkan warna merah, yang berarti tidak lolos. Aku sangat sedih, keluargaku turut menyemangati dan menenangkanku dengan kata-kata penenangnya. Beberapa jam berlalu, aku hanya bisa menangisi hasil yang ku peroleh. Selepas aku meratapi nasib, aku pun berfikir ini bukanlah akhir tetapi ini adalah permulaan menuju tangga kesuksesan. Aku sadar bahwa Allah ingin melihat perjuanganku bukan hanya doa yang dipanjatkan.
Hari demi haripun berlalu, dengan tekad yang kuat aku mendaftarkan diri ke Perguruan Tinggi melalui jalur SBMPTN. Aku memilih Universitas Negeri Malang dengan program studi Bimbingan dan Konseling pada pilihan pertama dan di Universitas yang sama aku memilih program studi Psikologi pada pilihan kedua. Semangat dan percaya diriku muncul. Tiada hari yang kulalui tanpa belajar. Belajar, usaha, dan doa selalu mengiringi hariku. Disamping itu, aku mencari jalur lain untuk memasuki universitas. Akhirnya bertemulah aku dengan jalur vokasi D3 di Universitas Diponegoro, Tetapi ayah dan ibuku tidak merestui pilihanku. Akupun tidak masalah dengan keputusan ayah ibuku karena apapun yang terpenting hanyalah restu ayah dan ibu. Setelah meninggalkan jalur vokasi aku diberitahu oleh temanku bahwa UIN (Universitas Islam Negeri) membuka jalur UM-PTKIN Yaitu Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri. Dengan persetujuan kedua orang tua akhirnya aku mengikuti tes tersebut. Hasil SBMPTN diumumkan pada tanggal 14 Juni, sedangkan hasil UM-PTKIN pada tanggal 17 Juni sangat dekat bukan.
Hari yang kutunggu, hari yang ku harap membawa keberuntungan tetapi tidak. Dan benar hasilnya adalah tidak lolos dijalur SBMPTN. Aku kembali menangis dan teringat ada jalur satu lagi. Aku mempercayakan semuanya pada Allah. Hasil akhir aku tidak lolos di jalur UM-PTKIN tetapi aku tidak menangis, Entahlah mengapa air mataku tidak bisa keluar.
Oh iya, aku melupakan sesuatu yang sangat ingin aku ceritakan. April lalu aku mencoba mendaftarkan diri untuk mengikuti tes Kedinasan dan memilih IPDN tujuanku. Dengan tekad yang lebih besar akupun mempelajari materi yang akan diujikan. Semangat yang membara setiap harinya. Dukungan keluarga serta teman teman membuat aku percaya diri. Aku mendapatkan tanggal 25 Juni untuk ujian tes. Hari itu adalah hari dimana aku melaksanakan tes dan melihat hasil lolos tidaknya. Saat mengerjakan aku hanya bisa berdoa. Apakah kalian tau hasilnya?. Lagi dan lagi, aku gagal. Hari itu adalah hari yang paling menyedihkan untukku. Kecewa? Tentu saja. Putus asa dan rasa ingin menyerah terus melekat. Aku sangat kecewa dengan diriku sendiri. Rasanya sangat sia-sia aku berusaha dan berdoa. Perasaanku bercampur aduk, overthinking, dan menyalahkan diri sendiri. Sempat berfikir mengapa takdir tidak adil, mengapa Tuhan tidak mengizinkanku, mengapa, mengapa, dan mengapa. Iri? Kupikir seperti itu melihat bahwa teman temanku lolos dalam tes dan jalur apapun. Aku merasa tidak berguna, rasanya sangat sakit saat melihat kedua orang tuaku sedih. Aku tahu mereka menyembunyikan kesedihannya untukku. Terlihat jelas dimata mereka. Aku sadar bahwa orang tua mana yang tidak sakit dan sedih disaat melihat anaknya terpuruk. Ikatan batin seorang anak dengan orang tuanya sangat kuat, terutama dengan ibu. Tapi mereka tetap menyemangatiku, memberikanku dukungan, dan mencarikan jalan keluar untuk masalah ini.
Tidak ada yang tau apa yang terjadi esok hari. Ibuku memberitahuku tentang Akademi Keperawatan Polri. Disini aku berpikir keras apakah aku akan berjuang lagi atau tidak karena ini menjurus ke IPA. Iya benar aku adalah alumni anak IPS. Bisakah aku mengikuti pelajarannya, biskah aku memahaminya, dan bisakah aku mempraktikannya. Kurang lebih satu minggu aku memikirkannya. Ayah ibuku menyarankanku untuk menerima. Dan ya, dengan izin allah aku bertekad untuk banting setir dari IPS ke IPA. Entah mengapa semangat ini mulai muncul. Rasa ingin menjadi perawat juga muncul. Alasan aku berjuang lagi karena pilihanku sudah mantap. Selain itu aku teringat adikku.
Boleh aku menceritakan sedikit tentang adikku? Aku akan menceritakannya. Adikku itu sangat lucu dan sangat istimewa bagi keluargaku. Ya benar istimewa dalam artian berkebutuhan khusus. Sebenarnya adikku itu seperti anak anak lainnya. Aku tidak tahu apa istilahnya tetapi aku mengerti pemahamannya. Dulu waktu kecil, adikku sering sekali kejang-kejang. Waktu itu aku tidak tahu apa apa. Ayah ibuku sangat sedih karena melihat anaknya yang masih balita. Apakah kalian tahu, ayah ibuku tidak berhenti mencari tempat agar adikku sembuh. Bertahun-tahun tiada hari tanpa pergi ke rumah sakit. Solo, Jakarta, dan tempat tempat lain sudah pernah dikunjungi oleh adikku. Waktu telah berlalu, hingga aku besar aku sadar bahwa ada perubahan pada adikku. Perkembangannya mulai berubah. Hingga aku tahu bahwa adikku istimewa. Otak kanannya lemah, jadi seperti bagian kiri yang melakukan aktivitas. Makan, menulis, memegang semuanya memakai tangan kiri. Pada umur kurang lebih 5 tahun ke atas perubahan baik pada adikku mulai terlihat. Keluargaku sangat senang, akupun begitu. Dan ya dia memiliki kelebihan menghafal. Dia hafal surat surat pendek. Setiap sepulang sekolah, aku akan mengajarinya belajar. dia sedikit bawel, tapi itu membuatnya lucu. Tepat pada 2021 ini dia berusia 11 tahun. Aku berharap pada Tuhan semoga adikku selalu diberi umur yang panjang, kesehatan, serta keberkaan dia hidup didunia. Aku mengakui bahwa adikku adalah pemberian tuhan yang paling istimewa. Dialah yang nanti akan menjadi jembatan keuda orang tuaku menuju surganya Allah.
Dari pengalamanku memiliki seorang adik istimewa. Aku berfikir tidak ada salahnya aku menjadi perawat. Perawat adalah salah satu pekerjaan yang mulia. Dari situ aku mendaftarkan diri untuk menjadi salah satu anggota keluarga besar Akper Polri. Dan ya hasil bahagia yang aku nantikan pun tiba. Hari dimana aku menjadi seorang mahasiswa. Dimana impianku akan dimulai. Dimana titik wal tangga kesuksesanku di mulai. Disini aku akan belajar dengan rajin, agar aku menjadi perawat yang hebat. Kedua kakekku juga akan bangga karena keinginan mereka mempunyai cucu seorang perawat. Melihat ayah ibuku bahagia adalah menyenangkan dalam artian candu. Aku berharap impianku tercapai yakni menjadi seorang perawat yang penuh kasih sayang. Agar bisa membantu adikku sedikit-sedikit, membantu semua orang dengan iklas, menjadi berguna dan bermanfaat untuk orang lain. Impianku agar segera tercapai. Jika aku lulus, aku bertekat untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang lebih tinggi. Aamiin
Takdir memang lucu dan indah bukan. Disaat kita dalam keadaan susah ingatlah allah yang selalu ada disamping kita setiap saat. Allah tahu mana yang terbaik untuk kita. Pilihan kita belum tentu allah menyukainya, tetapi pilihan allah adalah yang terbaik dan kita pasti menyukainya. Kita harus berjuang, berdoa, dan menanti kapan hari bahagia kita tiba. Tetap bersyukur apapun yang terjadi.
Dalam hidupku, menjadi mata air bagi kehidupan itu adalah niat yang mulia. Kesuksesan adalah hak setiap manusia, namun kesuksesan hanya milik mereka yang mau berusaha dengan tidak pantang menyerah dan tetap berusaha walau seribu kali mengalami kegagalan, karena sejatinya itu adalah gambaran bahwa kesuksesan telah menanti di masa depan.
Terima kasih.






