Berlindung di Balik Puisi

Fiksiana, Hobi, Puisi420 Dilihat

Puisi memanglah ruang paling aman untuk mengumbar luapan berbagai perasaan, juga menjadi tempat merenung paling mengasyikkan. Hanya bermodalkan bahasa simbolik, rangkai kata nan Indah perasaan gundah terkemas menjadi indah.

Tapi sejatinya, puisi adalah ruang sakral tempat melantunkan berbagai imaji, penuh metapora dengan multitafsir, yang tidak mudah difahami. Puisi ditulis penuh Rasa dan pertimbangan akal, agar bisa dirasakan tanpa perlu memaknai.

Memang tidak bisa dipungkiri, lewat puisilah sesuatu bisa disampaikan tanpa menyakiti. Lewat puisilah kata-kata disampaikan untuk menggugah perasaan. Lewat puisi pula pemberontakan bisa disuarakan secara lebih beradab, maka lewat puisi juga para penyair menyuarakan kemarahannya.

Antara puisi dan caci maki hanyalah setipis kulit Ari. Ketajaman puisi bisa lebih tajam dari belati. Puisi bisa melukai tanpa berdarah. Puisi bisa menghujam tanpa rasa perih. Tapi lewat puisilah kita disadarkan, bahwa penyair itu memang ada.

Seorang Jalaludin Rumi bisa membuat orang begitu dekat dengan Tuhan, seperti juga Rabiah Al Adawiyah, yang mampu meluluhkan kesombongan dengan mengenalkan kita kepada keberadaan Tuhan, menjadi serasa dekat Tuhan dengan meniadakan diri.

Lewat puisilah seorang Chairil Anwar menggelorakan semangat juang dan rasa cinta. Begitu WS Rendra, lewat puisilah dia meluapkan kemarahannya terhadap ketidakadilan penguasa, bahkan karena Puisinya dia harus dipenjara.

Puisi itu seperti pisau, bisa disalahgunakan, ditangan pelaknat, maka puisi isinya penuh laknat. Ditangan politisi, isi puisi lain lagi, bisa ditulis sesuka hati, bahkan digunakan untuk mencaci maki lawan politiknya. Ditangan para Ulama, menjadi lantunan penuh doa.

Lewat puisi pulalah Khahlil Gibran menjelaskan bagaimana esensinya seorang anak, yang hanya dititipkan Tuhan kepada orang tuanya, bagai hanya melepas busur panah tanpa perlu mengendalikannya.

Bagi saya puisi adalah media yang paling aman untuk mengungkapkan berbagai perasaan, mulai dari kemarahan, sampai kegundahgulanaan, yang tidak perlu dijelaskan, namun pembaca tertentu mampu menangkap maksudnya.

Lewat puisi pulalah saya membatasi pembaca pikiran saya, biarlah orang-orang yang mempunyai perasaan yang sama mampu membacanya, selebihnya saya tidak terlalu peduli, apa lagi yang bukan penggemar puisi.

Sering kali saya berlindung dibalik puisi untuk mengejewantahkan pemikiran, biarlah kalau dikatakan hanya bicara pada diri sendiri, dari pada nanti menjadi penyakit hati. Padahal ayat-ayat suci itu sendiri dituliskan oleh Sang Maha Penyair, sehingga ketika dilantunkan mampu menitikkan airmata yang mendengarkannya.

Tinggalkan Balasan

4 komentar