
MENULIS DAN MENANGKAP MOMEN
Dulu saat aktif menulis di Kompasiana, saya selalu mencari momentum untuk membuat satu artikel. Ini penting, karena menyangkut tingkat keterbacaan.
Ketrampilan menangkap moment harus dimiliki oleh seorang penulis. Momen ini menyangkut hal-hal yang sedang aktual, sedang menjadi perhatian dan pembicaraan masyarakat.
Saat itu saya tidak peduli apakah tulisan saya akan menjadi Headline di Kompasiana atau tidak, tapi pada kenyataannya artikel seperti itu selalu menjadi Headline.
Hampir mustahil rasanya seorang penulis tidak menginginkan artikelnya dibaca orang banyak, karena pada dasarnya memang seorang menulis artikel di media, agar tulisannya bisa dibaca banyak orang.
Seorang Seno Gumira Adjidarma mengatakan:
“Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia”
Seno dalam hal ini memaknai momen adalah situasi dan kondisi disekitar kita, menghayati situasi dan kondisi tersebut, sehingga mengendap dalam ingatan.
Apa yang dikatakan Seno tentang momen disini hampir sama dengan apa yang saya maksud. Hanya saja kalau momen yang dimaksud Seno adalah investasi jangka panjang, sebagai referensi seorang penulis.
Sementara momen yang saya maksud diatas adalah situasi terkini, yang sedang aktual, untuk kepentingan jangka pendek, agar apa yang dituliskan menjadi aktual.
Momen versi Seno adalah tentang pendalaman terhadap sesuatu yang dialami. Sebagai seorang sastrawan tentu saja mindsetnya akan seperti itu, agar setiap menulis cerita tentang kehidupan hasilnya akan sangat bisa dirasakan oleh pembaca.
Berbeda dengan seorang jurnalis mindsetnya, yang cenderung mencari momen yang aktual, yang memiliki dampak terhadap tingkat keterbacaan, karena value sebuah berita/informasi itu utamanya adalah aktualitas.
Seperti itulah yang saya alami saat masih baru-baru menulis di Kompasiana, selalu melihat momentum untuk dituliskan. Namun lama kelamaan kebiasaan itu semakin berkurang seiring dengan bertambahnya usia.
Saya sangat sadar bahwa menulis itu tidak semata-mata mengejar aktualitas, ada yang lebih penting dari semua itu, yakni bagaimana dengan sebuah tulisan kita mampu mengubah keadaan.
Dan itu sudah saya buktikan, semasa masih tinggal di Asrama Mahasiswa Jambi, saya memiliki kegelisahan tentang situasi dan kondisi Asrama yang saya tempati.
Kebetulan komunitas mahasiswa yang tinggal di Asrama tersebut memilik sebuah media, dan kebetulan juga saya adalah salah satu tim redaksi. Lewat media itulah saya menyentuh hati pemerintah daerah.
Apa yang saya tuliskan di media tersebut dibaca oleh pemerintah daerah. Dampak dari tulisan tersebut Asrama yang kami tempati direnovasi oleh pemerintah daerah Jambi.
Kesuksesan tulisan tersebut juga sangat terkait dengan momentum, seperti itulah takdir sebuah tulisan yang tidak pernah diduga.
Jadi momen dalam pengertian yang sangat luas adalah suatu kesempatan, disamping juga didukung oleh situasi dan kondisi pada saat tulisan tersebut dituangkan.
Banyak hal di dalam menulis yang menjadi faktor pendukung sukses tidaknya sebuah tulisan menemukan takdirnya. Dan semua itu bisa dicapai dengan jam terbang, setelah melalui proses panjang.
Ajinatha







