Menulis dan Mengelola Kegelisahan

Menulis dan Mengelola Kegelisahan

Kegelisahan output-nya bisa negatif, bisa juga positif. Tergantung energi seperti apa yang mendukungnya. Jika di dalam pikiran lebih dominan energi negatif, maka output-nya juga negatif, tapi jika energi positif yang lebih dominan, maka output-nya juga positif.

Banyak karya seniman atau tokoh besar lahir dari kegelisahan terhadap keadaan dan lingkungan, dan kegelisahan itu ada yang dituangkan dalam sebuah lukisan, syair atau juga berbentuk tulisan yang dibukukan dan pada akhirnya menjadi karya Best Seller.

Yang seperti ini output-nya positif, karena pikirannya lebih didominasi energi positif, yang dimenej sedemikian rupa sehingga membuahkan sesuatu yang positif.

Penyaluran kegelisahan tersebut pada tempatnya, yang penyalurannya tidak pada tempatnya, biasanya tidak akan menghasilkan apa-apa, bahkan mungkin hanya melahirkan kerusakan, utamanya adalah kerusakan pikiran sendiri.

Bersyukurlah Anda yang memiliki kegelisahan terhadap keadaan sekitarnya, itu berarti Anda masih punya Sense of belonging. Biar bagaimana pun kegelisahan itu harus disalurkan pada tempat yang seharusnya. Namun ketika kegelisahan tersebut tidak tersalurkan, maka berakibat pada hati.

Hampir rerata artikel politik yang saya tuliskan lahir dari kegelisahan terhadap keadaan. Ada ‘greget’ saat menuliskannya, karena buah kegelisahan tersebut sangat nyantol dipikirkan, sehingga saat dituangkan mengalir begitu saja.

Dua buah buku Antologi Puisi Politik saya, Bait-bait Konstelasi 1 dan 2 lahir atas kegelisahan terhadap situasi politik. Puisi-puisi tersebut saat diposting di Kompasiana, hampir rerata masuk kategori Artikel Utama.

Mungkin kegelisahan tersebut kalau saya tumpahkan di laman Facebook, bisa jadi akan menghasilkan narasi negatif, tapi ketika dituangkan menjadi karya puisi, maka dia menjadi ungkapan simbolis nan filosofis, sehingga mengena di hati pembacanya.

Kegelisahan itu harus dikelola oleh energi positif, dengan demikian akan membuahkan inspirasi bagi pembacanya, bahkan berdampak positif bagi pembaca. Salah mengelola kegelisahan maka yang terjadi amuk dan amarah yang tidak terkontrol, pada akhirnya hanya menjadi hate speech.

Begitu juga kata-kata bijak yang terlahir dari kegelisahan pikiran pencetusnya, buah dari pengalaman dan perjalanan hidup yang menjadi endapan perasaan, sehingga menjadi motivasi positif bagi yang membacanya.

Saya teringat sebuah kata-kata bijak yang cukup menggugah dan memotivasi, yang isinya kurang lebih begini;

“Anda tidak pernah tahu tulisan Anda menjadi tren, meningkatkan pendapatan seseorang, merekonstruksi sejarah politik bangsa-bangsa, menciptakan tuntutan atas hal-hal yang tidak pernah Anda bayangkan atau membantu banyak orang dari pengalaman Anda bersama.”

Mungkin Anda tidak membayangkan sebelumnya, bahwa kegelisahan yang Anda ungkapkan lewat tulisan sebegitu besar pengaruhnya. Kita tidak pernah tahu seberapa banyak tulisan yang kita posting dibagikan kebanyak orang, dan dibaca banyak orang, dan setiap pembaca mempunyai respon yang berbeda.

Itulah dampaknya tulisan yang mampu menginspirasi pembaca, tulisan seperti itu akan diingat, begitu juga dengan nama sipenulisnya. Saya mengalami itu, saat browsing nama lengkap saya yang muncul berbagai artikel yang pernah saya posting, bahkan diantaranya pun artikel yang dibagikan oleh media yang tidak saya kenal.

Semua itu adalah dampak dari mengelola kegelisahan secara positif, yang nilai manfaatnya tidak bisa diukur dengan uang. Semakin memberikan dampak positif bagi orang lain, maka semakin besar pula manfaat amal yang bisa kita terima.

Ajinatha

Tinggalkan Balasan