
Artikel ke 39
Membangun Kepercayaan Diri
Membandingkan diri sendiri dengan penulis lain bukanlah cara untuk memotivasi diri, karena ketika Anda merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan penulis lain, maka Anda akan kehilangan motivasi dan kepercayaan diri.
Membaca karya orang lain bukanlah untuk membandingkannya dengan karya sendiri, tapi lebih untuk introspeksi diri dan tahu dimana kelemahan sendiri, juga kelebihan orang lain. Tujuannya untuk mengambil sebuah pelajaran, dan memperbaiki kesalahan.
Membaca karya tulis milik orang lain atau idola Anda memang akan membantu mendorong semangat menulis, mendapatkan ide atau inspirasi dan memperkaya perbendaharaan kata ketika menulis. Singkatnya, untuk menimba ilmu pada orang lain.
Membangun kepercayaan diri itu bisa dimulai dari menghargai apa yang sudah dicapai. Dan itu manifestasi dari mensyukuri nikmat Tuhan yang sudah diterima. Membandingkan diri dengan orang lain itu pun kalau harus dilakukan, motivasinya adalah untuk meningkatkan kepercayaan diri.
Tapi, jangan pernah membandingkan hasil karya tulis diri sendiri dengan orang lain maupun penulis yang sudah handal. Sibuk membandingkan kualitas dan pencapaian Anda sebagai penulis dengan penulis lainnya, yang justru akan menurunkan motivasi menulis kalau tidak siap secara mental.
Anda akan meragukan kemampuan diri untuk menulis dan kualitas tulisan Anda. Padahal, setiap penulis pasti memiliki gaya penulisan dan ciri khas yang berbeda-beda. Di sisi lain, sadarlah bahwa tidak ada penulis yang sukses tanpa melalui kegagalan terlebih dahulu.
Dari artikel-artikel sebelumnya sudah banyak dibahas tentang hal ini, kalau pun ini sebuah pengulangan tujuannya untuk mengingatkan kembali. Motivasi terkuat bagi seorang penulis, dia harus merasa memiliki kelebihan yang tidak dimiliki penulis lain. Dan kelebihan itu hanya Anda yang tahu.
Berhentilah melakukan hal-hal yang akan menurunkan motivasi Anda menulis. Secara negatif, perbuatan itu akan berdampak pada menurunnya motivasi menulis. Namun, secara positif jika disikapi dengan baik akan menimbulkan kepercayaan diri.
“Tegas dan keras adalah sikap positif yang sangat diperlukan oleh setiap orang yang mau berhasil, terutama tegas dan keras pada kelemahan dan kemanjaan diri sendiri.” – Andrie Wongso
Tegas dan keras terhadap diri sendiri adalah cara memerangi kelemahan diri sendiri, untuk membangun kepercayaan diri. Inilah bagian dari perang melawan diri sendiri. Kalau lemah terhadap diri sendiri, maka akan lemah juga terhadap orang lain.
Rata-rata orang yang sukses itu karena dia mampu mengalahkan dirinya sendiri, bukanlah karena mengalahkan orang lain. Kalau pun dalam kompetisi kita harus menjadi pemenang, tentunya bukanlah karena ada yang dikalahkan.
Untuk menjadi seorang penulis yang tangguh, Anda harus penuh kepercayaan diri, dan dengan kerendahan hati mau memperbaiki kesalahan sendiri. Tanpa itu semua, Anda akan mudah lemah dan dilemahkan oleh keadaan.
Seorang pemenang bukanlah karena dia mengalahkan lawannya, tapi, karena dia berhasil menaklukkan dirinya sendiri, berhasil memperbaiki segala kekurangan yang dimilikinya dan memiliki motivasi yang kuat untuk meraih sebuah kesuksesan.
“Kata-kata manis memang menyenangkan untuk didengar, namun seringkali menyesatkan dan menjerumuskan. Kata-kata pahit berupa teguran, kritikan atau peringatan, seringkali membuat telinga menjadi merah dan panas, namun amat diperlukan untuk mengobati batin yang sakit.”







