Pentingnya Mengeksplorasi Emosi

Artikel ke 24
Pentingnya Mengeksplorasi Emosi

Dalam menulis kreatif pengungkapan emosi adalah suatu hal yang juga sangat penting, terutama dalam mengeksplorasi emosi untuk mendapatkan sebuah situasi dan suasana yang tepat. Eksplorasi emosi ini haruslah pas dan tepat, karena pengungkapan emosi ini adalah bagian dari komunikasi yang tidak saja verbal, tapi juga dibutuhkan ekspresi dan reaksi fisik yang estetik.

Pengungkapan emosi adalah bentuk komunikasi melalui perubahan raut wajah dan gerakan tubuh yang menyertai emosi. Pengungkapan emosi ini juga merupakan upaya mengkomunikasikan perasaan seseorang ketika marah, sedih maupun senang.

Tapi, penulis harus menggunakan kata yang lebih menarik untuk mengungkapkan emosi seseorang ketika menulis kreatif. Penulis bisa menggunakan cara yang berbeda, seperti melalui tindakan dan dialog.

Mengeksplorasi emosi ini tidak saja dibutuhkan dalam menulis kreatif, dalam menulis yang lainnya juga dibutuhkan pengungkapan yang tepat, seperti misalnya dalam menulis Opini. Ketika kita tidak mampu mengontrol emosi, maka opini yang dihasilkan pun tidak lagi objektif.

Secara kebutuhan memang beda, kalau didalam menulis kreatif pengungkapan emosi lebih untuk membangun situasi dalam cerita, sementara dalam menulis opini kadangkala emosi yang diungkapkan cenderung memprovokasi pembaca. Jadi perbedaannya cukup jelas.

Mengeksplorasi emosi dalam menulis kreatif diekspresikan lewat kata-kata, namun frasa dan diksi yang dipilihpun haruslah yang tepat dan bagus, sehingga memperindah kata-kata yang disajikan. Kemampuan mengeksplorasi ekspresi tokoh yang ada dalam cerita pun sangat dibutuhkan.

Aktivitas menulis kreatif pada dasarnya sama, dari semua tips yang diberikan bermuara pada kemampuan menarasikan frasa dan diksi secara tepat dan baik. Tujuan akhirnya tetap saja untuk melahirkan keindahan dalam pengungkapannya. Begitu juga dalam hal mengungkapkan emosi.

Janice Hardy, seorang novelis amerika, menulis ini untuk romanceuniversity.org.,

Emosi penting untuk membuat karakter terasa nyata. namun, mendeskripsikan mereka dari kejauhan terkadang membuat pembaca merasa “terputus” dari karakter tersebut. deskripsinya tidak terasa seperti perasaan karakter, tetapi seperti penulis memberi tahu pembaca bagaimana perasaan si karakter.

Jika kita menggunakan sudut pandang orang ketiga serbatahu, mungkin tidak akan terlalu terasa. namun, bagaimana jika kita menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas atau sudut pandang orang pertama? kita bisa saja kehilangan hubungan emosi dengan pembaca.

contoh:

“aku menyeka keringat dari alisku dengan tangan gemetar, sisa ketakutan dari pengalaman-hampir-mati-barusan mengalir lewat pembuluh darahku.”

Apakah kamu merasakan ketakutannya? barangkali tidak, karena si tokohnya pun sepertinya tidak merasakannya. orang-orang yang sedang ketakutan tidak akan berpikir tentang apa yang mengalir di pembuluh darah mereka atau kenapa ia mengalir. Mereka hanya merasakan dan bereaksi.

“dengan tubuh bergetar, aku beringsut ke bangku terdekat dan duduk sebelum terjatuh. keringat menyengat mataku dan aku menyeka wajah dengan bajuku. hampir saja. seandainya saja aku tidak lari barusan… aku bergidik.”

Kalimat kedua menunjukkan bagaimana perasaan si narator, apa yang sedang dipikirkannya ketika ketika dia merasakan itu, bagaimana tubuhnya bereaksi tanpa membuat dia terlihat sadar akan hal itu. Perasaan itu keluar dari dalam dirinya, bukan ke dalam dirinya. kita tidak perlu menjelaskan bahwa dia baru saja mengalami kejadian-hampir-mati, karena kita telah memberikan cukup petunjuk. jadi, pembaca bisa dengan mudah menduga apa yang terjadi.

Contoh diatas memperlihatkan seperti apa mengeksplorasi emosi dengan memanfaatkan narasi, begitu pemilihan narasi tidak tepat, maka emosi yang ingin kita tuangkan malah tidak sampai. Tapi sebaliknya, ketika narasi yang digunakan pas, maka apa yang ingin dicapai oleh seorang penulis, emosinya sampai pada pembaca.

Tinggalkan Balasan