Dalam kancah literasi nasional, kehadiran YPTD memang baru genap setahun tepat pada tanggal 19 Agustus 2021 ini. Namun jejak literasi dan manfaatnya bisa kita rasakan bukan hanya di tingkat lokal (Jakarta) dan tingkat nasional, tapi juga hingga international (mendunia).
Apa buktinya hingga mendunia? hal itu terbukti dengan info kolom jejak literasi digital pembaca artikel di laman https://terbitin.id, banyak pengunjung yang berasal dari luar negeri. Pada kolom visitors dan gambar bendera negara tersebut kita bisa melihat seberapa banyak pengungung yang telah membuka atau membaca website tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun penulis pada Sabtu, 14 Agustus 2021 (pukul 14.00 WIB) jumlah visitor dalam setahun ini dari Amerika sebanyak 2.514 visitor, Italia sebanyak 571 visitor, Malaysia sebanyak 142 visitor, Singapura sebanyak 99 visitor, Canada sebanyak 62 visitor, Denmark sebanyak 61 visitor, China sebanyak 60 visitor, Rusia sebanyak 28 visitor, dan Australia sebanyak 26 visitor. Sedangkan pembaca tanah air Indonesia sebanyak 49.211, dengan total pengunjung hari ini mencapai 211.455.
Adapun untuk informasi users today hari ini Sabtu, 14 Agustus 2021 pada pukul 21.20 WIB terdata sebanyak 738, users yesterday sebanyak 1007, this month sebanyak 14.379, this year sebanyak 163.556. Sedangkan total users mencapai 211.416, views today sebanyak 4.601 dan total views mencapai 3.729.541.
Dari data visitors jumlah dari Amerika terbanyak dibanding negara-negara lainnya selain Indonesia. Jika jumlah 2.514 dibagi 12 bulan rata-rata pengunjungnya sekitar 209 per bulannya. Sedangkan di Indonesia dari 49.211 pengunjung pertahun, jika dirata-rata pembaca sekitar 4.100 tiap bulannya, jumlah yang fantastis untuk website YPTD yang baru setahun.
Kontribusi, Pak Thamrin, sebagai perintis YPTD perlu kita acungi jempol. Karya artikel beliau sudah ratusan bahkan ribuan yang dimuat di kompasiana. Sejarah berdirinya YPTD pada tanggal 19 Agustus 2020 di komplek perumahan BHP Jakarta, telah dihiasi dengan terbitnya 10 buku dari para penulis yang terdiri dari dosen, pengusaha, karyawan dan jurnalis.
Jejak literasi YPTD selanjutnya, tepat pada Rabu 16 September 2020, H. Thamrin bersama Uda Dian Kelana dan Sohib Taufikuiek telah berhasil pula menuntaskan tugas mencetak buku berjudul, “Jejak Langkah Baitullah dan buku Mengapa Orang Arab Tidak Suka Sendok.”
Tujuan mulia YPTD tersebut tidak lain adalah agar dapat berperan serta meningkatkan kualitas dan kuantitas literasi di Indonesia. YPTD fokus membantu para penulis untuk menerbitkan Buku ber-ISBN (International Standard Book Number) dengan motto ‘bayar seikhlasnya.’
Jarum jam terus berputar, lembaran bulan pun terlewati, tak terasa jejak literasi YPTD sudah hampir 1 tahun.
Dalam rangka HUT 1 YPTD, diadakanlah sayembara menulis bertema, “Anev YPTD dan Sumbang Saran Peningkatan Layanan Menerbitkan Buku Ber ISBN dalam Upaya Menggelorakan Literasi Indonesia.” Kegiatan istimewa itu sebagai bentuk peran dan konkrit nyata YPTD dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas literasi di Indonesia.
Dengan motto “bayar seikhlasnya,” hingga kini YPTD telah berhasil menerbitkan sekitar 233 judul buku ber-ISBN dan sebagian besar sudah diserahkan ke Perpustakaan Nasional. Penulis buku YPTD berasal dari berbagai daerah di tanah air mulai dari Pulau Sumatera, Banten, Tangerang, Jakarta, Pulau Jawa hingga Kupang NTT.
Sebagaimana kita ketahui, konteks buku ber-ISBN ada 2 jenis yakni pertama ISBN untuk buku cetak dan E-ISBN untuk buku digital. Dalam konteks serah simpan karya cetak dan karya rekam untuk buku cetak dapat menyerahkan langsung melalui ekspedisi ke Direktorat Deposit dan Pengembangan Bahan Perpustakaan. Sedangkan untuk buku digital, jurnal, majalah, musik, dan peta dalam bentuk digital dapat menyerahkan langsung melalui portal edeposit.perpusnas.go.id.
Sejarah membuktikan, media literasi di zaman teknologi saat ini sudah bergeser, dari yang menggunakan serba kertas menjadi serba teknologi atau yang dikenal dengan literasi digital. Revolusi literasi digital tersebut merupakan perubahan dari teknologi mekanik dan elektronik analog ke teknologi digital yang terjadi sejak tahun 1980 dan berlanjut sampai hari ini.
Untuk buku cetak ber-ISBN, YPTD bisa dikatakan telah berhasil, namun untuk buku digital/berjenis E-ISBN belum. Oleh karena itu, penulis sangat berharap ke depannya YPTD juga bisa mengembangkan buku digital tersebut karena hal tersebut diyakini bisa lebih menghemat ongkos produksi penerbitan dan memudahkan masyarakat di seluruh penjuru tanah air hingga dunia untuk mengonsumsi karya-karya penulisnya.
Selamat HUT YPTD 1, semoga jejak literasimu bisa terus mewarnai dunia dengan karya-karya penulis hebatmu. Salam literasi!



