
Pemerintah Indonesia diminta agar tidak terburu-buru melakukan vaksinasi Covid-19 pada bulan November ini di tengah ketidakpastian efektivitas dan keamanan vaksin tersebut. Untuk mengatasi perkembangan kasus pandemi tersebut pemerintah telah berupaya berbagai cara tuk mengatasinya, termasuk rencana memberikan vaksin wajib kepada masyarakat secara bertahap. Namun hal ini justru menimbulkan kontroversi di tengah-tengah masyarakat, baik masyarakat desa maupun perkotaan.
Berbagai negara pun berlomba-lomba untuk menemukan vaksin virus Corona. Bahkan beberapa negara sudah ada yang mulai melakukan uji coba vaksin kepada manusia. Proses pembuatan vaksin ini memang tidak sebentar, sebab risiko kegagalan bisa saja terjadi karena kurangnya perhitungan dalam melakukan uji coba. Namun semua ini dilakukan demi kepentingan kesehatan masyarakat dunia, agar pandemi virus Corona bisa segera berakhir. Tujuh negara pun berlomba-lomba untuk membuat vaksin covid-19 seperti Amerika (mRNA-1273), China (Sinovac, CanSiono, Sinopharm), Inggris (Remdesivir), Jerman (Pfizer, BNT 162), Rusia (Sputnik-V) dan Australia (Invermectin) dan India (Covivor). Namun, dari 7 negara itu pemerintah Indonesia hanya memilih vaksin dari China?
Sebagaimana dikutip laman bbc.com, Kementerian Kesehatan menargetkan penyuntikan pertama vaksin Covid-19 akan dilakukan akhir November ini, setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Majelis Ulama Indonesia (MUI) beserta Kementerian Agama memastikan keamanan dan kehalalan vaksin buatan China tersebut.
Menurut Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Achmad Yurianto, baru-baru ini, tim dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Kementerian Agama telah berangkat ke China. Mereka melakukan perjalanan ke China untuk melakukan inspeksi terhadap tiga produsen vaksin yakni CanSino, Sinovac, dan Sinopharm. Tujuannya untuk mendapatkan data hasil uji klinis fase tiga yang dilakukan di sejumlah negara seperti di Turki, Kanada, dan Uni Emirat Arab.
Meski demikian ternyata tidak semua masyarakat menyetujui adanya suntik vaksin tersebut. Mulai dari apa kandungan di dalamnya? apa efeknya dalam jangka pendek/jangka panjang? Serta halal atau tidak bahan-bahan pembuatnya?
Terkait kontroversi tersebut, Kementerian Kesehatan dan Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), telah bekerjasama dengan WHO dan UNICEF telah menyelenggarakan survei tentang penerimaan vaksin Covid-19. Survei dilakukan secara daring pada 19 – 30 September 2020, mengambil 115.000 responden dari 34 provinsi.
Menurut hasil survei tersebut, sekitar 65% responden bersedia menerima vaksin Covid-19 jika disediakan pemerintah, sedangkan 8% diantaranya menolak. 27% sisanya menyatakan ragu dengan rencana Pemerintah untuk mendistribusikan vaksin Covid-19. Memang mayoritas responden menyatakan bersedia mengikuti vaksinasi covid 19, namun perlu juga menyimak apa alasan 8% dari kelompok responden yang menolak vaksinasi.
Responden yang menolak mengungkapkan kekhawatiran terhadap keamanan dan keefektifan vaksin, menyatakan ketidakpercayaan terhadap vaksin, dan mempersoalkan kehalalan vaksin.
Jika masih banyak terjadi kontroversi demikian, sebaiknya Pemerintah dan Kemenkes lebih gencar dan proaktif melakukan kegiatan persuasif (sosialisasi) kepada masyarakat bahwa kehadiran vaksin covid-19 memang sangat dibutuhkan, juga perlu dijelaskan dari segi kandungannya halal, tidak memiliki efek samping yang membahayakan dan efektif untuk mengatasi virus corona. Apalagi ada banyak informasi berita di Televisi baik terjadi di Indonesia maupun di luar negeri yang memberitakan pasien setelah divaksin covid malah justru tambah sakit bahkan ada yang meninggal dunia. Hal ini makin menambah kekhawatiran masyarakat terhadap efek dari vaksin-vaksin tersebut.
Sebagian tokoh pun berharap pemerintah tidak perlu memaksakan melakukan vaksin kepada masyarakat seperti yang dilakukan Amerika Serikat (AS), Brazil dan negara-negara lainnya, biarkan masyarakat sendiri yang memilih? Sebab masyarakat Indonesia berasal dari berbagai macam latar belakang, adat dan budaya. Ada sebagian masyarakat indonesia yang memang anti obat-obatan kimia, dan sudah terbiasa mengonsumsi ramuan tradisional seperti empon-empon dan produk herbal lainnya untuk meningkatkan imunitasi tubuhnya serta untuk mengatasi berbagai penyakit, termasuk virus corona ini. Meski demikian, selanjutnya pilihan ada ditangan Anda apakah siap divaksin covid-19 atau kah tidak bersedia?








