11 Ramadhan 1447 H membawa ingatanku kembali ke tanggal yang sama setahun lalu, 11 Ramadhan 1446 H.
Hari itu bukan hari Ramadhan yang biasa bagi saya.
Saya datang ke rumah sakit dengan keluhan yang awalnya saya kira ringan. Namun setelah pemeriksaan pencitraan, dokter menjelaskan terdapat gambaran massa pada bagian frontal kiri kepala. Sejak saat itu, arah hidup saya berubah. Percakapan yang biasanya seputar pekerjaan dan keluarga berganti menjadi diskusi tentang diagnosis, risiko neurologis, dan rencana tindakan operasi.
Saya diperkenalkan dengan satu kata yang terasa sangat besar: kraniotomi — operasi membuka tulang kepala untuk menangani kelainan di dalam otak.
Sejak hari tersebut, aktivitas Ramadhan saya tidak lagi mengikuti jadwal imsakiyah, tetapi mengikuti jadwal medis: pemeriksaan laboratorium, CT-scan lanjutan, konsultasi bedah saraf, dan evaluasi anestesi. Saya menjalani perawatan dan berbagai prosedur pra-operasi.
Pada masa itu dokter menyarankan saya tidak berpuasa.
Tubuh harus dalam kondisi stabil, kebutuhan cairan harus terpenuhi, dan obat harus diminum teratur untuk menghindari risiko selama operasi. Keputusan itu terasa berat, karena untuk pertama kalinya saya tidak menjalani puasa Ramadhan bukan karena pilihan pribadi, melainkan karena kondisi kesehatan.
Saya menyadari bahwa syariat memberikan keringanan bagi orang sakit, tetapi secara emosional tetap tidak mudah. Setiap adzan maghrib terdengar, saya tidak berbuka karena lapar, melainkan karena harus minum obat. Waktu sahur tidak lagi saya tunggu, karena malam sering diisi dengan observasi perawat, pengukuran tanda vital, dan pikiran tentang operasi yang semakin dekat.
Di ruang perawatan, saya belajar melihat Ramadhan dari sudut yang berbeda.
Saya tidak berada di masjid untuk tarawih, melainkan di tempat tidur pasien dengan gelang identitas di pergelangan tangan. Saya tidak membaca Al-Qur’an selama berjam-jam, tetapi lebih sering berdoa singkat berulang-ulang.
Yang paling sulit ternyata bukan rasa nyeri fisik, tetapi ketidakpastian.
Saya memikirkan kemungkinan setelah operasi: apakah fungsi tubuh akan kembali normal, apakah akan ada gangguan bicara atau gerak, bahkan apakah saya masih diberi kesempatan hidup.
Dalam kondisi itu saya memahami bahwa menjadi pasien berarti menyerahkan sebagian kendali hidup kepada orang lain — kepada dokter, perawat, dan pada akhirnya kepada Tuhan. Saya mulai mengerti makna tawakkal secara nyata, bukan sekadar konsep yang diucapkan.
Ramadhan tahun itu mengajarkan saya bahwa ibadah tidak selalu berbentuk aktivitas fisik. Ketika seseorang sakit, menjaga diri agar dapat menjalani pengobatan juga merupakan bagian dari ketaatan. Tidak berpuasa saat sakit bukanlah kegagalan beribadah, tetapi bentuk mengikuti ketentuan yang memang diberikan untuk menjaga kehidupan.
Kini, setahun setelahnya, setiap 11 Ramadhan menjadi pengingat bagi saya.
Saya pernah menjalani Ramadhan tanpa puasa, tetapi penuh harap. Saya belajar bahwa kesehatan adalah nikmat yang sering tidak disadari, dan kesempatan beribadah dalam keadaan sehat adalah karunia besar.
Pengalaman sebagai pasien membuat saya memahami bahwa di balik setiap diagnosis terdapat manusia yang sedang berjuang — bukan hanya melawan penyakit, tetapi juga menghadapi rasa takut, ketidakpastian, dan harapan untuk sembuh.
Ramadhan itu tidak saya jalani dengan berdiri lama dalam shalat,
melainkan dengan menunggu, berdoa, dan menerima.
Dan justru dari tempat tidur pasien itulah saya belajar:
kadang kesembuhan dimulai dari hati yang mampu berserah.




