Coretan Tanpa Bekas
Sedikit Napak Tilas di Kota Sejarah
Oleh: Arfianto Wisnugroho
Musik yang dapat membuat kuping terasa budeg, mungkin lebih dari 80 dB. Paling tidak kuping pendengarnya menjadi pekak. Aksesoris yang terkadang berlebihan membuat penumpangnya tidak nyaman. Warna secara keseluruhan terkadang terlihat norak. Sama sekali tidak nyaman di mata. Seperti itulah suasana naik angkutan umum di kota ini. Kota kecil di salah satu daerah timur Indonesia. Paling tidak itu adalah pengalaman pertama mas Nyentrik saat naik angkutan umum disana. Meski demikian, rasa nyaman akhirnya ia dapatkan setelah sekitar satu minggu tinggal di kota itu. Apalagi musik yang diputar sesuai dengan suasana hati. Demikianlah sedikit gambaran tentang angkutan umum di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kota Ende memberikan banyak kenangan pada mas Nyentrik. Jika dilihat lebih jauh, Ende merupakan kota sejarah. Pada tahun 14 Januari 1934 presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno atau biasa disebut Bung Karno diasingkan di kota itu. Disanalah ide tentang Pancasila terlahir. Yaitu ketika Bung Karno berada dibawah pohon sukun di taman kota. Tidak ingin melewatkan kesempatan begitu saja, mas Nyentrik berkunjung ke taman kota Ende. Disanalah pohon sukun yang dimaksud berada. Mas Nyentrik sengaja duduk dibawah pohon sukun. Merasakan sensasi yang mungkin muncul, berharap ada hal yang istimewa. Ia menutup mata, bernafas dalam lalu melepaskan perlahan. Membayangkan kalau salah satu orang yang dikaguminya muncul.
Sesaat kemudian mas Nyentrik membuka mata, ia melihat sosok Bung Karno dihadapannya. Terlihat Bung Karno berdiri tegap dan menatap lurus kedepan.
“Wow.. ucap mas Nyentrik dengan rasa bangga..!”
Mas Nyentrik langsung menghampiri Bung Karno, berharap dapat mengajukan beberapa pertanyaan secara langsung. Tapi mas Nyentrik sadar kalau itu bukanlah Bung Karno asli, melainkan sebuah situs yang berada di tengah taman. Sehingga mas Nyentrik hanya berdiri di depan situs, tersenyum lalu mengitarinya. Ia Pun menirukan gaya Bung Karno seperti pada situs, mengucapkan salah satu quote yang sangat popular dari Bung Karno.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarah. Jangan sekali kali melupakan sejarah.” Ucap mas Nyentrik dengan mencoba menirukan suara Bung Karno.
Sejajar dengan posisi situs, mas Nyentrik melihat lapangan Perse yang saat itu sangat ramai. Benar sekali, ternyata sedang ada pertandingan sepak bola disana. Lapangan Perse merupakan tempat favorit bagi para pecinta olahraga. Tentu saja demikian, di lapangan itulah masyarakat sering melakukan berbagai kegiatan yang melibatkan ribuan orang. Mas Nyentrik mengintip sejenak pertandingan tersebut, hingga akhirnya ia bermaksud meninggalkan lapangan beserta taman kota. Ia bermaksud untuk berkunjung ke rumah pengasingan Bung Karno. Namun sebelum berangkat, mas Nyentrik mampir di pinggir pohon sukun. Disana ia memperhatikan sebuah tulisan, “Dikota ini kutemukan lima butir mutiara. Dibawah pohon sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila.” Hingga akhirnya ia beranjak menuju rumah pengasingan.
Perlu waktu sekitar 30 menit bagi mas Nyentrik untuk sampai ke rumah pengasingan dari taman kota. Sebenarnya waktu tempuh bisa dilakukan kurang dari 10 menit. Tetapi hari itu mas Nyentrik ingin menikmati suasana dengan berjalan kaki. Sampai di rumah pengasingan mas Nyentrik berhenti lalu melihat rumah dari ujung kiri sampai ujung kanan. Rumah itu terawat, lingkungan disekitarnya juga bersih dan rapi.
“Sama seperti tahun lalu,” Ucap mas Nyentrik dalam hati.
Sebenarnya itu adalah kali kedua mas Nyentrik berkunjung. Sehingga ia sudah mengetahui harus mulai kunjungan dari arah mana. Bahkan ia juga sudah hafal berbagai barang yang ada di dalam. Kunjungan mas Nyentrik kali ini adalah untuk mengenang suatu sejarah. Mengenang bahwa dulu pernah diasingkan sang pahlawan proklamator di suatu kota kecil. Mengenang suatu peristiwa yang memberikan penjelasan bahwa perjalanan menuju kemerdekaan sangat berat. Sampai-sampai sang proklamator harus dibatasi geraknya untuk bersosialisasi dengan masyarakat kala itu. Yang pasti kita hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya jika kita dalam keadaan seperti itu.
Mungkin imajinasi kita belum tentu dapat menggambarkan suasana yang dialami sang pahlawan proklamator. Namun tidak salah jika kita sebagai generasi penerus mencoba menyelami akan sejarah. Mencari tahu dan merasakan agar mengetahui dengan sadar bahwa yang kita rasakan saat ini tidak terlepas dari perjuangan pahlawan di masa lalu. Sehingga kita akan terus bersyukur, berjuang sekuat tenaga. Mengisi hari-hari dengan hal positif yang dapat memberikan sumbangan untuk negara. Jika tidak sekarang, mungkin besok juga akan ada dampak dari yang kita lakukan.
“Pokoknya Merdeka….!” Ucap mas Nyentrik secara tiba-tiba sehingga ia sadar kalau dari tadi sedang melamun.
“Lho… kok aku gak main tik-tok, facebook, atau instagram saja ya? sok-sok-an mau membangun negara.” Imbuh mas Nyentrik sambil melangkah masuk ke rumah pengasingan Bung Karno.







