Coretan Tanpa Bekas
Hanya Keadaan
Oleh: Arfianto Wisnugroho
Mobil itu melaju kencang sehingga 100 m bukanlah jarak yang tidak mungkin dicapai dalam hitungan detik. Alan dan Hida yang berada di jarak itu tidak mampu mengelak. Mobil tidak mampu melakukan pengereman dengan sempurna. Sehingga bumper depan mobil menyenggol sepeda motor mereka. Meski tidak menabrak, kerusakan sepeda motor cukup parah. As roda kendaraan patah, body bagian kanan maupun kiri pecah. Tentu saja hal tersebut terjadi, setelah mobil menyenggol bagian ekor kendaraan. Itu keadaan terakhir yang mereka berdua lihat, sehingga tidak tahu keadaan secara utuh. Mereka berdua sudah berada di rumah sakit saat bangun. Sedangkan kendaraan mereka berdua berada di kantor polisi.
“Terus bagaimana dengan mobil dan pengendaranya?” Tanya mas Nyentrik.
“Kurang tahu mas!” Jawab Bu Ida sambil merapikan selimut di tempat tidur sebelah Hida.

Ruangan itu terdiri dari tiga tempat tidur pasien. Hanya dua tempat tidur yang terpakai, satu untuk Hida dan satu lagi untuk kakak mas Nyentrik. Terlihat Hida berbaring di tempat tidur sambil memainkan smartphone dengan satu tangan. Tangan satu lagi bengkak sehingga tidak bisa digerakkan. Kalau dilihat sekilas luka yang ada di tubuhnya tidak terlalu banyak. Selain tangan, bibir bawah juga bengkak dengan sebagian pipi kanan terdapat goresan. Meski demikian ia masih terlihat sehat untuk melakukan aktivitas.
Sesaat kemudian seorang wanita datang membawa berkas terkait administrasi rumah sakit. Wanita tersebut menjelaskan pembiayaan rumah sakit. Ada kemungkinan mereka tidak dapat mengklaim asuransi. Sehingga rumah sakit akan menghitung pembiayaan Hida selama disana sebagai pasien umum. Bu Ida terdiam, ia hanya bisa menunggu ayah Hida yang masih dalam perjalanan, berharap ada keajaiban datang untuk mengatasi masalah mereka.
“Tok, tok, tok.. !” Terdengar suara pintu diketuk. Seorang pemuda datang dengan langkah pelan. Beberapa jari kakinya memiliki perban Tangan kirinya penuh dengan balutan kain kasa dengan papan yang menempel. Beberapa luka gores juga terdapat di beberapa bagian tangan dan kaki. Bibirnya bengkak dengan sedikit kain menempel di bagian atas. Ia datang sambil melihat langsung kepada Hida yang masih berbaring. Seorang perempuan mengikuti di belakang sambil memegang infus pemuda tersebut. Bu Ida mempersilahkan mereka berdua duduk.
“Oh.. pasti pemuda ini yang bernama Alan.” Gumam mas Nyentrik sambil tersenyum pada mereka berdua.
Terlihat pemuda tersebut mengalami kesulitan untuk duduk. Dengan bahasa yang lembut Alan memulai pembicaraan. Mas Nyentrik tidak sengaja mendengar pembicaraan tersebut. Tentu saja hal tersebut terjadi, mereka tidak menganggap pembicaraan tersebut adalah sesuatu yang rahasia. Dari cerita Alan, ia mendapat beberapa patah tulang pada tangannya. Dari cerita Alan, mobil yang menyenggol mereka ternyata kabur. Sedang saat kecelakaan tersebut terjadi tidak ada saksi mata yang melihat kejadian. Alan menyampaikan jika kemungkinan tidak dapat mengklaim asuransi, ia akan pergi ke tempat pengobatan tradisional. Ia yakin kalau patah tulangnya akan sembuh disana.
Bu Ida yang mendengar rencana Alan memberikan pendapat untuk jangan terburu-buru bertindak. Menurutnya akan lebih baik jika menunggu ayah Hida yang sedang mengurus klaim asuransi mereka. Mereka semua terdiam, mata mereka memancarkan tatapan penuh harap. Suasana hening hingga ada seorang laki-laki dengan setelah baju kaos dan celana jeans masuk keruangan. Dengan tegas laki-laki tersebut mengucapkan salam. Seketika sebuah harapan terbesit di wajah mereka. bersama dengan dua pria lainnya laki-laki tersebut menyalami semua orang. Sambil memelik Hida laki-laki tersebut berkata, “Senyum dong sama Ayah.”
Melihat kedatangan tiga laki-laki mas Nyentrik memberikan kursinya pada salah satu dari mereka. Setelah semua terkondisikan, ayah Hida menyampaikan bahwa semua hal terkait asuransi telah ia urus. Namun belum ada kepastian akan keberhasilan klaim tersebut. Untuk menguatkan hati semua yang ada, ayah Hida menyampaikan bahwa ada orang yang mungkin dapat membantu. Orang tersebut juga sudah menyampaikan akan berusaha semaksimal mungkin agar klaim asuransi mereka berhasil.
Tidak sengaja mas Nyentrik menjatuhkan botol minum sehingga menimbulkan suara yang membuat semua mata tertuju ke arahnya. Sambil mengambil botol, mas Nyentrik mengucapkan permohonan maaf dengan pelan. Mereka tersenyum, masih terlihat wajah cemas yang mencoba menguatkan. Mencoba memberitahukan pada dunia bahwa semua akan baik-baik saja. Mas Nyentrik merasa kalau masalah mereka tidak terlalu berat, tapi entah kenapa itu tidak berlaku bagi mereka. Mungkin memang benar kalau berat tidaknya masalah tergantung pada keadaan seseorang. Yang mungkin menjadikan berat pada kasus Alan dan Hida adalah ekonomi. Jika mereka memiliki ekonomi yang kuat mungkin masalah tersebut tidak menjadi rumit.
Mas Nyentrik merapikan meja disampingnya, perlahan keluar dari ruang untuk mencari udara segar. Ia mendengar dengan samar canda tawa dari ruangan yang terdapat orang sakit di dalamnya.







