Nggak Usah Sekolah, Yang Penting Itu Akhiratnya

Coretan Tanpa Bekas

 

Nggak Usah Sekolah, Yang Penting Itu Akhiratnya

Oleh: Arfianto Wisnugroho

 

Pagi-pagi sekali Yuda sudah bangun, mungkin sekitar pukul setengah 5. Setelah merapikan tempat tidur ia bersiap-siap menuju masjid untuk sholat subuh. Jarak dari rumah ke masjid hanya sekitar 200 m, kira-kira dua menit dengan jalan kaki. Sholat sunat sebelum sholat subuh tidak lupa ia laksanakan hari itu. Dzikir pagi adalah kegiatan yang harus dia lakukan setelah sembahyang sholat subuh. Jika tidak ada kegiatan pagi yang mendesak ia melanjutkan dzikir dengan membaca al-quran. Begitulah Yuda menjalani aktivitas paginya. Bagi Yuda yang masih berumur 17 tahun itu, urusan agama adalah yang nomor satu. Saat malam hari ia juga selalu berusaha hadir pada pengajian-pengajian baik di kampung sendiri  atau luar kampung.

Rutinitas Yuda tersebut tidak semata-mata karena keinginannya sendiri. Orang tua Yuda sangat mendukung setiap kegiatan yang berhubungan dengan keagamaan. Seperti ibadah ke masjid atau menghadiri kegiatan keagamaan. Namun demikian, dukungan terhadap Yuda hanyalah yang berkaitan dengan urusan keagamaan. Orang tua Yuda sudah memberikan keputusan bahwa Yuda harus ke pesantren saat lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA). Saat ini Yuda masih kelas 11, semester genap tingkat SMA. Masih ada sekitar satu tahun lagi bagi Yuda menikmati masa-masa sekolah. Setelah itu ia harus mengikuti kemauan orang tua. 

Jika ditanya terkait rencana setelah lulus, Yuda hanya menjawab kalau keputusan kedua orang tuanya sangat tepat. Mereka berdua benar, bahwa kehidupan akhiratlah yang pertama dan utama. Hal lain seperti akademik hanya sebagai sarana yang dapat dikesampingkan. Hal tersebut adalah sebuah pemikiran dari kedua orang tua Yuda. Pemikiran tersebut sudah ia terima sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Tentu saja yang demikian itu seolah-olah adalah doktrin yang tak mungkin bisa patah begitu saja. Terlebih kedua kakak Yuda yang sudah duluan lulus dari SMA, keduanya sudah berada di pesantren saat ini.

“Tapi apakah kamu benar-benar tidak ingin melanjutkan kuliah?” Tanya mas Nyentrik pada Yuda suatu ketika.

“Hmmm.. tidak sih!” kata Yuda dengan jawaban pendek.

Setelah mas Nyentrik bertanya sekali lagi dengan pertanyaan yang mirip Yuda menjawab dengan nada ragu-ragu. Ia berpikir untuk beberapa saat, hingga mengakui kalau sebenarnya ia memiliki keinginan untuk kuliah. Melanjutkan ke jenjang sekolah lebih tinggi pernah ia cita-citakan. Ia berkata kalau menjadi seorang perancang bangunan adalah salah satu keinginannya. Menurut Yuda, arsitek itu adalah orang yang sangat jenius. Mereka dapat menggambar suatu bangunan megah sesuai dengan kebutuhan orang banyak. Yuda pernah bermimpi kalau suatu saat ia dapat merealisakian gedung megah hasil rancangannya. Tetapi mau bagaimana lagi, semua itu hanya impian saja bagi Yuda. Karena selain orang tua yang tidak setuju, perekonomian keluarga mereka juga tidak mendukung.

Mengetahui hal tersebut mas Nyentrik menjelaskan kepada Yuda bahwa ada bantuan pemerintah untuk keluarga yang tidak mampu. Yakni keluarga dengan perekonomian rendah tetapi memiliki potensi dapat dimasukan dalam penerima bantuan. Mendengar perkataan mas Nyentrik terkait bantuan tersebut Yuda menunjukan wajah serius. Ia mulai tertarik dengan hal yang namanya kuliah. Mas Nyentrik juga menjelaskan bahwa potensi akademik Yuda saat itu bagus. Yuda juga memenuhi semua persyaratan untuk mendapatkan pendanaan tersebut. Melihat keseriusan Yuda tersebut, mas Nyentrik langsung menjelaskan dengan lebih rinci terkait bagaimana cara mendapatkan bantuan tersebut.

Semangat Yuda menggebu setelah mendengar semua penjelasan rinci mas Nyentrik. Ia baru mengetahui kalau ada bantuan seperti itu dari pemerintah. Sebelumnya mas Nyentrik juga sudah pernah memberikan bantuan kepada anak-anak sekolah seperti Yuda untuk mendapatkan bantuan tersebut. Mas Nyentrik juga memberikan informasi tentang kakak angkatan sekolah Yuda yang sudah melanjutkan kuliah dengan bantuan tersebut. Tetapi tiba-tiba Yuda kembali sedikit lesu, ia bingung bagaimana cara meyakinkan orang tua. Karena dahulu kakak Yuda yang pertama pernah meminta untuk melanjutkan kuliah. Namun Orangtua mereka tetap tidak menyetujui meski ada guru yang datang ke rumah untuk memberikan pemahaman kepada mereka.

Cerita Yuda tersebut sering terjadi di tempat tinggalnya. Tentu saja hal yang sama juga terjadi pada anak-anak seusia Yuda. Sehingga dapat kta ketahui kalau sebenarnya Yuda bukanlah satu satunya yang bernasib seperti itu. Maklum saja, di lingkungan sekitar Yuda tersebut telah berdiri banyak pesantren. Dengan adanya pesantren, masyarakat mendapatkan banyak keuntungan dalam memberikan pendidikan keagamaan kepada anak-anak mereka. Sehingga anak-anak memiliki pengetahuan yang lebih terkait keagamaan. Hal tersebut juga mempengaruhi kehidupan bermasyarakat. Mereka menjadi lebih rajin beribadah. Kehidupan antar warga juga semakin harmonis. Berbagai kegiatan keagamaan tumbuh subur. Setiap ada kegiatan berlangsung, baik anak-anak, pemuda, dan orang tua selalu kompak. 

Meski demikian, ada satu pemikiran masyarakat yang sudah mengakar dan sulit bagi kita untuk menghilangkannya. Yakni mengabaikan pendidikan formal. Bagi mereka, jika anak lulus SMA itu sudah  cukup. Tidak perlu melanjutkan kuliah. Karena urusan yang lebih penting adalah semua yang berhubungan dengan agama. Bagi mereka, dunia ini hanya bersifat sementara. “Jadi tidak perlu pusing tentang berpendidikan tinggi, pokoknya fokus saja pada akhirat.” Ucap Yuda menambahkan cerita. Mengutamakan dunia akhirat daripada kehidupan di dunia adalah hal baik. Namun tidak salah jika seseorang menjadi lebih berpendidikan. Hal tersebut adalah PR besar bagi para pemegang kebijakan yang bertanggung jawab di tempat tinggal Yuda saat ini.

Mas Nyentrik terdiam sesaat ketika Yuda menjelaskan pemikiran orang tua Yuda terkait kuliah. Beberapa saat kemudian ia berdiri, mengajak Yuda untuk menemui orang tuanya. Sambil berjalan ia berkata, “Ayo kita yakinkan kepada mereka kalau kita juga harus berjuang untuk dunia.”

Tinggalkan Balasan