
Kau pernah mengatakan bahwa
Kita berada di negeri yang tenggelam
Aku mendengar sambil menyeduh teh melati yang harum
Pagi ini bersama sapa mentari dan mencoba merangkai kalimat-kalimatmu
Suatu hari kau juga berbisik, di persimpangan menganang nama-nama, setelah itu membaca kisah perjalanan dari perempuan pejalan menuju cahaya
Aku hanya menganggukkan kepala dan tersenyum
Ini adalah jalan cerita dari cerita jalan
Sepintas aku seperti mempunyai teman bicara, di mana aku cukup sebagai pendengar saja, itu bagiku sungguh luar biasa
Dulu atau sekarang ketika kata-kata menjadi berhala, takkan ada yang bisa merubahnya
Ini tentang sebuah suara yang menyuruh suara lain melihat cermin
Menceritakan tentang kita dan hujan sebaiknya jangan biarkan hatimu kemarau
Angin pagi yang mengabarkan api, luka, juga air mata, akan segera berganti,
Mungkin seperti peniup bara, ini kisahnya
dalam goresan aksara
Tsm, 20092021
*puisi ke 19
Ide tulisan dirangkai dari beberapa judul puisi Ayah Tuah







