GAGAL TESTIMONI

Terbaru476 Dilihat

Hari beikutnya sesuai janji tentu saja Rival akan menyampaikan berita yang dinantikan ini pada kedua sahabatnya Reza dan Fari. “Iyo betul itu Rival? Jangan kau main – main,” kata Reza pada Rival yang bercerita serius. “Iyoo, tidak percaya betul kamuorang ini,” sahut Rival sedikit kencang. “Iya sudah kita percaya dengan kabar yang kau cerita itu Rival. Pokoknya siap – siap memang kita, jangan sampai ketinggalan lagi,” timpal Fari menengahi kesengitan antara Rival dan Reza.

Malam yang dinanti tiba. Tiga bocil  persiapan. Dalam artian semua tugas rumah dikerjakan dengan baik. Main jangan sampai terlalu sore dan shalat berjamaah plus mengaji dilakukan dengan baik. Jangan banyak main agar tidak membuat kesalahan yang berakibat tidak keluarnya surat izin melancong ke tepi sungai. Demikianlah siasat anak – anak kalau lagi ada maunya, istilahnya  mengambil hati  orang tua agar hajat terlaksana

Malam itu usai shalat Isya dan makan malam di rumah masing – masing, ketiga bocah cilik itu berkumpul di rumah Rival setelah pamit pada orang tua masing masing. Sengaja rumah Rival dijadikan titik kumpul, karena  posisi  rumah Rival dengan jalan ke sungai searah. Biasanya mereka yang hendak ke sungai lewat di depan rumah Rival.

Para  bapak yang punya hajatan ke sungai malam itu terlihat mulai ada yang bergerak perlahan. Kebetulan paman kecil Rival ada yang masuk dalam tim pencari wangsit  tersebut. Artinya tiga bocil ini bisa bergabung tanpa banyak interogasi dari orang rumah terutama bunda Mut ibunya Rival. Mereka diizinkan ikut karena ada  om Lam adik ayah Rival juga ikut.

Malam menunjukan jam sembilan lewat. Tim uji nyali sudah siap. Mereka duduk tenang di tepi sungai sambil beberapa orang yang  lain tetap menyalakan rokok. Cahaya remang bulan yang kerap bersembunyi di balik awan membuat suasana sedikit beraroma mistik. Tiga bocil mengambil  posisi agak  menjauh dari para orang tua yang memang punya kepentingan khusus di tepi sungai malam itu.

Hembusan angin malam di sungai mengiringi tiga bocil yang dipenuhi rasa ingin tahu ini. Semilir angin yang lembut dan riak air sungai menambah kesejukan malam. Terlihat Reza mulai menguap. Fari dan Rival masih sabar menunggu  prosesi ritual malam itu. Ini bukan acara  bim salabim langsung jadi. Bagi anak seusia mereka mungkin rasa tidak sabar memang sering menyelimuti.  Sambil menunggu,  semua terdiam dengan alam pemikirannya masing – masing.

Tidak ada yang saling memperhatikan lagi. Semua hening. Hanya lolongan anjing sesekali terdengar di kejauhan.  Rembulan makin meredup dalam kejaran awan yang enggan menjauh. Satu persatu anggota pasukan “tiga sekawan” roboh dalam genggaman rasa ngantuk yang tak tertahan lagi.

 Entah bagaimana caranya ketiga bocil ini tiba – tiba sudah ada di ruang tengah rumah Rival. Rupanya semalam mereka bertiga digotong pulang oleh tim uji nyali. Mereka tertidur pulas di atas bangku – bangku di tepi sungai. Mata mereka tidak sanggup diajak berkompromi lagi. Sehingga testimoni yang hendak disaksikan akhirnya gagal.

Entah apa sebabnya., tidak ada satu pun dari mereka bertiga yang bertahan pada suasana yang amat mendebarkan itu. Mereka seperti disirep sehingga ngantuk dan tertidur pulas. Mungkinkah arwah para totua belum mengizinkan anak yang masih bau kencur ini untuk mengenal mereka dari dekat? Mungkin belum saatnya. Entahlah pada waktu mereka semua sudah dewasa kelak. Jalur komunikasi dengan para leluhur akankah diberikan? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Salam Literasi

Astuti, S.Pd,M.Pd.

SMPN 14 Palu – Sulawesi Tengah

Tinggalkan Balasan