MENGEJAR LAYANG_LAYANG (2)

Terbaru1143 Dilihat

Mereka bertiga berlari menuju jalan ke arah bungi dimana layangan putus tadi berada. “He motor Reza” Teriak Fary menginginkan Reza yang berlari dan menyeberang jalan tanpa melihat kiri kanan. ” Maaf om maaf,” kata Reza pada pengendara motor yang menatapnya tajam. “Kalau kamu ditabrak tadi, siapa yang salah?” Ucap bapak itu sambil melambatkan jalan motornya.

“Itu Reza” Teriak Rival sambil menunjuk pada sebuah layang layang yang tersangkut di ranting pohon kayu Jawa. ” Ambil kayu itu bawa kemari” Perintah Reza pada Rival yang matanya tetap awas pada layangan putus itu.

“Ini Fary kau jolok saja layang layang itu apa kau tinggi, pasti sampe kalau kau yang basoka(baca: jolok), ” kata Rival pada Fary sambil menyerahkan sebatang penjolok dari ranting kayu. Fary pun berusaha menjulurkan kayu panjang ke samping pohon agar mudah baginya menjatuhkan layangan itu. “Korek benang sisa itu biar talepas Fary, namali Iko (lambat kau)” Reza berteriak dengan tidak sabar. “Bantu tarik itu Rival, jangan hanya menonton”  Reza menyuruh Rival dengan panik. “Ok…ok bos sip”  Rival mengancungkan jempolnya.

Tarik kiri kanan selama beberapa saat. Akhirnya evakuasi layangan putus berhasil. Weleh… weleh sebuah layangan putus yang harganya tak seberapa ternyata menjadi tema perjuangan tiga sahabat di sore itu.

Mereka bertiga kemudian berjalan dengan celotehan yang tidak pernah putus ke arah lapangan bola di tepi jalan raya di tengah kampung Nunu. Sebenarnya berapa sih nilai atau harga sebuah layangan putus bila dibandingkan dengan upaya keras untuk mendapatkannya. Tak jarang anak-anak ini harus berebut dengan anak-anak yang lain yang punya misi yang sama yakni mendapatkan layangan putus. Entahlah, ada nilai seni yang seperti apa dalam mengejar layangan putus. Yang jelas bila musim layang-layang tiba, maka tim pemburu layangan ‘embang’ ini juga beraksi.

“Badapat layang layang dimana kamu?” tanya Anto dari arah lapangan futsal. Memang posisi lapangan bola dan lapangan futsal bersebelahan dan pas di depan rumah Anto.”Di jalan ke bungi kitorang dapat,”  kata mereka bertiga.  “Apa tadi kitorang juga ba kejar layang layang, tapi hilang. Mungkin sudah itu tadi,”   sahut Anto sedikit kecewa. Tiga sahabat hanya tersenyum tipis mendengar kalimat  Anto. “Kitorang (baca: kami) yang dapat bagaimana sudah,” bisik Reza pada Fary dan Rival. “Beeh…biar saja,”  sahut mereka berdua hampir bersamaan diiringi senyum kemenangan.

Salam Literasi

Astuti, S.Pd,M.Pd.

SMPN 14 Palu Sulawesi Tengah.

Tinggalkan Balasan