Namanya Dewantara Putra, asli Jakarta yang bertugas di Kantor Pajak di daerahku, ya lebih tepatnya Bos di tempatku bekerja. Sebenarnya Pak Dewa kami memanggilnya punya potensi yang sesuai dengan namanya Selengkapnya
Penulis: Siti Nurbaya AZ
If I (1)
Jika batu karang aku adalah serpihannya, jika aku gelombang di laut luas umpama buihnya saja. aku tidak sekuat batu karang, aku buih yang hilang dalam terjangan ombak kala badai hanya Selengkapnya
MAAFKAN (2)
Sudah tiga bulan berlalu, janji akan mengajak adikku pindah rumah setelah menikah tidak pernah terwujud. Aku masih saja memendam semua rasa yang sungguh tidak bisa aku ungkapkan, aku tidak mau Selengkapnya
MAAFKAN (1)
Teruslah berlari, selagi kau ingin berlari jika tiba waktu kau berhenti dari rasa sakit yang mengunung maka berhenti dan ucapkan kata maaf yang tulus dari hatimu yang paling dalam. Seandainya Selengkapnya
Speechless (2)
Suara riuh di depan rumah, membuatku resah. Hendak keluar kamar, pasti aku akan kena marah, tapi aku penasaran apa yang terjadi di luar sana. Tak lama aku mendengar suara langkah Selengkapnya
Speechless (1)
Speechless Speechless, hanya itu yang bisa aku katakan. Hanya dalam satu hari hidupku hancur, semua yang sudah di depan mata akhirnya sirna tak berbekas. Aku memandang semuanya dengan pandangan nanar, Selengkapnya
Waktuku (2)
Ingin sekali semua cerpen yang ku tulis menjadi kenyataan, tapi itu hanya fiksi yang membuatku jadi bahagia. Senyum mengembang di bibirku setelah membaca ulang cerpen yang ku tulis. Tunggu mempublishnya Selengkapnya
Waktuku
Waktuku (1) Bukannya aku menunggu tapi aku hanya menunggu waktu yang tepat yang sudah di atur oleh – Nya . Semua pasti menginginkan yang terbaik, bukan berarti melepaskan semua Selengkapnya
Titik Nolku.(Part Akhir)
Sudah sebulan aku berada di titik nol kehidupanku, aku berusaha bangkit dari ketepurukan. Memulai dari awal menata hatiku yang hancur lebur, tak pernah membayangkan bahwa aku yang selalu merasa baik Selengkapnya
Titik Nolku.(Part Awal)
Perih mataku, lelah terlalu lama aku hanyut dalam tangis panjangku. Terpaksa aku membukanya, panas menerpa wajahku. Sinar matahari tidak mau kompromi dengan lelah badan serta jiwaku, dengan garang panasnya menusuk Selengkapnya
- Sebelumnya
- 1
- …
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- …
- 69
- Berikutnya
Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.












