KMAC. 03 Aku dan Cita-Citaku

Pendidikan, YPTD385 Dilihat

KMAC. 03  Aku dan Cita-Citaku
Penulis : Theresia Martini, S.Ag., M.M

Aku sungguh menyadari bahwa semua yang telah kudapatkan saat ini, semata-mata bukan hanya karena kekuatan dan keberanian diriku. Tetapi karena Tuhan yang begitu mengasihi dan menyayangiku sepenuhnya. KasihNya kurasakan terus mengalir seperti sungai yang takpernah berhenti sekalipun musim kemarau tiba.

Kasih Tuhan yang begitu besar dan penuh misteri,  telah disampaikanNya kepadaku melalui tangan-tangan orang yang begitu mencintaiku. Mengapa, hal itu kukatakan demikian? Karena, hingga saat ini dan detik ini kasih sayang serta perhatian yang dulu mereka berikan kepadaku, masih terasa hangat dan selamanya takakan pernah dapat kulupakan.

Sebut saja, Pak Maryono, guruku sewaktu kelas 3 Sekolah Dasar (SD) yang masih mengingat diriku, walaupun sudah puluhan tahun, kami takpernah berjumpa dan lost contact, hingga akhirnya berjumpa tanpa sengaja beberapa bulan lalu melalui media sosial face book (FB) yang akhirnya menghancurkan kerinduan diantara kami sebagai seorang guru dan murid yang begitu dekat kala itu.

Banyak kenangan indah, ketika beliau sebagai walikelasku. Sikapnya yang ramah dan tak pernah lupa tersenyum, menjadi alasanku untuk menyayangi dan manjadikan beliau sebagai guru yang selalu kucari dan kunantikan kehadirannya. Selain ramah, beliau juga takpernah membedakan siswa kaya dan miskin. Bahkan  takjarang beliau juga sering memberiku jajanan dari kantin sekolah.

Selain beliau, ada juga Ibu Guru Sumiati (Alm) yang sering memukul tanganku, saat aku tidak menulis dengan rapi. Berkat beliau, yang tekun melatih diriku menulis indah, aku pernah memenangkan perlombaan menulis indah di sekolah. Dan juga hingga aku tamat SMP, selalu diminta oleh guru-guruku untuk membantu  menulis di papan tulis, untuk menyalin catatan bagi seluruh siswa di kelas.

Lalu ada juga Ibu Gultom, yang terkenal dengan kelincahan dan rambut panjangnya yang nyaris menyentuh tumit kaki. Dari beliau aku terinspirasi untuk memiliki cita-cita sebagai seorang guru. Alasannya sederhana saja, aku suka dengan cara dan gaya berpakaiannya, walau sederhana namun tampak selalu rapi dan selalu elegan serta enak dipandang mata.

Selain ketiga guru yang begitu membekas dalam jiwaku, ada satu guru sekaligus juga sebagai kepala sekolahku. Yang hingga hari ini, kami masih saling berkomunikasi melalui media WhatSapp (WA) sejak akhir November 2009 lalu setelah belasan tahun kami juga mengalami lost contact. Beliau adalah Pak Guru Alphonsus Supardi. Dari beliau, saya banyak belajar tentang kerendahan hati dan melayani sebagai seorang guru kepada para siswanya.

Dari sini, langkah awal hidupku memasuki dan berenang bahagia dalam dunia pendidikan dengan berbagai macam riak yang terdapat didalamnya. Tidak semua cerita indah kutemui seperti mimpi masa kecilku. Dan sebaliknya, banyak pula lembaran-lembaran manis takterlupa terukir cantik dan begitu agung menghiasi hari-hariku, dan mengisi perjalanan hidupku dalam taburan kasih yang bermakna bersama seluruh siswaku.

Meski terkadang, sebagai manusia lemah, akupun mengalami kelelahan menghadapi siswa-siswaku yang terkadang berulah dengan cerita-cerita kocak mereka, yang berakhir dengan pemanggilan orangua dan surat peringatan. Lembar demi lembar catatan tak menarik, hadir di album kenangan pahit, bagi para siswa yang bermasalah dan harus berakhir  di ruang Bimbingan Konseling (BK).

Ruangan berukuran 8×8 meter persegi, yang selalu terasa sejuk, karena hembusan air conditioner, tak membuat hati mereka terasa sejuk dan luas. Bagi mereka, para siswa yang banyak “POLA” ruangan BK tak lebih dari ruang yang teramat menakutkan, karena tidak sedikit diantara mereka harus menyatakan siap untuk mengundurkan diri, dan pindah ke sekolah lain karena kenakalan yang berulangkali dilakukan mereka, seperti merokok di WC, nonton video porno, membawa sajam, perkelahian, pencurian, dan sebagainya. Semua yang mereka lakukan tentu merupakan bentuk pelanggaran dan ketentuan yang berlaku di sekolah.

Melihat kenyataan yang sering terjadi, hati kecilku bertanya, “Siapakah yang harus bertanggunggungjawab akan jika situasi inti terus berlangsung? Bagaimana dengan masa depan mereka sesungguhnya? Haruskah mereka terbiar dan terlepas tanpa perhatian? Lalu, apakah mereka, akan menjadi menyumbang angka tingkat kenakalan remaja?” Berbagai tanya yang terasa begitu mengiris hati kecilku, sungguh menjadi dilema yang telah memenuhi dan menyekat kerongkongan jiwaku yang tak dapat kutolak.

Dan sekarang, apa yang mampu aku lakukan untuk menolong mereka? “Maafkan, Bu There nak, yang takdapat berbuat banyak untuk kalian. Bu There, hanya mampu memberikan sedikit perhatian dan pendekatan personil saja kepada kalian,” demikian teriak hati kecilku, tanpa mampu berkata apapun, tatkala menemukan siswa-siswa yang harus menggandeng dan menempelkan selembar kesombongan yang bernama “Materai” yang bertuliskan angka 10.000 rupiah untuk menemani nama mereka dalam bentangan selembar kertas putih yang dipenuhi dengan aksara sakti mandraguna terukir didalamnya, dan terwakili dengan kata “Surat Pernyataan” sebagai sertifikat tanpa ucapan kata, “Selamat” dalam ritual penyerahannya dihadapan orangtua atau wali yang mewakilinya untuk datang ke sekolah.

Inilah potret keseharian yang kudapatkan bersama siswaku yang hampir 90% mengalami kehausan dan kelaparan akan kasih orangtua, yang tidak mereka dapatkan sejak kecil, dengan corak kasus yang begitu komplek dihadapi mereka, mulai dari keadaan ekonomi sulit dalam keluarga mereka, atau  masalah perceraian yang terjadi di dalam keluarga ayah ibu mereka, masalah anak remaja yang masuk dalam masa pancorobanya, seperti cinta ditolak, kasih tak sampai, rindukan tertinggal di telaga, dan sebaiknya. Saya hanya dapat berserah dan melakukan semua sesuai dengan kehendak yang diinginkanNya dalam perjalanan imanku.

 

Pangkalpinang, 13 Februari 2023

 

 

Tinggalkan Balasan

8 komentar