KMAC. 04 Aku dan Aktivitasku

Pendidikan, YPTD477 Dilihat

KMAC. 04 Aku dan Aktivitasku
Penulis : Theresia Martini, S.Ag., M.M

Setelah kelelahan aktivitasku di hari Minggu kemarin, membuat hari ini, senin 14 Februari 2023 membuat atmaku terasa seperti mrotoli alias seperti mau lepas dari engsel tulangnya, hehee …. karena semalaman, saya mencoba mengejar kesempatan untuk mencoba berjuang menyelesaikan tugas tantangan menulis buku mayor ber-kolaborasi bersama Prof. Dr. Ir. Richardus Eko Indrajit, M.Sc., M.B.A., M.Phil., M.A, dengan judul Experience – Based Learning, dengan terpaksa akhirnya saya menyerah dan mengumpulkan tugas sementara waktu dengan hasil seadanya, tepat satu jam sebelum batas waktu pengumpulan berakhir.

Sebelum saya memutuskan untuk segera membaringkan tubuh dan terlelap dalam pelukan tulang rusuk-ku, sesaat sempat saya berfikir, “Jika saya lanjutkan untuk tetap meneruskan pencarian bahan tantangan menulis buku mayor, apakah besok pagi fisik saya sanggup untuk bertahan?”

Karena kebetulan setiap Senin, Selasa dan Kamis, jadwal jam berdiri di kelas sangat padat tanpa ada jeda selain jam istirahat pertama dan kedua. Jika saya paksakan hingga pagi, tentu saja akan fatal bagi fisik saya sendiri.”

Raga memang sudah taklagi merasa sanggup bertahan, meskipun jatuh bangun untuk bertahan meneruskan mencari dan menemukan materi-materi pendukung beserta refensi yang menguatkan teori yang tersaji yang secara khusus membahas alasan, “ Mengapa Experience-Based Learning dibutuhkan?”

Malampun berlalu, keesokan harinya, saya bangun agak lebih kesiangan, dibanding hari-hari sebelumnya, pukul 05.45 wib, saya baru tersadar dari lelap tidur malamku. Dan akupun segera bergegas, menuju dapur untuk menyiapkan minuman hangat untuk kami berdua. Yah, hanya untuk diriku dan tulang rusukku saja.

Karena, saya bangun kesiangan, maka tidak ada rencanaku untuk mengolah bahan makanan yang tersedia di lemari pendingin dan pengawetku, maka sayapun meminta belahan jiwaku untuk mencari sarapan nasi uduk atau bubur ayam khas Bandung kesukaanku.

Setelah minuman hangat tersaji, sedikit saya meluangkan waktu untuk sejenak masuk dalam hadirat Tuhan untuk membaaca Kitab Suci sebagai bahan renungan pagiku, yang tepat hari ini bacaannya saya ambil dari Efesus 4:26-27 tentang, “Padamkanlah amarahmu sebelum matahari terbenam, dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.”

Bacaan ini mengajakku diriku untuk merenungkan dan melaksanakan, “Bagaimana kita mampu bersyukur dalam setiap pemberian Tuhan. Ambisi yang berlebihan perlahan akan menguasai dan membutakan kita terhadap penyelenggaran Ilahi yang melahirkan kesombongan.”

Bekal rohani yang akan menemaniku sepanjang hari ini, kukemas dalam niat untuk melakukan pekerjaan apapun tanpa perhitungan, karena apa yang telah kudapatkan dari Tuhan sudah lebih dari cukup, daripada apa yang telah kuberikan kepadaNya melalui diri sesamaku.

Setelah kami selesai sarapan, belahan jiwaku siap berangkat terlebih dahulu dan siap untuk menjalankan aktivitas rutinnya untuk mencari sesuap nasi dan mengumpulkan sebongkah berlian, di salah satu sekolah milik yayasan cukup terkenal di Kota Pangkalpinang.

Sementara saya, masih membereskan meja makan dimana baru saja kami gunakan, selanjutnya sayapun buru-buru untuk segera menghindarkan diri dari peluru waktu yang terus membidik aktivitasku pada awal minggu ini. Tanpa alasan apapun, sambil berlari-lari kecil, sayapun berupaya untuk segera meninggalkan rumah dan membelah ruas waktu untuk segera tiba di sekolah.

Puji Tuhan, sayapun tiba dengan selamat dan kembali berjumpa dengan keluargaku yang kedua, yaitu rekan kerjaku dan para siswaku serta pegawai di SMP Negeri 6 Pangkalpinang

Seperti biasa, aktivitas pertama yang dilakukan di setiap Senin, adalah melakukan upacara bendera. Puji Tuhan, upacara kami laksanakan dengan lancar, tanpa ada siswa yang pingsan seperti biasanya, walaupun mentari sedikit menunjukkan keberanian menampilkan sengatan cahayanya. Tanpa berlama-lama, sesaat setelah kami mengistirahatkan diri sekadar melepas lelah dari sikap berdiri tegap saat upacara tadi, kami para guru mulai bergerak untuk masuk ke kelas sesuai dengan pembagian jadwal yang telah ditetapkan. Kebetulan hari ini, saya masuk kelas VII-B dimana saya sendiri merupakan wali kelasnya.

Setelah berdoa bersama dan memberi salam, dua orang siswa, maju menuju meja guru, membawakan dan menyampaikan bucket bunga kertas, dimana masing-masing 2 batang Silverqueen bertahta megah persis ditengah-tengahnya, dan mengucapkan, “Happy Valentine, Bu There sayang” sambil memberikan salam serta pelukan hangat secara serentak kepada saya.

Sungguh terharu, saya dibuat mereka hari ini, karena saya juga lupa bahwa hari ini merupakan moment perayaan hari kasih sayang sedunia. Netra saya mulai berkaca-kaca mengucapkan terima kasih atas segala perhatian yang berikan kepada saya hari. Kemudian sedikit harapan saya juga ungkapkan kepada mereka bahwa, “Bu There sangat berterima kasih dan berbahagia untuk 2 bucket cantik yang diberikan. Namun, Ibu akan merasa lebih berbahagia apabila anak-anak ibu memberikan bucket cinta dengan belajar lebih sungguh serta tidak membuat masalah di sekolah.”

Mendengar kata-kata saya, beberapa siswa menutup wajah, dan menyeka aimata mereka. Seakan mereka merasa tersinggung, dengan apa yang saya katakan. Melihat sikap mereka demikian, tentu saja membuat saya semakin terharu dan tak tertahan, sayapun meneteskan airmata begitu deras, akhirnya membuat anak-anak maju ke depan kemudian, ramai-ramai memeluk saya sambil meminta maaf atas kenakalan mereka selama ini.

Menghadapi, situasi ini tentu saja membuat saya tidak dapat berlama-lama membiarkan suasana terhanyut dalam keharuan, dan dengan perlahan saya meminta merekapun untuk kembali ke tempat duduknya masing-masing. Lalu, menyampaikan kepada mereka tentang harapan dan keinginan cita-cita saya yang belum terwujud, dan saya minta merekalah yang mewujudkan keinginan saya, sebagai, “Hadiah Valentine Terindah untuk Bu There.” Dan secara serentak mereka menjawab, “Siap, Bu!!”

 

Pangkalpinang, 14 Februari 2023

 

Tinggalkan Balasan

3 komentar