Ayah Literasiku (1)

Terbaru388 Dilihat

Berbagai sosok istimewa hadir dalam pengembaraanku mencari ilmu dimasa pandemi. Salah satu diantaranya adalah sosok seorang lelaki flamboyan kelahiran Jambi tahun 1952. Saya sebut lelaki flamboyan karena gaya bicara yang memikat lewat pantun-pantunnya yang setia mengawali perbincangan disetiap kesempatan. Sebenarnya, bukan hanya gelar flamboyan yang pantas disematkan buat pak Thamrin Dahlan (TeDe), karena dibalik sifat yang humoris, beliau sangat bijaksana menanggapi sebuah persoalan. Seperti halnya ketika saya dan sobat literasi dunia maya, Heddy Mochtariza menyampaikan keluh kesah.

Saya dan Heddy pernah mengalami guncangan sedikit setelah terkena efek badai euphoria antar komunitas. Nah, ketika saya meminta pendapat beliau, hanya dijawab dengan kata-kata bijak yang disertai pantun. Awalnya saya bingung, namun setelah membaca kalimat demi kalimat, saya tersadar, beliau ibarat jarum yang menyatukan, bukan seperti gunting yang memisahkan. Artinya, beliau menyuruh saya berpikir, bahwa semua ada prosesnya, tidak boleh hanya memandang dari satu sisi. Saya yakin, Heddy juga demikian, awalnya confuse, namun akhirnya comfort.

Perkenalanku dengan beliau, diawali pada pelatihan menulis di gelombang 18 pada sebuah lomba menulis selama 28 hari diblog. Penulis yang mampu mengirim naskah lengkap, diberi reward terbitkan buku ber-ISBN secara gratis oleh Yayasan Pustaka Thamrin Dahlan (YPTD). Saya terperangah. Masih adakah sosok mulia seperti beliau di zaman ini?. Dari biografi yang disampaikan oleh moderator, ternyata beliau seorang purnawirawan polisi. Seketika ingatanku mengembara kepada sosok lain yang juga purnawirawan polisi, yaitu ayahku. Sosok ayahku yang juga seorang penulis hadir dalam diri pak TeDe.

Didorong oleh rasa penasaran karena tidak memenangi lomba blog tersebut, saya beranikan diri menghubungi beliau via chat, alhamdulillah dimasukkan ke wag khusus YPTD. Sejak saat itu, saya memanggil beliau dengan sebutan “ayah”. Qadarullah, buku solo kedua, terbit dibawah panji-panji YPTD, dan benar-benar gratis. Disatu sisi, kami para pencinta literasi yang bukunya diterbitkan oleh YPTD merasa jengah. Karena, ada  teman yang sudah beberapa kali menerbitkan buku secara gratis. Ternyata, sesuatu yang gratis itu tidak selamanya menyenangkan.

Untuk mensikapi aspirasi dari pencinta dan pegiat literasi tersebut, maka pak TeDe mengubah moto “ Menerbitkan Buku Ber-ISBN Gratis” menjadi “ Menerbitkan Buku Ber-ISBN Bayar Seikhlasnya”. Perubahan moto ini juga dilakukan beliau dengan penuh pertimbangan, serta meminta masukan dari berbagai pihak. Dan akhirnya, yayasan yang didirikan pada tahun 2019 tersebut secara resmi mengubah moto tanpa memberi batasan minimal apalagi maksimal bagi penulis yang ingin menerbitkan buku di YPTD.

Untuk memeriahkan kelahiran YPTD yang didirikan pada 29 Juli 2019, maka diadakanlah lomba menulis dengan tujuan untuk menampung aspirasi serta mengevaluasi perjalanan YPTD. Kali ini, saya mengikuti lomba tanpa target, sebab saya sadar di wag YPTD bertabur penulis yang sudah sangat berpengalaman. Saya niatkan ikut lomba hanya sekadar ingin memberi kritik dan saran yang konstruktif untuk kemajuan YPTD dimasa mendatang.

Beberapa poin yang termuat dalam naskah lomba tersebut adalah tentang:

  1. Pembuatan rencana jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang
  2. Pengukuhan tim editor dan disain cover
  3. Pengadaan kegiatan literasi berupa lomba dan sejenisnya pada momen-momen tertentu

Adapun keinginan saya memberi masukan tersebut adalah supaya YPTD tetap eksis walau zaman berubah kelak. Pada injury time, ada “keramaian” di wag. Beberapa teman penulis ‘terpesona’ melihat salah satu naskah lomba yang diposting di laman YPTD. Mereka terpesona karena naskah diposting dibagian judul, sehingga layoutnya berserak kemana-mana, sungguh amburadul. Faktanya, ternyata itu naskah saya!.

Dengan hati sedih, saya posting ulang naskah lomba, sembari melirik jam dinding yang sudah menuju ke angka 23’35 WIB, hanya dalam hitungan beberapa saat lagi lomba ditutup. Usai saya repost, saya ucapkan terimakasih kepada teman-teman di wag sembari berucap bahwa saya memang tidak begitu menguasai teknologi plus dilanda kantuk ketika itu. Setelah itu, saya lupakan tentang lomba, sebab kegiatan literasi yang diadakan oleh pemilik brand “wardah” juga sudah menunggu untuk dieksekusi.

Beberapa hari kemudian, ba’da dzuhur, saya membaca pesan  Heddy via wa. “ Lu jangan cuek aja, tuh nama lu disebut sebagai pemenang, check di Youtube”, demikian pesan Heddy. Seharian hp tidak ada saya sentuh karena  menjenguk mertua yang sedang sakit. Saya sempat agak jengkel dengar guyonan Heddy, sebab mana mungkin naskah saya terpilih jadi salah satu pemenang. Maka, link Youtube yang Heddy kirim tidak segera saya buka, masih fokus pada kegiatan membuat media pembelajaran dengan aplikasi canva yang saya pelajari lewat video tutorial.

Malam harinya, pengumuman resmi pemenang lomba menulis HUT YPTD diumumkan di wag dengan stempel resmi, dan nama saya ada diurutan kelima. Rasanya seperti apa ya, sulit menjelaskan, karena baru kali ini saya memenangi lomba, dengan peserta dari seluruh penjuru tanah air. Saya menyimak penjelasan dewan juri, karena satu persatu naskah pemenang diulas secara singkat. Menurut juri, tulisan saya menyiratkan semangat yang luarbiasa, bahasanya sederhana mudah dipahami. Alhamdulillah, prestasi ini semakin memacu semangat saya untuk tetap berkarya.

Salam literasi dari bumi Kualuh, basimpul kuat babontuk elok.

Tinggalkan Balasan