Perlukah Klarifikasi Ketika Kena Ghibah?

Terbaru1608 Dilihat

Berbagai istilah disematkan untuk sepotong kata ghibah, ada ghibah terbuka; ghibah eksklusif; ghibah online; ghibah rame-rame (saya tidak pakai istilah berjama’ah, sebab itu lebih cenderung pada kegiatan ibadah). Apapun jenisnya, yang namanya ghibah tetap saja kurang nyaman ditelinga, terlebih ketika kita jadi sasaran ghibah.

Ghibah, secara sederhana diartikan dengan gossip, singkatan dari kata “makin digosok makin siiip”. Pernahkah anda dighibah? sebagian besar pembaca menjawab,’bangeeeeet’, sambil merecall ingatan siapa saja yang pernah mengghibah kita. Sebaliknya, pertanyaan yang hampir sama, “pernahkah anda mengghibah orang?”, sebagian pembaca juga menyahut dalam hati, lebih pelan, nyaris mode pesawat, ‘pernah…’. Terus, bagaimana rasanya kena ghibah, tentu kita tidak nyaman, kesal, jengkel, marah, campur-aduk menjadi satu. Nah, ketika dalam kondisi seperti ini, haruskah kita lampiaskan amarah ke sembarang orang, atau bahkan buat status di medsos, supaya orang tahu bahwa kita tidak seperti yang dituduhkan?
Sebagai manusia biasa, wajarlah kalau kita marah ketika kena ghibah, terlebih sudah menjurus ke fitnah. Bahkan saya, boleh beralasan dibalik profesi, guru juga manusia, maka boleh dong marah. Tapi sebentar netizen yang sudah mulai tidak sabaran untuk dm saya, karena perasaan netizen sudah mulai diaduk-aduk (nanti silahkan dm, kalau slow respon, harap maklum). Haruskah kita marah ketika kena ghibah/fitnah, dengan cara menyindir orang yang kita anggap sebagai biang kerok? Ijinkan saya berpendapat, kalau keliru, I give up, inilah pendapat saya.
Secara kodrat, tidak ada manusia yang sempurna, ada kelebihan dan kekurangan. Silahkan anda cari seorang anak muda, tinggi badan 180 cm, hidung bangir, alis bak semut beriring, body six pack, tajir melintir, santun, IQ diatas 200, sholeh, tongkrongannya moge, dan seterusnya. Saya yakin, sosok seperti itu tidak akan ditemukan, walau seluruh penjuru bumi diobok-obok.
Demikian halnya dengan saya, dan anda semua, pasti memiliki kelemahan.
Salah satu kelemahan saya adalah gampang memaafkan, walau tidak terucap, namun intinya saya selalu memaafkan perlakuan orang terhadap saya. Kalau ada yang berpendapat, bahwa saya pendendam sesuai karakter Sagitarius, I don’t believe, saya tidak pernah percaya hal-hal seperti itu, kata bintang sih saya ini sederhana tapi pendendam.
Sederhana, itu benar, saya malah tidak pede mengenakan barang-barang mahal, terutama karena tidak mampu membelinya, (jangan dibully, saya type jujur walaupun kadang menyakitkan). Namun kalau disebut pendendam, wah, itu lebay. Ribuan siswa yang pernah merasakan sentuhan repetan saya, dan ratusan juga siswa yang pernah membuat saya terpesona dengan ucapan mereka yang kurang pada tempatnya, tetaplah menyisakan ruang maaf. Saya sudah sediakan sebuah tempat dihati untuk hal-hal seperti itu, maka tiada kata dendam, just forgive.
Lantas, apa yang akan kita lakukan ketika kita menjadi objek ghibah, misal kita diberi label sombong; sok pintar; sok tahu; matre; dan lain-lain? Tenang saja duhai netizen, anda disebut sombong oleh si A, kalau faktanya tidak benar, abaikan saja, tidak perlu klarifikasi di berbagai medsos, bahkan sampai buat konten segala. Bahkan andai ada yang bilang bahwa anda ‘kayak menyot’ (maaf terpaksa saya plesetkan), santai saja, jangan diambil hati. Dia kan cuma bilang ‘kayak’,…nah lho, kenapa harus marah?. Anda digossipkan matre, segala sesuatu diukur dengan uang, apa yang akan dilakukan?.
Kalau anda digosipkan oleh orang yang kurang mengenal anda, bahkan bukan berada dalam satu lingkungan kerja, abaikan sajalah gossip seperti itu. Yang lebih mengenal anda adalah rekan kerja, sanak saudara, tetangga, dan orang-orang yang selalu berinteraksi dengan anda. Habis deh energi memikirkan hal-hal unfaedah, kita masih butuh cadangan energi untuk lakukan yang lebih bermanfaat.
Maka, intinya, jika kena ghibah atau apapun istilahnya, abaikan saja moms, nanti imun kita bisa turun jika mikirkan hal seperti itu, saya lebih fokus ke kaum perempuan, terutama para emak, karena biasanya kelompok ini yang paling rentan jadi objek sekaligus subjek gossip.
Akhirnya, lega sudah ketika ada gossip menerpa. Semua terpulang kepada kita masing-masing, bagaimana menyikapinya. Akankah wajah kita berkerut mendengar gossip, padahal sudah dibela-belain beli skincare mahal. Atau, akankah kita menyugar rambut dengan kasar padahal baru saja selesai creambath. Bahkan, kita banting gawai merek terkenal karena kesal dengan berbagai dm yang menyudutkan kita? (barangkali akan beda ceritanya kalau kita lakukan modus lembiru=lempar beli baru).
Kalau saya sih, cuek saja. Sepanjang haters tidak mencela agama saya, maka saya biarkan saja, gone with the wind, akan lenyap dibawa angin berhembus. So, take it easy, jangan menambah beban pikiran, nikmati kebebasanmu untuk tidak memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang dirimu. Salam literasi dari bumi Kualuh, basimpul kuat babontuk elok.
Mungkin gambar satu orang atau lebih, orang berdiri dan luar ruangan

 

Komentari
Bagikan

Tinggalkan Balasan