Tradisi Mamogang di Bumi Kualuh Basimpul Kuat Babontuk Elok

Terbaru1651 Dilihat

Malam h-1 jelang ramadhan. Sebagian besar anak-anak muda Guntingsaga sekitarnya terjaga, begadang semalam suntuk. Bahkan sampai ada istilah kalau malam tersebut wajib tidak tidur, demi moment yang paling ditunggu-tunggu, memotong ternak untuk mamogang (punggahan).

Dinihari tadi, 13 ekor ternak lembu dan kerbau telah dipotong untuk selanjutnya diperjualbelikan disekitar daerah Guntingsaga. Masyarakat berduyun-duyun untuk memilah, membeli, untuk dibuat santapan makan bersama jelang sahur pertama di bulan ramadhan ini.

Tradisi yang telah berlangsung sejak tahun 1980-an ini tetap terjaga dengan baik, tidak lekang digerus jaman, tidak malu-malu diterpa kemajuan teknologi yang bahkan sudah kearah 4 point zero. Sungguh suatu keunikan tradisi yang telah berurat berakar. Menurut salah seorang tetua masyarakat Guntingsaga, dulu kegiatan ini disebut dengan istilah “Membiko”, yang artinya kurang lebih sama dengan “Mamogang/Punggahan”.

Belakangan ini adalagi istilah yang menyebut “Pasar Tiban”, namun apapun istilahnya, artinya tetap sama, yaitu memotong ternak jelang ramadhan.

Sekitar jam 02.00 WIB, ternak-ternak tersebut dipotong dipekarangan rumah pemilik, kemudian ba’da subuh, daging yang siap untuk dipasarkan, dibawa ke pinggir Jalinsum dekat jembatan . Tanpa diundang, calon pembeli akan menyerbu, tumpah ruah memilih daging yang diminati.

Selain kegiatan memotong ternak tersebut, muncul juga pasar dadakan yang menawarkan aneka sayuran dan bumbu masak lainnya. Dengan demikian, masyarakat Guntingsaga sekitarnya tidak perlu repot-repot ke pasar Inpres Aekkanopan untuk berbelanja jelang ramadhan. Sehingga, perputaran uang (Teori Irving Fisher nih) akan maksimal didaerah tersebut, minimal h-1 ramadhan.

Ramadhan tahun ini diawali pada hari selasa 13 April 2021. Maka, nanti malam, ba’da isya, tarawih perdana akan dilaksanakan di masjid-masjid. Mari kita jalani ibadah di bulan ramadhan ini dengan sebaik-baiknya, perbanyak tadarus Al Qur’an, dan amalan-amalan bermanfaat lainnya.

Hindari perilaku konsumerisme (kembali pada teori ekonomi), jangan sampai cost harian di bulan ramadhan meningkat tajam dibanding dengan bulan-bulan sebelumnya. Sebab, pada hakekatnya kita disuruh untuk mampu merasakan apa yang kaum dhuafa rasakan; berlapar-lapar puasa dengan niat yang ikhlas lillahi Ta’ala, bukan malah membombardir perut dengan aneka makanan berbuka puasa. Sebab biasanya, aneka kue, es segala rasa, mie kuning bahkan sampai mie kriting, serba serbi serabi, bubur dumer lumer, dkk sudah menanti kehadiran anda dengan tampilan yang begitu menggoda.

Andai, masih kepikiran, bahwa apa yang anda lakukan dengan membeli makanan berbuka sedemikian banyak, adalah untuk membantu saudara-saudara kita yang mengais rezeki dibulan ramadhan, maka jangan kuatir. Saya punya daftar masjid-masjid yang welcome dengan cucuran makanan berbuka dari siapa saja. Kita win-win solution saja, niat berbagi terwujud, tidak ada makanan yang terbuang mubadzir, dan tersedia stok makanan berbuka di masjid-masjid.

Satu hal lagi, untuk yang menyantap rendang kerbau/lembu hari ini, hati-hati kolesterol melonjak, tolehlah kanan kiri, manatau dapur tetangga kita belum mengeluarkan aroma yang sama. Akhirnya, selamat menunaikan ibadah puasa, semoga Allah SWT meridhoi, aamiin. Taqabbalallahu minna wa minkum. Salam literasi dari bumi Kualuh, basimpul kuat babontuk elok.

 

Tinggalkan Balasan