- Kupacu motor sembari menyelinap diantara kendaraan lainnya. Vina mencubit pinggangku, dia protes karena aku menambah kecepatan tanpa aba-aba. “Kenapa sih kamu Tigor, kayak kepergok mantan?”, selidiknya. Aku tak menjawab, hanya dalam hati berucap, ini lebih dari mantan, pokoknya aku takut.
- Ya, aku melihat sekelebat bu Aina, berjalan disisi kiri jalan raya. Aku nggak perduli jika guru-guru lain memergoki aku berduaan dengan Vina, tapi tidak untuk bu Aina, aku tak bisa.
Perempuan bernama Aina adalah guruku. Beliau sebenarnya baik, perhatian pada siswa, justru itu aku kurang suka. Bu Aina sering mempertanyakan kedekatanku dengan Vina, bahkan ketika kami mengenakan kaos couple, beliau menatap kami berdua tanpa kata. Aku resah, kenapa sih ibu guru yang satu ini selalu mengusik hidupku?. Tapi aku yakin beliau lakukan itu bukan karena cemburu, sebab usiaku beda 20 tahun dari bu Aina, dan yang pasti, beliau sudah memiliki suami. Ah, kenapa aku jadi mikirin Bu Aina.
Semakin hari, hubunganku dengan Vina semakin dekat. Tiada hari tanpa kehadirannya. Kegiatan sekolah kami lakukan bersama, kebetulan kami satu kelas. Maka, PR yang seharusnya dikerjakan dirumah, kami kerjakan berdua disekolah. Dengan begini, durasi kedekatanku dengan Vina juga bertambah.
Disekolah, aku berusaha menghindar dari bu Aina. Beliau sering melewati kelasku karena beliau juga bertugas sebagai pengelola perpustakaan sekolah, yang lokasinya persis di samping kelasku. Apesnya, hari ini aku dipanggil bu Aina ke ruang kerja beliau. Setelah berbasa-basi sejenak bertanya kabar tentang mama dan papaku, beliau mengucapkan kalimat yang membuat tubuhku seolah membeku.
Bu Aina menyampaikan nasehat, bahwa sebaiknya jangan terlalu dekat dengan Vina, sebab orang tua kami tidak akur. Entah darimana bu Aina mendapat informasi tentang buruknya hubungan orang tuaku dengan orang tua Vina. Selain itu, beliau juga mengingatkan bahwa aku dengan Vina memiliki pandangan hidup yang berbeda, ya, kami berbeda keyakinan. Sedari awal menjalin hubungan dengan Vina aku sadari itu, namun rasa sayang mengalahkan logika. Kami tetap saja menjalani hubungan secara sembunyi-sembunyi, karena orang tua Vina juga teramat sangat tidak menyukaiku, dan ayahku juga.
Tiga tahun bersama Vina di SMA, akhirnya masa yang mendebarkan datang juga. Vina dikirim keluar kota, sangat jauh, hingga aku kuatir akan sulit untuk menemuinya. Tahun-tahun pertama, komunikasi kami masih lancar. Namun perlahan, entah kenapa rasa itu juga semakin memudar. Aku mulai menakar rasa sayangku ke Vina. Dan akhirnya komunikasi kami putus total. Aku tak lagi merindukannya.
Setelah lelah berdiam diri dirumah selama dua tahun, akhirnya kuturuti saran mama untuk kuliah di Universitas Terbuka (UT) dikotaku. Alasan mama tepat, aku tidak pernah serius untuk melanjutkan pendidikan, meski sebenarnya aku risih dengan kakak dan adekku yang telah meraih Strata satu. Demi baktiku pada orang tua, aku ikuti permintaan mama. Toh selama ini beliau sudah banyak berkorban untukku. Mama selalu menyembunyikan kesalahanku dari papa.
Papaku berwatak tegas, sedikit garang, menurutku. Namun aku yakin semua itu demi kebaikan kami anak-anaknya, terutama aku yang masih berstatus pengangguran. Sembari mengikuti perkuliahan, aku mengajar disebuah SD, persis didepan rumah. Jujur, aku tidak begitu menyukai pekerjaan ini, namun sekali lagi demi bakti pada orang tua, aku tekuni juga profesiku sebagai guru olah raga.
Hari demi hari berganti, usiaku semakin menua, lebih tepatnya dewasa. Jelang usia tiga puluh tahun, aku mempersunting seorang gadis berwajah keibuan, yang juga mengajar di sekolah yang sama. Sekali-sekali, teringat jualah kelakuanku semasa SMA, betapa sering aku menaruh rasa benci pada bu Aina. Karena kuanggap beliaulah salah satunya yang sering memberi tahu mama tentang hubunganku dengan Vina. Ternyata bu Aina benar, Vina bukan jodohku, karena dia menikah empat tahun setelah kami tamat SMA.
Aku tidak pernah menyesali keputusan Vina menikah dengan laki-laki lain, sebab aku yakin itulah jodoh dia. Yang aku sesali adalah betapa buruknya perlakuanku dimasa lalu. Andai waktu bisa diputar. Diam-diam, sering aku amati wajah mama dan papaku yang semakin menua. Barangkali, kerutan-kerutan didahi mereka juga akibat dari kenakalanku. Semoga kelak anak-anakku tidak mewarisi sifat burukku.
Hari ini aku dikejutkan oleh Rheina, kakak sulungku yang juga guru memelukku erat-erat. Tanpa berkata-kata dia menunjukkan tangkapan layar di hp miliknya. Aku terperangah, namaku tertulis jelas dengan status lulus. Ya, beberapa waktu yang lalu aku mengikuti seleksi yang diadakan Kemdikbud, untuk mengisi formasi pada sekolah tempat aku mengabdi.
Qadarullah, aku si anak nakal, sering membuat mamaku menangis, tak jarang membuat tekanan darah papaku naik, akhirnya lulus dan diterima menjadi guru dengan perjanjian kerja. Terimakasih untukmu mama dan papa, kakak dan adekku, yang selama ini sering memarahi bahkan memusuhiku.Aku si anak nakal telah menemukan jati diri.
Secara khusus, terimakasihku juga buat bu Aina atas segala bentuk kasih sayangnya selama ini. Meski awalnya aku tak memahami bentuk kasih sayang beliau, namun aku yakin, perlakuan beliau bukan hanya padaku seorang. Aku berjanji, akan menjadi guru yang baik buat anak didikku, akan kudidik mereka dengan kasih sayang, hingga kelak mereka akan menjadi orang-orang sukses yang beradab.
Hampir lupa, jika aku bertemu bu Aina, aku juga akan beritahu beliau, bahwa dua bulan yang lalu aku lulus PPG, sebagai syarat menjadi guru profesional. Salah satu ayat yang selalu disampaikan oleh bu Aina, ‘Nikmat Tuhanmu Yang Manakah Yang Kau Dustakan?’, kini juga menjadi ayat andalanku.Salam literasi dari bumi Kualuh basimpul kuat babontuk elok.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.








Terima kasih