
Foto : tokopedia
SURAT BUAT BAPAK RUSMADI, KOPI BERAROMA CINTA
Yth. Bapak Rusmadi
“Hidup bagaikan sebuah perjalanan menaiki kereta. Dengan stasiun-stasiun pemberhentiannya, dengan perubahan-perubahan rute perjalanan dan dengan peristiwa-peristiwa yang menyertainya.
Kita mulai menaiki kereta ini ketika kita lahir ke dunia. Orang tua kita yang memesankan tiket untuk kita. Kita menduga bahwa mereka akan selalu bersama kita di dalam kereta. Namun, di suatu stasiun, orang tua kita akan turun dari kereta dan meninggalkan kita sendirian dalam perjalanan ini.
Waktu berlalu dan penumpang lain akan menaiki kereta ini. Banyak di antara mereka akan menjadi orang yang berarti dalam hidup kita. Pasangan kita, teman-teman, anak-anak dan orang-orang yang kita sayangi.
Banyak di antara mereka yang akan turun dari kereta selama perjalanan ini. Dan meninggalkan ruang kosong dalam hidup kita. Banyak di antara mereka yang pergi tanpa kita sadari. Bahkan kita tak tahu dimana mereka duduk dan kapan mereka meninggalkan kereta.
Perjalanan kereta ini penuh dengan suka, duka, impian dan harapan. Ucapan ‘halo’, ‘selamat tinggal’ juga cinta dan air mata.
Perjalanan yang indah akan diwarnai dengan saling menolong, saling mengasihi dan hubungan baik dengan seluruh penumpang kereta. Dan memastikan bahwa kita memberi yang terbaik agar perjalanan mereka nyaman.
Satu misteri dalam perjalanan yang mempesona ini adalah kita tak tahu di stasiun mana kita akan turun. Maka kita harus hidup dengan cara yang terbaik, menyesuaikan diri, memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain, serta memberikan yang terbaik yang kita miliki.
Sangatlah penting untuk melakukan ini. Sebab bila tiba saatnya bagi kita untuk meninggalkan kereta, kita harus meninggalkan kenangan indah bagi mereka yang meneruskan perjalanan di dalam kereta kehidupan ini.”
Aku mendapatkan postingan tentang Kereta Kehidupan di atas tepat sehari sebelum meninggalnya Bapak Rusmadi, seorang teman Puskesmas yang telah pergi mendahului kami pada bulan April 2015 yang lalu, setelah melewatkan 3 (tiga) hari terakhir sisa hidupnya untuk gathering bersama karyawan dan keluarga Puskesmas ke daerah Dieng, Malioboro dan sekitarnya.
Bapak Rusmadi adalah bapak dari 2 (dua) orang anak, yang keduanya sudah berkeluarga. Bahkan Bapak Rusmadi sudah memiliki cucu. Namun demikian kasih sayangnya pada sang isteri tidak memudar. Keromantisan mereka berdua tidak sengaja terekam dalam ingatan.
Sabtu pagi itu, udara terasa dingin menusuk tulang, ketika perjalanan gathering kami sampai di sebuah resort, tempat transit sementara sebelum kami berangkat menuju Dieng. Sambil bergiliran mengantri di toilet, aku mengawasi Christy, putri kecilku, yang asyik bermain di dekat kolam dengan kawan-kawannya. Beberapa teman Puskesmas bergerombol di ruangan dalam yang lebih hangat udaranya sambil tetap merapatkan jaket. Aku mencium aroma kopi dari sana dan itu sungguh tawaran menggoda yang menuntun langkah kaki menuju kesana.
Ruangan dalam yang terisi beberapa kursi dan sofa memang tak mampu menampung kami ber-lima puluh tujuh orang. Mungkin kapasitasnya hanya sepertiganya saja. Tapi memang aku tidak sedang mencari kursi ‘kan ? Jadi, no problem deh.
Aroma kopi menuntun langkah kaki ke meja di pojok ruangan yang sudah berserakan dengan cangkir sisa minum teman-teman. Masih ada satu dua cangkir bersih yang tersisa. Namun ketika teko tempat kopi kuangkat….. ZONK !!! Aku tertawa dalam hati,” Untunglah, aku bukan maniak kopi.”
Dan saat membalikkan badan itulah, pandangan mataku terhenti sesaat pada sepasang sejoli yang sedang menikmati secangkir kopi berdua. Sang wanita duduk melipat tangan di kursi, sambil menyandarkan kepalanya di pinggang sang pria yang berdiri di sebelahnya. Sedangkan sang pria memeluk bahu sang wanita dengan tangan kanannya, sambil meniup-niup isi cangkir yang dibawa dengan tangan kirinya, sebelum akhirnya menyerahkan cangkir kopi itu pada sang wanita. Lady first ….. !
“Monggo Bu, ngopi dulu…(Mari Bu, minum kopi dulu …),” sapa Bapak Rusmadi saat aku menganggukan kepala sembari tersenyum ketika melewati mereka berdua.
“Inggih, matur nuwun, sekecakaken lho… (Iya, terima kasih, selamat menikmati lho …)” jawabku sambil berlalu. Namun masih sempat tertangkap ekor mataku ketika Bapak Rusmadi menerima cangkir kopi dari istrinya dan meneguk sisa isinya.
Sementara itu, ayah si Christy sedikit bingung melihatku menghampirinya dengan tangan hampa. “Anda belum beruntung !” candaku sambil mengambil sebotol aqua dari dalam tasku, “Ini airnya dulu, kopi dan gulanya menyusul ya !” Hahaha…. Tawa kami lepas pagi itu mengusir kebekuan hawa dingin.
Dan begitulah, Bapak Rusmadi, salah seorang teman seperjalanan dalam kereta kehidupan ini, telah memberikan kenangan indah buatku yang baru mengenalnya setahun terakhir, sejak mutasi tugasku di tempat yang baru. Kenangan tentang kopi beraroma cinta abadi, hingga maut memisahkan raga.
Terima kasih Bapak Rusmadi, telah menjadi salah satu teman perjalanan bersama di dalam kereta kehidupan. Aku tak tahu kapan aku akan tiba di stasiun terakhirku.
Selamat menempuh perjalanan hidup bermakna.
Salam hormat,
Dewi Leyly









Tulisan yang mengisnpirasi mbak Dewi. Wah jadi terharu sayanya. Salam sahabat ya