Surat Buat Pakdhe Giyarno Ragil, Doa Dalam Seloyang Jadah

BUKU, KMAB, YPTD678 Dilihat

Foto : dokpri. Dewi Leyly

SURAT BUAT PAKDHE GIYARNO RAGIL, DOA DALAM SELOYANG JADAH

 

Yth. Pakdhe Giyarno Ragil

 

Seorang ayah yang berbahagia dari 2 (dua) anak laki-laki, 2 (dua) menantu perempuan dan 3 (tiga) orang cucu, yang menghabiskan masa purnanya bersama sang istri terkasih di daerah Kandangan, sebuah daerah di Kabupaten Kediri – Jawa Timur yang berbatasan dengan Kabupaten Malang dan Kabupaten Jombang.

Pakdhe mengisi kesibukan hari-harinya dengan bertani. Bekerja sembari mensyukuri karunia ciptaan Tuhan. Perjalanan dari rumah ke sawah yang ditempuhnya dengan berkendara motor, menyembulkan nasihat untukku.

“Ngene ya, sampean iki rak makaryane yo adoh, numpak motor PP meh sak jam. Ojo lali sakliyane gawe jaket, masker irung ya wajib digawe. Masiyo tho helm-e ana kacane, masker irung ga oleh lali. Saiki sampean durung krasa, mengko yen wes kaya aku, nembe krasa …” (“Begini ya, kamu ini kan bekerjanya jauh, naik sepeda motor pulang pergi hampir se-jam. Jangan lupa, selain memakai jaket, masker hidung juga wajib dipakai. Meskipun helmnya ada kaca pelindung, masker hidung tidak boleh lupa. Sekarang kamu belum merasakan dampaknya, nanti kalau sudah tua seperti aku, baru terasa…”)

“Inggih, Pakdhe…” (“Iya, Pakdhe…”) sambil manthuk-manthuk (mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti) kuresapi setiap ucapan Pakdhe. Pakdhe sudah seperti orang tua untukku. Bahkan sejak dulu menjadi tempat berbagi pertimbangan almarhum Papa dan almarhum Mama sehubungan persiapan pernikahanku dan juga adik-adikku.

Yang tak terlupakan dan tak pernah ketinggalan di acara pernikahanku dan juga adik-adikku adalah jadah / tetel handmade of Pakdhe. Di setiap butiran ketan gurih yang dilembutkan dan lengket satu dengan yang lainnya, terselip doa dari Pakdhe sekalian agar kehidupan pernikahan kami langgeng, awet, kelet (lengket) di dalam Tuhan sampai maut memisahkan, seperti halnya tekstur jadah / tetel  itu sendiri. Sungguh doa yang tulus dari orang tua untuk putra-putrinya dalam mendasari kehidupan pernikahan.

Teladan kehidupan pernikahan tak hanya berhenti di nasihat saja, melainkan juga tercermin dalam laku perbuatan sesehari. Pada bulan Juni 2022 yang lalu, Pakdhe dan Budhe merayakan ulang tahun pernikahan emas. Bahtera rumah tangga yang dilalui selama 50 (lima puluh) tahun dengan segala pergumulan suka dan dukanya, mengantarkan Pakdhe dan Budhe mensyukuri berkat penyertaan Tuhan yang tak berkesudahan dalam kehidupan.

“Pakdhe, sekali-sekali boleh minta foto bersama Pakdhe dan Budhe ya ?” pintaku ketika mengunjungi Pakdhe di hari bersejarahnya itu.

“Iya… Sik sedilut ya, Pakdhe salin sik, ben kitok nggantheng masiyo wes tuwa” (Iya… Sebentar ya, Pakdhe ganti baju dulu, supaya terlihat tampan meskipun sudah tua”), jawab Pakdhe sambil berlalu di balik pintu kamar. Sejurus kemudian, Pakdhe telah mengganti kausnya dengan kemeja batik coklat muda.

“Sudah gantheng, Pakdhe.” pujiku sambil mengacungkan 2 (dua) jempol. Dan Pakdhe hanya tertawa meresponnya.

Terima kasih Pakdhe Giyarno, untuk segala teladan dan doa selama ini. Kiranya kasih setia Tuhan yang menaungi Pakdhe dan Budhe sepanjang 50 (lima puluh) tahun usia pernikahan tetap beserta sepanjang usia. Amin.

 

 

Salam hormat,

ananda Dewi

 

 

Catatan :

Jadah adalah nama makana yang terbuat dari beras ketan dan santan. Jadah atau nama lainnya tetel, uli (di daerah Betawi), merupakan makanan yang cukup popular di Jawa. Bertekstur padat dan gurih. Dan biasanya menjadi makanan tradisional hantaran pada saat acara pernikahan.

Tinggalkan Balasan