Di beberapa artikel sebelumnya, saya sering menyebutkan Diane Gossen. Sebetulnya siapa sih beliau ini? Dalam salah satu video di Platform Merdeka Mengajar (PMM), Ramdani Susanto seorang guru sekolah menengah atas menyebutkan bahwa Diane Gossen ini yang pertama mengenalkan metode restitusi dalam mendisiplinkan anak.
Berdasarkan pengalamannya sebagai seorang guru dan dosen di Canada, Diane sadar bahwa metode biasa seperti hukuman kurang efektif dalam mendisiplinkan anak. Pengalaman tersebut membuatnya memikirkan cara yang lebih baik. Akhirnya muncullah metode restitusi.
Menurut Diane, restitusi adalah metode penyusunan kembali model disiplin di sekolah. Restitusi fokus pada solusi atau pemecahan masalah yang bisa dilakukan, bukan fokus pada masalah. Restitusi mengajak murid mengidentifikasi kembali tindakannya sehingga ia bisa menganalisis dan memikirkan langkah yang tepat dalam pemecahan masalahnya.

Mengapa restitusi baik untuk proses mendisiplinkan anak? Pada restitusi tidak ada penilaian sepihak, celaan maupun hukuman. Selain itu terdapat enam landasan filosofi restitusi, yaitu:
- Kesalahan adalah hal yang normal (manusia berbuat salah setiap hari);
- Setiap manusia tahu jika berbuat salah;
- Semakin disalahkan dan dikritik, membuat murid jadi tidak percaya diri dan lebih fokus pada kesalahan;
- Proses restitusi menguatkan tiap individu karena diri sendirilah yang menyelesaikan dan memperbaiki kesalahan;
- Proses restitusi membuka banyak kesempatan bagi tiap murid untuk meraih “sukses” pertamanya, merasa dihargai dan lebih terbuka untuk percaya pada diri sendiri dan orang lain;
- Individu yang tumbuh dalam proses restitusi menjadi lebih mengerti bahwa kesalahan adalah hal yang biasa sehingga dia pun akan melakukan proses restitusi pada orang sekitarnya.
Lalu, bagaimana langkah-langkah dalam melakukan restitusi?
- Ciptakan suasana yang positif
- Ajak murid untuk berpikir dan menganalisis kesalahannya
- Beri ruang pada murid untuk memikirkan solusi terbaik.
Restitusi akan berdampak pada disiplin diri yang bertahan dalam jangka panjang. Berbeda dengan pemberian hadiah atau hukuman dimana anak akan patuh selama hadiah atau hukuman ada (sementara). Ketika hadiah atau hukuman ditiadakan, bisa jadi anak pun tidak disiplin lagi. Itulah mengapa banyak ditemukan orang-orang yang telah “dihukum” tetap mengulangi kesalahannya. Karena pada dasarnya, ketika mereka dihukum, mereka tidak diberi ruang untuk memahami kesalahannya dan upaya memperbaiki kesalahan tersebut.
Bagaimana contoh realnya dalam kehidupan sehari-hari? Nantikan pada postingan berikutnya ya. Insya Allah.
to be continued ….








2 komentar