Lomba Blog PGRI Hari ke-15

Edukasi, YPTD406 Dilihat

Konsep Balanced Scorecard di Perguruan Tinggi

Menurut Elfina Yenti (2015) menjelaskan bahwa Robert S. Kaplan dan David P. Norton pada tahun 1992 melaporkan hasil proyek-proyek penelitian pada multiperusahaan dan memperkenalkan pada suatu metodologi penilaian kinerja yang berorientasi pada pandangan strategis ke masa depan, yang disebut balanced scorecard.

Balanced scorecard mengembangkan seperangkat tujuan unit bisnis melampaui rangkuman unit finansial. Para eksekutif perusahaan sekarang dapat mengukur berbagai unit bisnis mereka dengan menciptakan nilai bagi para pelanggan perusahaan saat ini. Kemudian yang akan datang dan seberapa banyak perusahaan harus meningkatkan kemampuan internal dan investasi di dalam sumber daya manusia, sistem dan prosedur yang dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja yang akan datang. Balanced Scorecard mencakup berbagai aktivitas penciptaan nilai yang menghasilkan dan para partisipan perusahaan yang memiliki kemampuan dan motivasi yang tinggi. (Kaplan dan Norton, 1996:7) yang dikutip dalam Elfina Yenti (2015).

Menurut Sri Adelia (2015) menjelaskan bahwa pada dasarnya balanced scorecard merupakan sistem manajemen bagi perusahaan untuk berinvestasi jangka panjang demi memperoleh hasil finansial yang memungkinkan perkembangan organisasi bisnis daripada sekedar mengelola bottom line untuk memacu hasil-hasil jangka pendek (Gaspersz, 2005: 3). Perusahaan menggunakan fokus pengukuran scorecard untuk menghasilkan berbagai proses manajemen (Kaplan dan Norton, 1996:9) :

  1. Memperjelas dan menterjemahkan visi, misi dan strategi perusahaan,
  2. Mengkomunikasikan dan mengkaitkan berbagai tujuan dan ukuran strategis,
  3. Merencanakan, menetapkan sasaran, dan menyelaraskan berbagai inisiatif strategis.

Menurut Kaplan dan Norton yang dikutip dalam Anggi Putri Dewi (2015) menjelaskan bahwa, balanced scorecard merupakan sistem manajemen strategis yang diturunkan dari visi dan strategi serta mereflekasikan aspek-aspek terpenting dalam suatu bisnis.

Pendekatan balanced scorecard melakukan pengukuran kinerja berdasarkan pada aspek finansial maupun non-finansial. Aspek nonfinansial mendapatkan perhatian karena dasarnya peningkatan kinerja keuangan berasal dari aspek non-finansial yaitu peningkatan efektivitas proses bisnis, komitmen organisasi dan kepercayaan pelanggan terhadap produk, sehingga apabila perusahaan akan melakukan pelipatgandaan kinerja maka fokus perhatian haruslah ditujukan kepada peningkatan kinerja di bidang non-finansial, karena dari situlah kinerja keuangan berasal. Dalam balanced scorecard, terdapat empat perspektif yang berbeda dari suatu aktivitas perusahaan/institusi yang dapat dievaluasi, yaitu perspektif:

  1. Finansial,
  2. Pelanggan,
  3. Proses Bisnis Internal,
  4. Pembelajaran dan Pertumbuhan

Menurut Helmy Adam (2015), Berikut ini penjelasan singkat dari 4 prespektif yang dapat diadopsi oleh perguruan tinggi:

  1. Prespektif finansial: kinerja keuangan akan berbasis pada upaya memberikan dampak laba maksimal bagi shareholders. Ini akan terkait dengan ukuran profitabilitas semisal laba operasi, return on capaital employed (ROCE), atau economic value added (EVA)
  2. Bisnis internal: untuk mencapai kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi laba pada shareholders, proses bisnis harus benar-benar dilakukan dengan efisien dan efektif, misalnya berbasis analisis rantai nilai, tingkat inovasi produk, proses operasi, ataupun delivery-
  3. Pembelajaran dan pertumbuhan: mengidentifikasi infrastruktur yang membangun untuk menciptakan pertumbuhan dan peningkatan kinerja jangka panjang. Sumber utama pembelajaran dan pertumbuhan adalah manusia, sistem, dan prosedur institusi.
  4. Pelanggan: indentifikasi pelanggan dan segmen pasar tempat suatu bisnis itu bersaing. Ukurannya biasanya terdiri dari: kepuasan pelanggan, retensi pelanggan, akuisisi pelanggan, profitabilitas penggan, dan pangsa pasar segmen sasaran.

Tinggalkan Balasan