CINTA DI UJUNG PENA

Cerpen, Terbaru976 Dilihat

                                     Dokumen pribadi 

 

Hari ini hari yang begitu indah. Tepatnya pada har Rabu, 27 Januari 2021. Langit yang begitu cerah memberikan sinyal aktivitas kita semoga lancar.  Ku injak pedal sepeda motor agar mesin panas dan siap meluncur bak kemedan perang.  Pagi itu aku bertemu dengan seorang teman BK karena memang beberapa hari sudah janjian untuk melakukan survey untuk memastikan katagori siswa yang tidak mampu.

Sesampai di sekolah seperti biasanya menugur sapa para dewan guru. Atau melihat kondisi  siswa dalam penerapan protokol kesehatan. Maklum dalam situasi pandemi tetap disiplin dan komitmen menjalankan protokol kesehatan. Selang beberapa menit berbincang dengan BK untuk persiapan survey kerumah siswa dan siswi.

Ada cerita yang mengharukan setiap moment setiap sesi dalam wawancara dengan orang tua / wali murid. Sebut saja namanya bunga. Orangnya ceria penuh dengan semangat. Dalam keseharian bekerja dirumah makan dekat dengan rumah bunga. Bapaknya sudah meninggal dunia. Kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Bunga anak tertua dari 3 bersaudara. Dalam keseharian bunga sebagai tulang punggung keluarga. Pagi pergi kesekolah demi mencapai asa dan cita-cita. Siang harinya bunga bekerja keras. Tanpa malu dan tak banyak alasan dalam menjalani kehidupan.

Pagi itu saya mendengarkan alur cerita kehidupan bunga sampai dengan kehidupan keluarga. Atas hasil wawancara saya dengan ibunya. Yang sudah mulai menua. Pipinya  sudah mulai keriput. Dalam  canda dan tawa beliau bercerita tentang pasang surut kehidupan. Seperti gelombang laut kadang  pasang dan surut. Tak sadar pipi ini meneteskan air mata, “ya Allah betapa tegarnya mereka”.  Dalam keterbatasan finansial namun  tetap ceria menghadapi beban hidup yang selalu menghimpit.

“Ibu bunga bekerja sebagai tukang urut pendapatanya tentu tidak menentu, pungkasnya!”. Wajah menua tetap ceria. Tidak ada wajah expresi dalam kekalutan ataupun dalam tekanan. Mungkin perlu di teliti apa kunci hidup mereka dalam kegembiraan dalam suasana himpitan keluarga?

Sesekali ibunya curhat .. wong hajatan ngasi juga, yo beli garam, beli gula , beli minyak. Dak enak kalau dak ngasih. Kan endak enak enduk!. Ada duit 1 Juta ya keluar juga, padahal buat kebutuhan  keluarga dan seragam sekolah. Ma itulah hidup bermasyarat toh!, sembari melempar senyuman dengan lepas..

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

1 komentar