KMAC H-31 Redundant 28: Usia dan Perspektif Heraclitus

Redundant 28:

Usia dan Perspektif Heraclitus

Oleh Erry Yulia Siahaan

“You cannot step into the same river twice, for other waters are continuously flowing on.”

Demikian pernyataan terkenal dari filsuf Yunani kuno, Heraclitus. Makna dari pandangannya itu adalah “segala sesuatu terus berubah”. Penafsirannya bisa secara literal, bisa metaforis.

Along the River (Sumber: Petr Kratochvil/all-free-download.com)

Secara literal, sungai selalu berubah secara fisik. Meskipun, perubahan ini luput dari perhatian kita. Air sungai yang mengalir menyebabkan air di satu tempat tidak akan pernah sama. Manusia tidak akan bisa menginjak air yang sama dalam sungai yang mengalir. Meskipun, kelihatannya air sungai itu sama saja.

Secara metaforis, ungkapan itu bisa merujuk pada apa saja. Perubahan terjadi dalam segala hal. Segala sesuatu berubah, atau mampu berubah.

Ini bisa menjadi sebuah analogi dari waktu yang terus berjalan dan bahwa suatu peristiwa tidak akan kembali lagi. Hidup manusia terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Meskipun kelihatannya sama, seseorang sebenarnya tidak lagi menjadi orang yang sama seiring berjalannya waktu. Sebab, dalam dirinya terjadi perubahan, baik dari fisik maupun psikologis.

Hari ulang tahun, misalnya, kelihatannya sama saja, karena dirayakan pada tanggal dan bulan yang sama. Bahkan, waktunya (jam) bisa juga diatur sepersis mungkin dengan waktu seseorang dilahirkan. Namun, sebenarnya setiap momen itu hanya datang satu kali.

Waktu adalah Anugerah

Tentu beralasan bahwa pagi tadi (Senin, 13 Maret 2023), Pdt. M Nainggolan menggarisbawahi ucapan Heraclitus itu sebagai pengantar renungan pada wisata rohani para lanjut usia (lansia) dari gereja kami di Cipanas. Nainggolan bahkan mengajak jemaat menyanyikan lagu berjudul “Pangke Ma Tingkim” (“Pakailah Waktumu”) sebelum masuk ke sesi renungan.

(Sumber: Unsplash)

Lagu itu mengingatkan, bahwa waktu begitu lekas berlalu. Pantas untuk kita pertanyakan, apa sebenarnya yang paling penting dalam hidup ini. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Yang kita nilai cantik dan indah, semua akan lewat. Tetapi, hidup dalam kasih Tuhan akan menjadikan hari-hari kita menjadi berarti dan itu tidak lekang oleh waktu.

Ini senada dengan pesan dalam lagu “Hidup Ini Adalah Kesempatan” yang beberapa kali diputar melalui dua layar karaoke dalam bis, disambut dendang penuh semangat dari rombongan yang jumlahnya sekitar 40 peserta (33 orang di antaranya lansia). Bagian akhir lagu itu adalah sebagai berikut:

Oh Tuhan pakailah hidupku
Selagi aku masih kuat
Bila saatnya nanti, ku tak berdaya lagi
Hidup ini sudah jadi berkat

Lagu ini bermakna bahwa semua akan berlalu dan yang berlalu itu tidak akan datang lagi. Adalah ideal bahwa setiap orang menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Kita meminta kepada Tuhan, agar Tuhan berkenan memakai hidup kita sebagai pembawa berkat atau hal-hal bermanfaat bagi orang lain. Hingga, ketika nanti kita harus berlalu, hidup kita sudah bermakna. Sudah menjadi berkat bagi orang lain.

Nainggolan mengaitkan ucapan Heraclitus dengan pepatah yang seringkali kita dengar, “waktu adalah peluang, waktu adalah uang”.

Untuk orang yang beriman, tegas Nainggolan, “Waktu adalah pemberian Tuhan …. waktu adalah anugerah.”

Klimaks

Menjadi menarik, ketika Nainggolan melandaskan renungannya pada Mazmur 150 ayat 1 sampai 6. Ini adalah pasal terakhir dari Kitab Mazmur.

Uniknya, pasal ini dimulai dengan kata “Haleluya!” dan ditutup dengan kata “Haleluya!”, seperti berikut ini:

Psalm 150: 6 (Sumber: Pinterest)

“150:1 Haleluya!  Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat! 150:2 Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya  yang hebat! 150:3 Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! 150:4 Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling! 150:5 Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang! 150:6 Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!

Menarik untuk ditelaah bagaimana relevansi ucapan filsup Yunani itu dengan Mazmur 150. Merupakan kelaziman bahwa suatu naskah menempatkan bagian akhir sebagai simpulan. Pasal terakhir dari Mazmur ini merupakan klimaks dari lima kidung Kemuliaan Tuhan dalam Semua Ciptaan (Mazmur 146-150) dan akhir dari semua tanggapan (umat Israel) kepada Tuhan.

Sebagaimana diketahui, Kitab Mazmur terdiri dari lima bagian, yaitu:

Bagian 1 (Mazmur1-41): Bagian ini menekankan bagaimana Tuhan selalu menyertai kita. Mazmur pertama merupakan contoh gamblang, dengan menyebutkan bahwa orang yang merenungkan Firman Tuhan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air—ia berhasil dalam segala hal yang dilakukannya.

Bagian 2 (Mazmur 42-72): Bagian ini mengenai bagaimana Allah berjalan di depan kita. Tuhan hadir di tengah pergumulan dan mengenai kegelisahan bila hidup dalam kejahatan. Seperti Daud yang mengakui dosanya dalam Mazmur 51 dan memohon kepada Tuhan untuk membasuh pelanggarannya dan menciptakan dalam dirinya hati yang bersih.

Bagian 3 (Mazmur 73-89): Bagian ini tentang Tuhan yang bekerja sepanjang waktu. Dia menasihati anak-anak Israel untuk memberitahu generasi berikutnya, bahkan anak-anak yang akan lahir, perbuatan Tuhan yang besar dan perkasa.

Bagian 4 (Mazmur 90-106): Bagian ini berfokus pada bagaimana Tuhan amat berkuasa. Dia kekal. Dia memerintah selama-lamanya. Di sini antara lain dibicarakan betapa singkatnya hidup kita di bumi ini, jadi kita perlu menghitung hari-hari kita dengan benar.

Bagian 5 (Mazmur 107-150): Bagian ini melukiskan bagaimana Tuhan bekerja di tengah-tengah manusia. Dalam pekerjaan sehari-hari, dalam pernikahan, dalam membesarkan anak dan merawat orangtua. Dalam bagian kelima ini, pada lima pasal terakhir (146-150) berisi nyanyian mengenai kemuliaan Tuhan dalam semua ciptaan.

(Sumber: seekpng.com)

Memuji Tuhan

Menurut situs Theology of Work, datang sebagai akhir dari seluruh kumpulan Mazmur, pasal 150 menekankan bahwa musik memang karya yang sangat penting. Namun, pengertian musik di sini bisa secara harfiah maupun kiasan.

Secara literal, kita diajak menemukan waktu untuk mengekspresikan kreativitas artistik dalam diri kita. Jika kita tidak bisa, kita patut bertanya, mungkinkah kita kehilangan nilai dari lagu-lagu yang Tuhan taruh di dalam hati kita?

Secara kiasan, nas ini mengundang kita untuk melakukan pekerjaan kita seolah-olah itu semacam musik. Misalnya, dengan menjalin hubungan lebih harmonis dan dengan ritme yang lebih baik dalam hal bekerja dan menjalin relasi; dengan melihat keindahan di balik setiap hal yang mungkin kita rasakan kurang baik; dan sebagainya. Sehingga, pada akhirnya kita dapat mengatasi tantangan yang bisa membuat kita berdosa bila kita “tidak harmonis”.

Mazmur merupakan kitab yang mencakup setiap aspek kehidupan, dari yang paling gelap (seperti kematian dan keputusasaan) hingga harapan paling cemerlang (kemakmuran dan harapan). Tapi kesimpulan akhir dari Mazmur adalah pujian.

Persamaan Reaksi

Puji Tuhan, saya melihat, sebenarnya pembahasan mengenai topik ini bisa dirumuskan dalam sebuah persamaan reaksi. Di mana A ditambah B akan menghasilkan C, yang untuk terjadinya reaksi dibutuhkan syarat dan/atau katalisator berupa D. Sehingga rumusannya sebagai berikut:

Dalam konteks ini, A adalah usia, B adalah perspektif Heraclitus, C adalah berkat, D adalah Firman Tuhan dan hidup dalam Tuhan.

Usia atau age dalam bahasa Inggris berarti lamanya waktu seseorang telah hidup atau sesuatu telah ada. Artinya, usia berkonotasi dengan waktu hidup.

Hidup dicirikan dengan bernapas. Terkait ayat terakhir dari Mazmur (“Biarlah segala yang bernafas memuji Tuhan! Puji Tuhan! Haleluya!”), menjadi jelas bahwa waktu yang Tuhan berikan kepada kita adalah waktu untuk memuji Tuhan. Waktu untuk hidup adalah terbatas. Dari hari ke hari terjadi perubahan dalam diri manusia, khususnya fisik (perspektif Heraclitus). Dari ke hari, waktu menuju batas titik akhir itu makin pendek. Kesempatan makin sedikit.

Seperti disinggung di atas, “memuji Tuhan dengan musik” bisa bermakna kiasan. Memuji Tuhan bisa dengan dilakukan dengan cara berbuat baik, yang didasari keikhlasan bahwa semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Bukan untuk pencitraan atau untuk memuaskan kesombongan. Kita bisa memuliakan Tuhan melalui pekerjaan dan kegiatan yang kita lakukan untuk mengisi waktu dalam hidup kita. Intinya, hidup kita haruslah bisa menjadi berkat, yakni dengan mengambil tindakan nyata.

(Sumber: seekpng.dom)

Kehidupan yang menjadi berkat dijelaskan dalam Alkitab, antara lain sebagai kehidupan yang diisi dengan perbuatan baik (2 Timotius 3 ayat 16-19), berupa perkataan baik, tingkah laku baik, kasih, kesetiaan, menjaga kesucian, mau berkorban bagi sesama.

Sementara itu 2 Korintus 9 ayat 10 menyebutkan bahwa Tuhan “menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, la juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu”. Artinya, berkat yang kita terima bukanlah hanya untuk diri kita, tetapi juga untuk ditaburkan sebagai “benih” sehingga menjadi berkat bagi orang lain.

Kita melakukan itu semua karena memang itulah yang dikehendaki oleh Tuhan. Semua itu menjadi ibadah yang murni dan menunjukkan bahwa iman kita adalah iman yang hidup. Semua itu membawa kita pada hikmat dalam mengisi waktu agar benar-benar bermanfaat. Dan, seperti kata lagu di atas, ketika kita harus berlalu, hidup kita benar-benar sudah menjadi berkat. ***

Tinggalkan Balasan

1 komentar