
Senja ini, aku bersandar pada dinding lapuk rumah tak bertuan. Menunggu hujan reda walau malam mulai berkelindan. Aku mulai berbincang dengan hujan. Sambil memandang ke langit kelam tanpa gumpalan awan.
Hujan, aku kedinginan, dan dijawab suara angin menderu kencang. Aku menjilat tetesan air yang jatuh di bibir pucat membayang. Takada yang memayungi pun mengantar pulang. Berapa lama lagikah derasmu mereda, tanya dalam bimbang.
Hujan tak hendak pergi, menggoda mengajak lebur berdekapan. Kenapa harus takut basah, aku dan hujan saling berkejaran. Raga terasa lapang meluruhkan rindu yang kadang menyesakkan. Hujan, engkau juga menghanyutkan airmata yang ikut turun mencari kawan.
Hanya hujan yang membawaku kembali keperaduan. Basah kuyup dalam kegembiraan. Hujan menghilang dalam gelap, saat malam dan bulan bercumbu-cumbuan. Kepada hujan, tangan masih menggenggam basah dalam lambaian.
Fatmi Sunarya, 12 September 2021
Puisi ke 22 KMAA







