Rinduku akan senyumnya, tawanya dan pelukkan hangat seperti biasa darinya. Sudah hampir satu minggu keceriaan itu hilang. Jangankan senyuman untuk menatap lama saja tidak bisa didapatkan.
Hanya rasa sakit dan suara meringis yang terdengar, bersuara hanya disaat benar-benar dirinya membutuhkan. Hanya banyak diam dan lemas terkulainya tubuh mungilnya.
Panas yang tingginya melebihi batas normal, telah membuat tubuhnya memerah layaknya tubuh selepas berendan dengan air panas. Bibir yang menghitam dikarenakan panasnya yang tinggi, kadang rasa panas itu juga diiringi dengan menggigil nya sekujur tubuh.
Mata yang sudah mulai satu menyiratkan akan ketidakberdayaan dirinya untuk bisa bangkit sendiri. Betapa sedih dan sepinya diri ini.
Berhari-hari masih tergeletak lemas di atas kasur. Makan tidak selera dan bahkan tidak mau. Hanya air minum yang sanggup menaklukkan sakitnya tenggorokannya. Sehingga bisa memberikan dahaga sejenak. Apapun yang ditanya akan maunya, jawabannya sama yaitu tidak.
Hari keĀ delapan telah menampakkan hasil yang lebih baik. Panas sudah mulai turun dan senyum pun sudah mulai tampak sedikit walau tampak nyata sangat dipaksakan. Mungkin begitulah caranya menghibur hati ini.
Sekujur tubuhnya dihiasi bintik-bintik merah. Apakah ini pertanda teramat panasnya suhu tubuhnya sehingga harus memaksa bintik-bintik itu keluar dari tubuhnya. Mata juga ikut memerah, telinga tak kalah ikut nimbrung begitupun kepala, tangan dan semuanya.
Semoga kesembuhan akan dirinya segera hadir. Hanya butuh kesabaran dan keikhlasan untuk menerima semua ini.
Syafakillah nak gadis… Permata Ayah dan bunda…
Betapa Allah sayang kepada kita, sehingga dengan adanya sakit ini begitu banyak hikmah positif yang hadir.
Kita berjuang bersama-sama yang nak, yakinlah Allah akan berikan kebahagiaan dan kesembuhan.
Tetap kuat dan semangat pertama, love you so much




