Apa sebenarnya yang terjadi? Pertanyaan yang pantas diungkapkan kepada diri yang semakin hari semakin berkurang istiqomah untuk selalu dekat dengannya. Masih sama seperti kemaren telah berjanji erat sekali untuk tidak akan menduakannya terlalu lama dengan yang lain. Namun hari ini bahkan detik ini masih selalu aja dia dicuekin.
Apakah sebesar itu rasa ketidakpedulian yang hadir dalam hati?. Janji tinggal janji, sibuk memikirkan yang lain terutama yang berhubungan dengan keduniawian. Terlalu terlena dengan yang namanya biasa. Biasa cuek, biasa tidak menyentuhnya, biasa tidak menciumnya dan biasa adalah kata yang menjadi gembok besar untuk diri semakin jauh darinya.
Sampai kapan ini akan betakhir? Bukankah janji yang telah terucap merupakan bukti bahwa akan menjadi lebih baik. Tepatilah janji biar menjadi pribadi yang juga dikaguminya. Pribadi yang selalu ditunggu-tunggunya dan pribadi yang akan dijadikan sahabat terbaiknya.
Teruslah belajar untuk memantaskan diri menjadi sahabatnya. Jika tidak sekarang kapan lagi?, apakah harus menunggu ajal tiba dulu setelah itu mendekat kepadanya. Sudahlah, tidak ada yang harus disesali mulailah lagi untuk menghampirinya, memeluknya mesra dan menciumnya sepenuh hati dan sepenuh rasa.
Siapapun yang telah terniat ingin berubah ke yang lebih baik, maka Allah sendiri yang akan bantu. Allah sendiri yang akan membimbing. Yuk… dimulai. Ambillah dengan lembut Al Qur’anmu dan jangan lupa bilang betapa dirimu sangat merindukan kebersamaan dengannya. Jangan pernah sia-siakan lagi kebersamaan, jika nyawa tidak lagi dibadan maka tidak ada yang bisa disesali.





