ARTIKEL UNTUK LOMBA BLOG GURU
Hari, tanggal : Rabu, 3 Februari 2021

SMPN 2 GEMUH TERAPKAN PENDIDIKAN KARAKTER DENGAN SHOLAT DHUHUR BERJAMA’AH
Sebelum Korona melanda dunia. SMPN 2 Gemuh menerapkan pendidikan karakter dengan sholat dhuhur berjama’ah di dalam kelas.
Salah satu tujuan pendidikan karakter adalah mendidik agar peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Untuk mencapai tujuan tersebut Kepala SMPN 2 Gemuh, Drs Yuli Listyanto, M.Pd berusaha menerapkan gerakah sholat dhuhur berjama’ah di lingkungan SMPN 2 Gemuh. Karakter peserta SMPN 2 Gemuh yang rata-rata orang tuanya petani adalah keras. Walaupun pendidikan agama sudah ada di lingkungan rumah mereka, namun itu belum mampu membuat peserta didik SMPN 2 Gemuh memiliki karakter agamis yang baik. Dengan kegiatan sholat dhuhur berjama’ah, diharapkan siswa-siswi SMPN 2 Gemuh dapat menjadi manusia yang berkarakter agamis yang baik.
Adapun pelaksanaan sholat dhuhur berjama’ah dilakukan di dalam kelas masing-masing. Rombongan belajar SMPN 2 Gemuh terdapat 24 kelas, jadi ya, terdapat 24 rombongan sholat dhuhur berjama’ah. Waktu pelaksanaan sholat dhuhur berjama’ah di laksanakan pada waktu memasuki jam ke 7 jam pelajaran sekolah. Setelah istirahat Pak Imron selaku kesiswaan mengingatkan para siswa-siswi untuk segera mengambil air wudhu. Air wudhu telah disediakan sekolah di depan kelas masing-masing. Para guru memandu siswa-siswi untuk mengambil air wudhu dan mempersiapkan tikar di dalam kelas. Setelah semua siap bapak guru atau salah satu siswa segera memposisikan diri sebagai imam. Waktu pelaksaan sholat dhuhur berjama’ah sekitar 20 menit. Selesai sholat, guru dan siswa memulai pelajaran pada jam ke-7.
Dampak positif dari kegiatan sholat dhuhur berjama’ah mulai nampak di beberapa kelas, terutama kelas 7. Siswa siswi yang melaksanakan kegiatan sholat dhuhur berjama’ah mulai berubah menjadi baik akhlaknya. Kekhawatiran orang tua terhadap ibadah sholat anaknya juga berkurang, karena anaknya pulang ke rumah sudah dalam keadaan sholat dhuhur di sekolah.
Karakter merupakan pendukung utama dalam pembangunan bangsa. “Bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter(character Building). Charater Building inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju dan jaya serta bermartabat. Kalau character building tidak dilakukan, maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli”, kata Bung Karno. Pendidikan karakter adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana serta proses pemberdayaan potensi dan pembudayaan peserta didik guna membangun karakter pribadi atau kelompok yang baik sebagai warga negara.
Menurut Kamus Psikologi, pendidikan karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan berkaitan dengan sifat-sifat yang tetap. Menurut Thomas Lickona, Pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang , sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.
Berdasarkan UU no 20 tahun 2003 pasal 3 berbunyi, Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, serta beriman, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Fungsi pendidikan karakter adalah mengembangkan potensi dasar seorang anak agar berhati baik, berperilaku baik, serta berpikir baik. Pendidikan karakter dapat dilakukan bukan hanya di bangku sekolah, melainkan juga dari berbagai media yang meliputi keluarga, lingkungan pemerintah, dunia usaha, serta media teknologi. Tujuan pendidikan karakter adalah membentuk bangsa yang tangguh berakhlak mulia, bermoral, bertoleransi, bekerja sama atau bergotong royong.
Penguatan Pendidikan Karakter yang selanjutnya disingkat PPK adalah gerakan pendidikan dibawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan , dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM)


