Serba Serbi PJJ
Oleh: Khoirul Anwar
Pembelajaran Jarak Jauh ( PJJ ) dilaksanakan oleh seluruh sekolah di Indonesia adalah berdasarkan kebijakan pemerintah dalam rangka mengatasi dan mencegah terjadinya penularan wabah virus covid-19 yang melanda negara kita sejak Maret 2020. Tepatnya tanggal 15 Maret tahun 2020 seluruh sekolah di Indonesia dipaksa harus merubah model pembelajaran dari tatap muka/ luring menjadi online / daring. Pembelajaran Jarak Jauh sebelumnya belum pernah dilakukan untuk level sekolah dasar, menengah, dan perguruan tinggi. Maka dengan ditutupnya sekolah sejak 15 Maret 2020 itu maka mau tidak sistem pembelajaran harus menggunakan pola PJJ.
Model Pembelajaran Jarak Jauh akhirnya berjalan meski tersendat-sendat dan banyak rintangan, bahkan yang diperkirakan tidak berlangsung lama ternyata sistem PJJ berlangsung sampai tahun ajaran berakhir. Nah Pembelajaran Jarak Jauh yang telah berlangsung hampir setahun itu tentu terdapat hal-hal yang menarik, lucu, bahkan mungkin aneh, dan tentunya yang harus kita cari adalah bagaimana kelemahan dan kelebihan dari sistem PJJ tersebut jika dibandingkan dengan sistem tatap muka seperti biasa. Berkaitan dengan hal tersebut maka disini penulis sengaja akan mengetengahkan beberapa hal yang berkaitan dengan berlangsungnya sistem PJJ yang kemarin sudah berjalan, khusunya kelemahan dan kelebihannya. Marilah kita ikuti sajian sekitar PJJ sebagai berikur;
A. Istilah-istilah Baru Dalam PJJ
Pembelajaran Jarak Jauh yang sudah berlangsung hampir setahun itu ternyata memunculkan beberapa istilah baru yang mungkin sebagian besar guru dan siswa sebelumnya tidak mengenalnya seperti istilah GoogleClassroom ( GCR ), Googleform ( GF ), Link baik GCR, GF, Youtube, atau lainnya, kemudian istilah Upload, Learning Management System ( LMS ), Elearning Content ( Modul digital ), Blended learning ( Penggabungan LMS dengan tatap muka ), virtual learning ( pembelajaran virtual ), GoogleMeet, Zoom, dan masih banyak lagi istilah yang berkaitan dengan belajar secara online atau PJJ.
B. Jalinan Komunikasi Antara Guru Dan Siswa
Sistem jalinan komunikasi dalam pembelajaran sangat penting karena itu bisa menjadi faktor penting untuk mencapai keberhasilan suatu proses pembelajaran. Proses komunikasi dalam pembelajaran tatap muka biasanya terjadi secara langsung, komunikatif, intens, terhubung secara fisik dan psikis, bahkan sering terjalin kasih sayang seperti antara anak dan orang tua kandung. Nah dalam pembelajaran jarak jauh ( PJJ ) ini jalinan itu berubah secara drastis dan signifikan, karena antara guru dan murid tidak bertemu secara fisik tapi hanya melihat di dunia maya atau virtual. Guru hanya melihat sebagian wajah/tubuh siswa lewat laptop atau HP dan mendengar suara yang juga terkadang terkendala dengan jaringan. Sebaliknya siswa juga hanya bisa mendengar suara guru dan melihat lewat HP atau laptop mereka tanpa bisa merasakan hangatnya dan perhatian langsung dari sang guru. Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap perkembanga psikis siswa. Murid-murid tidak bisa merasakan kehadiran cinta kasih secara kejiwaan dari sosok guru, siswa juga susah meneladani beberapa sikap atau perilaku guru yang sangat mulia dan penuh kasih sayang. Dampak dari hampanya komunikasi yang ada itu salah satunya adalah siswa sedikit agak “kurang sopan” atau tatakrama siswa kurang terpatri karena kurangnya jalinan kasih tadi.
C. Keseruan Dan Kelucuan Dalam PJJ
Pembelajaran Jarak Jauh yang berlangsung sekitar setahun ini juga memunculkan beberapa keseruan dan kelucuan dalam perjalanannya. Biasanya dalam pembelajaran tatap muka di sekolah guru langsung bisa melihat pakaian sekolah anak murid berupa seragam lengkap atas dan bawah. Tetapi dalam PJJ terkadang guru tidak tahu pakaian secara lengkap siswa , karena berlangsung secara virtual/daring. Terkadang siswa berpakaian ala kadarnya seperti memakai celana pendek, sarung, celana training, kaos oblong, kaos yang lusuh, atau baju lain yang kurang pas jika dilihat oleh guru. Ini sering terjadi jika tidak berlangsung ZoomMeeting yang mengharuskan memakai seragam lengkap dan diperlihatkan video zoomnya. Kemudian juga terjadi dalam proses PJJ ( bukan saat zoomMeeting) guru sedang menjelaskan, mereka tertidur atau meninggalkan HP atau laptonya, atau beralih bermain Game, dan seterusnya yang intinya siswa menghindari berlama-lama dalam PJJ. Akhirnya pada saat guru memberi tugas terkadang siswa tersebut tidak tahu dan akhirnya terlambat dalam menyelesaikan atau mengumpulkan tugas tersebut. Selain itu juga sering terjadi saat diberikan tugas tagihan oleh guru, siswa jawabannya sama persis beserta titik dan komanya dengan temennya, hal ini karena siswa tersebut sudah pasti menyalin/menyontek pekerjaan temennya itu, dan itu sering tidak disadari oleh para siswa, ini terkadang cukup lucu bagi kita guru saat mengoreksi jawaban siswa tersebut.
D. Kelemahan Dan Kelebihan PJJ
Sistem Pembelajaran Jarak Jauh yang sudah kita jalankan setahun kemarin tentu disana-sini terdapat kekurangan dan kelebihan, hal itu juga dipengaruhi oleh banyak faktor seperti jenis wilayah kota besar atau desa terpencil, fasilitas pendukung di daerah itu khususnya jaringan internetnya, dan lain-lain. PJJ sebagai suatu sistem pembelajaran tentu memiliki kelemahan dan kelebihan diantaranya adalah:
1. Kelemahan PJJ
a. Sistem PJJ sangat tergantung dari jaringan Internet di daerah tersebut, jika jaringan bagus/stabil maka pelaksanaan PJJ juga akan berjalan lancar, tetapi jika jaringan internet terganggu maka akan berpengaruh pada kualitas dan kelancaran pelaksanaan PJJ itu sendiri.
b. Sisten PJJ sangat tergantung pada keberadaan kuota internet baik dari guru maupun siswa, jika guru ketersediaan kuota terganggu/tersendat sudah dipastikan PJJ juga akan tersendat atau terganggu, begitu juga dengan siswa, jika siswa ketersediaan kuota terbatas atau bahkan terhenti ( kosong ) maka sangat berpengaruh pada pelaksanaan PJJ, bisa ketinggalan info mata pelajaran atau tugas tugas meskipun bisa bertanya pada teman.
c. Komunikasi antara guru dan siswa hanya secara virtual ( dunia maya/ tidak langsung ) sehingga jalinan keterikatan batin kurang bahkan mungkin tidak ada. Keteladanan perilaku guru kurang nampak saat PJJ sehingga ikatan batin juga terasa kurang. Hal ini berdampak pada banyaknya perilaku siswa yang masih kurang dari segi tatakrama kesopaan dalam berbicara atau bertutur kata.
d. Keteladanan guru dalam sikap dan perilaku kurang nampak terutama dalam hal membimbing, menasehati, mengarahkan, memberi siraman rohani yang menenangkan, karena tidak kontak langsung sehingga terasa hampa meski melalui virtual juga bisa menasehati atau memberi siraman rohani, tetapi terasa kurang memuaskan atau kurang maksimal karena tidak bisa melihat reaksi/respon siswa secara langsung.
e. Pada saat pemberian tugas atau kegiatan ulangan guru tidak bisa mengawasi siswa secara langsung apakah tugas atau hasil ulangan tersebut benar-benar dari pekerjaan sendiri ( murni ) atau minta bantuan google atau teman. Sehingga hasil akhir dari tugas atau ulangan sering kali masih kurang akurat jika dibandingkan dengan saat tatap muka langsung.
f. Proses menagih tugas-tugas kepada siswa terkadang berlangsung cukup lama ( bisa berhari hari ) dan juga melibatkan lebih dari satu pihak ( guru mata pelajaran, wali kelas, bahkan guru BK ). Hal ini menjadi banyak menyita waktu dari guru mata pelajaran dan juga wali kelas.
g. Siswa yang pengawasan orang tuanya lemah/lengah sering kali tidak serius mengikuti PJJ bahkan beberapa kasus terjadi si anak tidak ikut kegiatan PJJ sampai beberapa kali, hal ini dibuktikan dengan tidak mengisi kehadiran di GCR dan tidak mengerjakan tugas sampai lebih dari satu kali. Apalagi jika kedua orang tua sibuk atau kedua orang tua kurang paham dengan masalah IT, sehingg si anak sering kali berbohong kepada orang tua tentang keikutsertaannya dalam PJJ.
h. Peran orang tua yang masih banyak kurang men-support dan mengawasi dengan baik anak-anaknya dalam pelaksanaan PJJ dengan berbagai macam alasan dan problemnya, ada yang karena sibuk pekerjaan, sibuk ngurusin rumah dan adik, kekurang pahaman terhadap IT, bahkan ada juga yang cuek atau kurang peduli atas pendidikan anaknya.
i. Orang tua atau anak beberapa kasus sering kehabisan kuota pada hari hari tertentu sehingga tidak bisa ikut kegiatan sekolah yang lain seperti kegiatan pembiasaan tadarus, literasi, pramuka, dan seterusnya. Hal ini berakibat siswa tersebut kurang dapat ilmu tambahan selain mata pelajaran dan info tertentu yang mungkin cukup penting dari sekolah.
2. Kelebihan PJJ
a. Belajar lebih efektif dan efisien secara waktu bagi guru karena mengajar lansung 2,3,4 atau 8 kelas dalam waktu yang bersamaan, hal ini seharusnya membuat waktu untuk mempersiapkan pembelajaran bagi guru jauh lebih banyak, tetapi terkadang waktu habis untuk mengoreksi dan menagih tugas-tugas siswa.
b. Persiapan guru untuk mempersiapkan materi , media dan yang lainnya untuk PJJ jauh lebih banyak, sehingga seharusnya persiapan jauh lebih baik dan lebih terencana jika dibandingkan saat tatap muka
c. Guru dan siswa dituntut untuk belajar dan menguasai IT ( komputer ) secara lebih baik dari sebelumnya, khusunya guru-guru yang berusia 50 tahun ke atas, karena pada masa beliau itu belum pernah ada atau terlambat mempelajari IT secara baik. Banyak guru yang belajar IT secara mendadak atau mengikuti tutorial atau kursus komputer. Hal ini akan menambah kompetensi dan kemampuan si guru.
d. Siswa lebih sering menggunakan IT khususnya internet dalam mencari info, jawaban atau tambahan materi khusunya yang belum mereka mengerti, mereka bisa belajar banyak dari internet/Google secara lebih bervariasi dan lebih mudah dimengerti.
e. Waktu dan tempat belajar siswa sedikit bebas, dalam arti mengerjakan tugas bisa kapan saja dan tempatnya juga sesuai dengan yang siswa sukai. Mereka bisa mengerjakan tugas di rumah, di taman, dimana saja yang dirasa menyenangkan bagi mereka.
f. Penguasaan IT khusunya komputer/internet siswa makin terlatih dan terasah, sehingga bermanfaat untuk ke jenjang selanjutnya ( SMA/SMK ). Pengetahuan siswa tentang IT/komputer dan internet juga bisa makin nambah sesuai keaktifan dan daya kreatif mereka masing-masing
g. Orang tua bisa mengawasi anak secara penuh kegiatan belajarnya karena mereka belajar sepenuhnya di rumah, sehingga harusnya jalinan komunikasi juga berjalan baik dan makin komunikatif ( nyambung ). Orang tua bisa mengawasi kegiatan anak full 24 jam khususnya memantau perkembangan belajarnya. Secara psikologis kejiwaan anak akan makin tumbuh baik jika orang tua menjalin komunikasi yang baik juga dengan anak-anaknya.
Tangerang Selatan, 13 Juli 2021







