“Babari”, Budaya Gotong Royong Masyarakat Maluku Utara

Oleh Fauji Yamin

Hari ini adalah hari di mana masyarakat desa akan mempraktikkan kegiatan gotong royong atau yang disebut dengan “babari“. Membantu salah satu masyarakat desa membuat acara tahlilan (leliyan) kepergian salah satu sanak familinya. Masyarakat desa tidak akan berkebun atau melaut. Semua ditinggalkan tanpa perintah. Kegiatan babari tidak hanya diterapkan di acara pada acara ini saja melainkan diterapkan pada berbagai dimensi kehidupan masyarakat Maluku Utara. Mulai dari membangun rumah, Masjud, perkawinan, sunatan, bahkan sampai ke bertani.

Sebagai negeri dengan julukan Jazirah Al-Mulk, atau negerinya para raja serta, Maluku Utara menyimpan begitu banyak catatan-catatan dalam kehidupan berbudaya masyarakat. Negeri yang menjadi pelaku sejarah perdagangan rempah-rempah ini menyimpan satu budaya yang saat ini masih terawat rapi di kehidupan sehari-hari yakni budaya gotong royong atau babari, budayanya orang bumi pertiwi.

**

Hari masih terlalu pagi, dedaunan masih menampung embun dan mentari masih malu-malu di ufuk timur. Sinarnya begitu lembut menyapa pagi. Burung-burung bersiul, bernyanyi dengan indah dibalik pepohonan dan air laut masih begitu manja merayu pasir. Namun keriuhan warga desa berkaki telanjang bersarung parang meramaikan setapak yang lebarnya tak sampai tiga meter. Begitupun dengan para wanita, membawa panci berseta anak-anak mereka.

Di depan rumah, para pria langsung menikmati hidangan atau baalas; sarapan pagi yang disediakan oleh tuan rumah. Roti hasil pemakaran semalam oleh para wanita disuguhkan dengan teh pasa atau kopi. Di nikmati sembari berbagi cerita kelucuan yang kadang mengoyak perut. Sembari para pria bercanda di halaman depan, para wanita mulai sibuk mengebulkan asap di dapur,  menyiapkan teh, kopi, dan makanan seadanya untuk masyarakat desa sebelum beraktivitas. Acara leliyan (hajatan) dilakukan esok hari, namun biasanya masyarakat sudah mempersiapkan segala keperluan ritual sehari sebelumnya.

Setelah baalas, para pria kemudian membagi beberapa kelompok. Tetapi, walau tidak dibagi sekalpun, mereka sudah mengetahui apa yang hendak dilakukan. Kelompok tersebut yakni kelompok pengambil kayu bakar di hutan, kelompok pencari sayur, kelompok pengambil bambu sekaligus membuat “sabuah” atau tenda dari bambu dan terpal, kelompok pengambil buah kelapa dan daun untuk di buat santan dan minyak kelapa, serta kelompok lainya yang mempunyai tugas masing-masing baik besar maupun kecil. Uniknya, pembentukan kelompok tidak dilakukan secara formal melainkan keterpanggilan, di mana mereka akan mengikuti kelompok manapun tanpa aba-aba atau perintah.

Sementara, para wanita paruh baya (nenek-nenek) juga tak tinggal diam di rumah. Mereka memiliki tugas yang unik yakni memilah beras sebelum di masak. Memisahkan kotoran seperti batu setiap karung sebelum di masak. Mereka menggelar butiran beras tersebut di atas meja dan mulai memisahkan pelan-pelan hingga beras benar-benar bersih. Jika sudah selesai, mereka tak tinggal diam melainkan melanjutkan pekerjaan dengan merakit atau membuat wadah ketupat dan jaha; makana  mirip ketupat namun memiki size lebih panjang.

 

Di bagian dapur, kesibukan sangat terlihat. Memasuki dapur seperti memasuki medan pertempuran. Riuh dan sibuk namun penuh keceriaan lewat tawa yang sesekali pecah. Mereka mempersiapkan berbagai alat masak seperti gelas, wajan, tungku dan mengatur siapa yang menjaga makanan; penjaga makanan bertangung jawab terhadap distribusi dan pembagian setiap menu ke meja makan, memperisiapkan bumbu, menanak nasi, mecuci piring, memasak sayur, ikan, minyak kelapa, serta kegiatan lainnya untuk keperluan makan siang dan makanan saat dilakukan pengajian malam hari.

 

Tepat pukul 10-11 Wit, para pria yang di bagi ke dalam beberapa kelompok di atas akan kembali dari hutan dan mempersiakan “sabua” atau tenda, membelah kayu secara bersama-sama, mengupas kelapa untuk membuat minyak kelapa, serta mempersiapkan meja dan kursi. Dan membantu apapu  yang bisa dibantu terutama di bagian dapur.

 

Membuat Sabuah dari Kayu

 

Kegiatan ini terus dilakukan hingga jeda saat makan siang sebelum dilanjutkan dengan kegiatan mereka lainnya. Kegiatan makan siang pun memiliki adat tersendiri. Para orang tua, pemangku adat, tokoh agama, Badan Sara makan bersama-sama dan memiliki tempat tersendiri di dalam rumah sebagai penghormatan. Sementara bagi remaja hingga rumah tangga muda yang memiliki meja makan tersendiri. Dan tidak bergabung di dalam. Mereka masing-masing dilayani oleh pelayan yang bertugas memberikan air minum atau mengangkat piring

 

***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kegiatan ini tidak hanya dihadiri oleh masyarakat desa setempat tetapi juga dihadi oleh tetangga desa. Dari yang jauh hingga yang dekat. Merka datang tanpa diundang. Uniknya kedatangan mereka membawa serta beras, minyak dan uang yang bakal diberikan kepada pemilik hajatan. Tujuannya untuk meringankan beban bagi keluarga yang berduka. Besaran dan nominalnya sama yang sudah menjadi ketentuan dan disepakati yakni beras 1 kilo setengah, minya kelapa 1 liter, dan uang Rp. 25.000. Jumlah ini bisa bertambah bisa berkurang tergantung kesepakatan setiap desa.

Setelah menyerahkan bantuan di atas, mereka langsung menuju meja penjamuan yang sudah disediakan. Menikmati berbagai aneka makanan yakni kue tradisonal, the dan kopi. Sehabis itu, para tamu bakal menuju lokasi pembuatan ketupat dan jaha. Masyarakat tetangga desa yang yang memiliki keahlian membuat ketupat juga akan berkolaborasi dengan para orang tua desa untuk sama-sama gotong royong menyiapkan ketupat.

Pada malam puncak tahlilan, suasana menjadi lebih ramai. Warga baik pria maupun wanita akan sangat sibuk menyiapkan makanan, meja-meja mulai diangkut dari rumah ke rumah, undangan-undangan mulai disebarkan ke desa-desa tetangga utamanya para pengurus mesjid. Terdapat keunikan dalam mengundang atau disebut siloloa. Di mana keputusan mengundang tetangga sebelah berdasarkan keputusan keluarga yang memiliki hajatan. Pria-pria yang menjadi pelayan bersiap-siap lebih awal, menyiapkan air, mengatur gelas, piring, kursi dan meja.

Para pelayan ini bertugas sama seperti pada kegiatan makan siang. Mereka siap siaga ketika pengajian selesai. Pekerjaan mereka akan dimulai ketika imam besar memberikan sedikit nasihat yang dibawakan dalam bahasa Ternate. Setelah Imam mempersilahakan, mereka kemudian membuka piring yang menutupi menu, menyalin air hingga mengangkut  piring kotor hingga ke dapur. Para warga yang ikut dalam acara tersebut tidak langsung pulang, mereka diwajibkan membawa makanan atau pakesan yang berisi ketupat, nasi kuninng, jaha dan menu pelengkap ke rumah. Uniknya, mereka harus menunggu para pelayan membagi makanan tersebut terlebi dahulu. Di mana setelah selesai makan tadi, sisa makanan yang tidak dihabiskan dibagi sesuai posisi duduk berhadap-hadapan. Jumlah jaha, ketupat dan nasi kuning yang tersisah diatas meja dibagi rata ke mereka. Setelah selesai barulah mereka mengambil satu persatu pakesang tersebut dan pulang.

Kegiatan lini akan selesai hingga dua atau tiga hari kedepan. Sebab, setelah acara puncak mereka akan membongkar tenda, memulangkan kayu sebagai sanghan tenda, piring, gelas, panci dan lain-lain hingga selesai. Kegiatan  leliyan adalah kegiatan babari yang masih dijaga hingga saat ini. Kegiatan yang merupakan kegiatan jati diri Indonesia ini masih terus dipraktekan warga desa di Maluku Utara. (sukur dofu-dofu)

 

 

 

Tinggalkan Balasan