(1) SI BUNGSU YANG HILANG TELAH KEMBALI

Ada seorang anak yang berasal dari sebuah keluarga yang sangat kaya. Ia tinggal bersama seorang saudara satu-satunya yang usianya lebih tua darinya. Hidupnya penuh dengan kenyamanan. Harta ayahnya sangat berkelimpahan. Tanahnya luas, ternaknya ribuan dan pegawainya ratusan.

Suatu ketika, sang anak merasa bosan dengan kehidupannya. Ia ingin hidup secara bebas tanpa aturan yang dibuat ayahnya. Ia ingin melakukan banyak hal menurut kehendaknya. Ia merasa keinginannya itu tidak dapat diwujudkan jika ia masih tinggal bersama ayahnya. Ia pun bermaksud menemui ayahnya untuk berbicara dengannya.

Setelah si bungsu ini bertemu dengan ayahnya, ia pun menyampaikan maksud hatinya kepada sang ayah. Rasa sedih bergelayut di dalam hati sang ayah. Ia sangat sayang kepada anak bungsunya tersebut dan ia tidak ingin berpisah dengannya. Ia berusaha menahan kepergian si bungsu. Namun, keinginan si bungsu terlalu kuat sehingga ayahnya terpaksa mengijinkannya pergi.

Ternyata, keinginannya tidak hanya ingin pergi dari rumahnya. Ia juga meminta bagian harta warisan dari ayahnya. Dengan perasaan sedih, ayahnya terpaksa memberikan sebagian harta warisan miliknya kepada si bungsu.

Akhirnya, si bungsu berhasil keluar dari rumah ayahnya dan mulai menggunakan harta warisan yang diterimanya dari ayahnya. Ia pergi ke sebuah kota yang besar dan megah. Di sana ia menggunakan harta warisannya untuk bersenang-senang. Ia mencoba berbagai hal yang belum pernah dirasakannya. Singkatnya, ia menghabiskan seluruh waktunya untuk memuaskan hasrat kesenangannya hingga suatu ketika, habislah segala yang dipunyainya.

Pada titik ini, seketika ia menjadi tidak berdaya dan tidak dapat berbuat apa-apa. Ia sangat menderita dan mencoba menemukan siapa dirinya saat ini. Ia tidak punya siapapun sebagai kenalan apalagi saudara di tempat yang asing ini. Ia juga tidak memiliki harta bahkan uang sepeserpun. Ia seperti berada pada satu titik jenuh dan hampir habis.

Ia mencoba mencari pekerjaan untuk mendapatkan sesuap nasi. Sebuah peternakan menjadi tujuannya dan menemukan pekerjaan sebagai pemberi makanan ternak. Penderitaannya semakin memuncak ketika ia tak mampu lagi menahan rasa laparnya. Ia meletakkan harga dirinya sejajar dengan ternak-ternak di sekitarnya. Ia memakan makanan ternak itu dan makan bersama ternak-ternak itu.

Si bungsu nan malang seketika tersadar bahwa ada yang salah dalam hidupnya. Ia merenung dan mulai berpikir tentang ayahnya. Ia merasa berada pada posisi yang dilematis. Di satu sisi, di tempat ayahnya, orang-orang yang bekerja pada ayahnya hidup dengan nyaman, tidur nyenyak tanpa kedinginan, makan dengan makanan enak dan mendapatkan gaji. Di sisi yang lain, ia menyadari bahwa ia telah mengecewakan ayahnya karena ia telah menghabiskan harta warisannya dan meninggalkan ayahnya.

Pergulatan pikiran dan perasaan menghantarnya sampai pada keputusan bahwa ia harus kembali kepada ayahnya. Ia bermaksud mendatangi ayahnya untuk meminta maaf atas kesalahannya. Ia juga bermaksud meminta kesediaan ayahnya untuk menerimanya sebagai salah seorang karyawannya. Ia sungguh telah memantapkan niatnya itu dan bersiap untuk pulang.

Ketika ayahnya melihat kedatangan si bungsu dari jauh, ayahnya mengenalinya dan berteriak kegirangan, lalu berusaha untuk menghampiri si bungsu tersebut. Ketika telah bertemu, sang ayah langsung memeluk dan mencium anak bungsunya yang telah kembali itu.

Sang ayah menarik anaknya pulang ke rumah dan memerintahkan pegawainya untuk membersihkan dan memberikan pakaian terbaik bagi anak bungsunya itu. Sang ayah mengatakan bahwa ia merasa bergembira karena anaknya yang telah lama hilang telah ditemukannya kembali.

Putra sulung sang ayah melihat kesibukan yang terjadi di rumah ayahnya dan bertanya kepada ayahnya mengenai hal yang terjadi. Sang ayah mengatakan, “Adikmu telah kembali. Kita patut bersuka ria dan menyambutnya dengan gembira. Keluarga kita patut merasa bersyukur untuk peristiwa ini.”

Sayang, si sulung menanggapi perkataan ayahnya dengan marah dan jengkel. Ia merasa ayahnya berlaku tidak adil dan pilih kasih. Ia merasa telah berkorban banyak untuk ayahnya dan ia merasa belum pernah diperlakukan ayahnya seperti yang dialami adik bungsunya itu. Ia pun pergi menjauh dari ayahnya.

Insight

Tidak dipungkiri bahwa setiap orang pernah melakukan kesalahan entah itu kesalahan yang berat ataupun kesalahan yang ringan. Setiap kesalahan yang dilakukan seseorang entah terhadap sesamanya maupun terhadap Sang Penciptanya berpotensi untuk semakin menjauhkan seseorang dari orang lain dan Sang Pencipta juga. Bukankah Sang Pencipta sangat mengasihi makhluk ciptaan-Nya dan menuntut manusia untuk mengasihi-Nya pula?

Kealpaan manusia seringkali terletak pada caranya memperlakukan ciptaan-Nya. Manusia sering beranggapan, berbakti dalam bentuk ibadat kepada-Nya telah cukup membuktikan bahwa manusia taat kepada-Nya. Benarkah? Bukankah mengasihi ciptaan-Nya merupakan tugas istimewa manusia dari-Nya dan menjadi bagian dari ketaatan dan bakti manusia kepada Pencipta-Nya?

Ketika seseorang sampai pada titik jenuh dalam hidupnya, sejatinya ia harus berbalik, mundur dari titik itu, dan kembali ke tempat ia berangkat sebelumnya. Tidak ada kata terlambat bagi orang yang meletakkan niat secara sadar dan mengupayakan tindakan perubahan positif dalam hidupnya.

Sejatinya, nafas hidup menjadi garis batas kesempatan dan pengampunan diterima oleh seseorang dalam hidupnya. Sebuah kesadaran akan kesalahan dan perbaikan sikap akan semakin membuat relasi manusia dengan Sang Khalik semakin baik dan dekat. Sang Pemilik Semesta ini tidak pernah bersikap dendam terhadap manusia. Dia bahkan menanti kesadaran manusia untuk kembali kepada-Nya hingga ajal menjemputnya. Kita tidak tahu kapan ajal itu menjemput kita. Maka, sebuah pertanyaan patut untuk direfleksikan bersama yaitu: kapankah kita menyadari kesalahan-kesalahan dan kekeliruan dalam hidup kemudian mengubah sikap menjadi lebih baik?***

Tinggalkan Balasan

1 komentar