(2) DERMA DALAM KETERBATASAN

Suatu siang, dalam perjalanan pulang dari tempat kerja menuju rumah, saya mampir sejenak di tepi jalan. Cuaca panas nan terik membuat mata semakin berat dan mengantuk. Demi keselamatan, saya memesan secangkir kopi hitam sekedar untuk menahan kantuk.

Si penjual kopi menyeduh kopi bungkusan ke dalam wadah, lalu menyeduh air panas dengan takaran yang cukup dan mengaduknya. Tak lama, seorang pengemudi sepeda motor online berhenti dan meminta dibuatkan kopi.

Sambil memperhatikan tindakan si penjual kopi, saya mencoba untuk menebak penghasilannya. Sejujurnya, saya merasa iba kepadanya. Saya pun tergelitik untuk mengetahuinya dengan bertanya mengenai kondisi dagangannya siang itu. Ia mengatakan, setengah hari itu, ia baru menyeduh sekitar sepuluh bungkus kopi. Itu berarti ia baru mencapai omzet tiga puluh ribu rupiah.

Yah, dengan omzet seperti itu, tentu saja keuntungan yang diperolehnya tidak sebanyak yang dibayangkan orang. Jika penjualannya berlangsung sehari, maka dapat dibayangkan hasil yang akan dibawanya pulang untuk keluarganya.

Namun, ada hal menarik yang saya lihat siang itu. Seorang pengemis menghampiri kami sambil menadahkan tangannya. Saya merogoh saku, mengambil selembar uang lima ribu dan memberikan kepada pengemis itu.

Hal yang tak saya duga, si penjual kopi memberikan sebungkus nasi yang tergantung di sepedanya dan selembar uang sepuluh ribu kepada si pengemis itu. Sejenak saya tertegun melihatnya dan diam seribu bahasa. Saya merasa kagum atas tindakan si penjual kopi itu. Rasa kagum itu berubah menjadi rasa hormat terlebih setelah ia menuturkan bahwa nasi bungkus itu adalah nasi yang dibawanya dari rumah ketika mengisi termos, wadah air panasnya.

Derma Si Janda Miskin

Saya teringat akan sebuah kisah mengenai seorang janda miskin di sebuah tempat ibadah. Ia hanya memiliki dua keping uang. Hari itu ia bermaksud mendermakan uang miliknya tersebut di rumah ibadat itu.

Tidak jauh dari tempatnya, seorang kaya mendermakan sekantung uangnya dihadapan banyak orang. Mereka berdecak kagum atas kedermawanan orang kaya tersebut. Mereka menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepadanya.

Si kaya tampak bangga melihat orang memuji dan menyanjungnya karena derma yang diberikannya sangat besar. Ia menganggap bahwa pemberiannya sangat besar sehingga ia pantas mendapatkan kehormatan itu dari orang-orang yang melihatnya.

Si janda miskin hanya terdiam menyaksikan kejadian itu. Ia merasa bahwa dirinya tidak sebanding dengan si kaya tersebut. Ia hanya memiliki dua keping uang. Nilai dua keping itu sesungguhnya sangat berharga bagiya. Ia dapat membeli makanan untuknya dan anaknya dengan dua keeping uang tersebut.

Insight

Tidak sedikit orang merasa bangga karena mampu memberi banyak bagi orang lain. Pemberian yang besar dianggap dapat mendongkrak pamor dan popularitas seseorang. Apalagi pemberian itu disaksikan oleh banyak orang sehingga menjadi pemberitaan besar dan perbincangan masyarakat.

Arti pemberian dalam konsep berbagi memang dianjurkan bagi setiap orang. Dalam ajaran agama pun diajarkan mengenai kebaikan-kebaikan berbagi tersebut sebagai sebuah keharusan.

Sayang, manusia seringkali terjebak dalam persepsi yang kurang tepat dan memaksakan pemikirannya sendiri atas tindakan berbagi itu.

Berbagi secara umum dapat diartikan sebagai tindakan membagi sebagian miliknya untuk kepentingan orang lain. Jauh dalam sebuah permenungan, tindakan berbagi tidak terbatas pada sikap memberi sebagian miliknya. Namun, lebih mendalam, berbagi adalah memberi diri bagi orang lain.

Makna “memberi” juga tidak terbatas pada objeknya berupa benda atau materi. Kata “memberi” juga meliputi pemberian suatu objek yang abstrak dalam aneka bentuk misalnya perhatian, penghiburan, pengajaran, pendampingan dan sebagainya.

Berangkat dari makna-makna tersebut, sebuah pemberian dapat dinilai besar kecilnya. Sekali lagi, besar-kecil tidak terbatas pada makna takaran secara nominal, melainkan takaran kuantitas  yang sifatnya abstrak namun terukur misalnya banyak-sedikit.

Bagi sebagian orang, jumlah yang banyak seringkali menjadi tolok ukur kebaikan sebuah pemberian. Mereka yang mampu memberi dalam jumlah banyak akan memperoleh penghargaan yang tinggi. Memang, tidak semuanya dianggap memiliki “nilai minus”.

Dalam konteks kisah janda miskin tadi, dapat direfleksikan sebuah makna pemberian dari kedua tokoh cerita itu. Si kaya memberi sejumlah uang miliknya dari kelebihannya. Artinya, pemberiannya itu hanyalah sebagian kecil dari seluruh kepemilikannya. Ia tidak akan jatuh miskin dan menderita karena memberikan derma.

Di pihak lain, si janda miskin memberi keseluruhan harta miliknya dari kekurangannya. Artinya, pemberiannya itu merupakan keseluruhan miliknya.

Kerendahan hati pribadi janda miskin yang ditunjukkannya dalam pemberian derma 2 keping koin itu menjadi simbol pemberian diri bagi kehidupan orang lain. Sebuah ungkapan belarasa yang seutuhnya bagi sesamanya.***

Tinggalkan Balasan

1 komentar