Gambar: Ilustrasi rasa takut

Akhir-akhir ini, saya mulai merasa cemas, khawatir, bahkan takut mendengar situasi terkini masyarakat dengan semakin diperketatnya pembatasan sosial. Kondisi ini terjadi karena jumlah penderita Covid-19 yang cenderung meningkat secara signifikan. Tentu saja, saya semakin berusaha untuk memperketat protokol kesehatan di lingkungan keluarga dan sekitar.

Pengalaman mengalami rasa takut pada umumnya dialami oleh hampir semua orang. Rasa takut yang dihadapi pun bermacam-macam. Ada yang merasa takut karena keadaan tidak aman, kehilangan pekerjaan, tidak mendapat kesempatan, kehilangan pasangan atau orang yang dicintai, dan sebagainya.

Ketakutan merupakan bagian dari kehidupan manusia, bahkan bagi seorang yang merasa dirinya sangat religius sekalipun. Mengapa manusia sering merasa takut?

 

Takut itu Manusiawi

Rasa takut lahir sebagai bagian dari reaksi dan emosi manusiawi terhadap suatu keadaan yang mempengaruhi dirinya atau orang lain yang dekat dengannya. Jika reaksi dan emosi atas ketakutan itu dapat dikuasai tentu tidak menjadi persoalan. Namun, jika reaksi dan emosi itu berlebihan, maka rasa takut itu dapat mempengaruhi, merasuki bahkan menguasai  manusia. Tidak jarang, ketakutan justru menjadi sumber penderitaan manusia.

Saya membayangkan ketakutan yang mungkin akan terjadi manakala saya berada di dalam sebuah kapal di tengah ombak laut yang besar dan bergemuruh. Saya menduga, banyak orang sependapat dengan saya bahwa setiap orang yang berada dalam kondisi itu akan terjaga penuh dalam ketakutan yang luar biasa.

Dalam keadaan demikian, seluruh pikiran, perasaan dan perbuatan terkonsentrasi pada Sang Pencipta untuk memohon pertolongan-Nya. Berangkat dari rasa ketakutan itu, pelajaran apakah yang kita dapat dari banyak hal penyebab ketakutan dalam hidup kita?

 

Berlayar lebih mendalam

Pengalaman menghadapi rasa takut memberi pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Rasa takut memberi kesadaran bahwa dalam perjalanan hidup sering muncul berbagai persoalan yang dianalogikan sebagai “badai” yang terjadi saya. Badai itu menghadirkan ketakutan-ketakutan karena manusia sulit menghadapinya.

Selain badai dan ketakutan, saya juga semakin tahu bahwa di tengah badai kehidupan dan ketakutan itu, saya dapat merasakan kedamaian pula jika saya mempercayakan kehidupan saya kepada Dia yang  menciptakan saya. Saya menjadi semakin paham bahwa kehidupan ini berlangsung dinamis.

Terkadang, saya merasa bahwa badai dan rasa takut itu menjadi semacam ujian kesetiaan yang ditujukan kepada saya. Ujian yang saya maksud adalah kesetiaan dan iman saya kepada Dia yang menciptakan saya.

 

Melawan Rasa Takut

Tugas terberat dalam kehidupan ini adalah melawan rasa takut itu sendiri. Ketakutan terbesar manusia adalah ketakutan akan kematian.

Di balik sebuah kenyamanan dan kesenangan hidup, tersembunyi rasa takut yang sangat besar. Rasa takut akan kehilangan semua kenyamanan dan kesenangan hidup itu membuat manusia berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankannya selamanya.

Memang, saya menyadari bahwa tidak mudah berjalan dalam kegelapan tanpa terluka karena membentur sesuatu. Namun, bukan berarti saya harus berhenti berjalan. Saya harus mencari sesuatu sebagai penerangnya.

Saya menangkap makna dari sebuah analogi yang menunjukkan bahwa gelap berkaitan dengan kejahatan dan terang berkaitan dengan kebaikan. Dengan analogi itu, saya memahami bahwa gelap harus diatasi dengan memberikan pencahayaan agar terang meliputi kegelapan itu.

Dengan kata lain, gelap yang diiringi rasa takut itu harus diatasi agar menjadi sirna. Terang yang dimaksud adalah keberadaan Sang Pencipta Alam Semesta yang dihadirkan dalam terang iman itulah yang dapat menghalau kegelapan. Artinya, rasa takut hanya dapat dikalahkan dengan rasa percaya akan penyertaan-Nya.

Rasa takut yang terjadi terus menerus akan semakin menggerus kepercayaan manusia kepada Penciptanya. Ibarat seseorang yang mengalami rasa takut berhadapan dengan dokter dan akhirnya ia mati dalam penderitaan  karena penyakitnya terlambat untuk disembuhkan.

Insight

Rasanya saya tidak perlu menghindar dari rasa takut karena ketakutan semestinya dihadapi. Satu-satunya cara mengalahkan rasa takut itu adalah keberanian untuk tetap setia pada kehendak-Nya. Dia memancarkan terang untuk menyinari kegelapan hidup dan ketakutan yang menyertai kegelapan itu. Seperti terang yang bersinar di depan, dan bayang-bayang jatuh di kegelapan, tertinggal di belakang.***

Tinggalkan Balasan