Terbaru935 Dilihat

 

SABAR (SELESAI)

Oleh: Lili Suriade, S.Pd

“Windu..sehabis jam pembelajaran nanti, tolong datang ke ruang kepala sekolah ya..” Bu Rike menyampaikan pesan kepada Windu.

“Baik bu..” Windu menjawab dengan anggukan.

Di kelas, Windu sering kali dibuli teman-temannya. Ia sering disebut sebagai anak orang gila dan Babu. Seperti yang terjadi siang ini, ketika Windu hendak menuju ruang kepala sekolah, segerombolan siswa menghadang langkahnya.

“Hey babu! Mau kemana sih?” Ucap Gerhana, coeok idola di sekolah itu.

“Iya, sudah babu, bau lagi.” Tambah Randa teman dekat Gerhana.

“Anak orang gila juga..” ucap Shanda dengan wajah penuh sinis.

Windu hanya diam sambil menelan perihnya dalam-dalam. Air mata yang hampir mengalir, ditahannya sekuat mungkin.

“Hello..lu budeg apa bego sih? Kalau ditanya, jawab dong!?” Ucap Chaca sambil memegang dagu Windu.

“Aku..aku mau ke ruang kepsek.” Jawabnya terbata-bata.

Wah..orang brengsek ke ruang kepsek? Ngapain? Mohon bantuan dana? “ Sambung Gerhana lagi.

“Gerhana! Kamu ngomong apa sih?” Bu Ringga guru BK tiba-tiba muncul.

“Gak ada bu. Gak ngomong apa-apa kok.” Jawab Gerhana dengan kaget.

“Barusan jelas-jelas ibu dengar kamu menghina Windu. Sekarang ayo kamu ikut saya ke kantor!” Tegas bu Ringga lagi.

Akhirnya Gerhana juga masuk ruang Kepala sekolah.

Di ruangan kepala sekolah Gerhana hanya tertunduk lesu. Ia seperti orang ketakutan. Kepala sekolah menasehati Gerhana agar tidak lagi menghina Windu.

“Begini Gerhana..kamu seharusnya malu sama Windu. Kamu memang anak orang kaya, kamu bisa mendapatkan apapun yang kamu mau. Tapi kamu justru tidak bersyukur, kamu merasa sombong sehingga berani menghina teman. Coba kamu pikirkan, seandainya kamu berada di posisi Windu, apa kamu sanggup?!!” Kepala sekolah bertanya dengan tegas.

Gerhana makin tertunduk. Ia tak berani memandang Windu.

‘Apa kamu tahu, bahwa tak seorang pun di dunia ini yang ingin hidup menderita?”

“Iya pak?”

“Makanya..kamu jangan sembarangan menghina teman. Windu ini adalah contoh siswa yang baik, dalam kekurangan, dia tetap berjuang. Ia tak malu bekerja di rumah orang lain. Nah..kamu tahu Ibu Windu sedang sakit? Dia tidak gila, dia hanya depresi karena belum bisa menerima kepergian anaknya. Jadi Bapak harap mulai hari  ini kamu tak pernah lagi menghina Windu. Paham?!” Tegas kepala sekolah.

“Pa..paham pak.” Jawab Gerhana dengan suara yang serak.

“Sekarang ayo minta maaf.”

Gerhana dan Windu pun bersalaman.

“Sekarang kamu kembali ke kelas. Windu tunggu di sini, ada yang mau bapak sampaikan.” Ucap kepala sekolah.

Setelah bersalaman dengan bu Ringga dan kepala sekolah, Gerhana kembali menuju kelasnya.

Sementara Windu masih di ruang kepala sekolah.

“Begini Windu..kebetulan dari sekolah kita diminta satu urang untuk ikut lomba Pertukaran Pelajar Se Nusantara, jadi kami sepakat memilih Windu sebagai pesertanya.” Ucap kepla sekolah.

Windu diam sambil tertunduk.

“Apa Windu bersedia ikut?” Tanya bu Ringga lagi.

Windu menggeleng, air mata mulai mengalir dari pipinya.

“Saya minta maaf Bu, saya gak bisa meninggalkan orangtua saya dan pekerjaan saya.” Ucapnya kemudian sambil terbata-bata. Pak Roland dan Bu Ringga saling berpandangan.

“Baiklah Windu, kami memahami alasanmu. Tapi kami beri waktu untuk kamu berpikir hingga minggu depan ya. Sekarang Kamu boleh ke kelas lagi.” Ucap kepala sekolah.

Sampai di kelas, Windu pun langsung menuju kursinya.

“Win..kamu kenapa?” Tanya Gerhana.

Windu hanya diam. Ia belum bisa menceritakan masalahnya kepada Gerhana.

Beberapa saat kemudian, Tirta, teman sebangkunya juga bertanya.

“Apa kamu punya masalah?” Tanya Tirta.

Sepulang sekolah, Windu mnceritakan semuanya kepada Tirta, bahwa sebenarnya ia sangat ingin ikut lomba pertukaran pelajar, namun keadaan tidak mengizinkan. Tirta mencoba menguatkan Windu. Mereka bercerita,hingga sore.

Ingat akan pekerjaan rutinya, Windu bergegas pulang. Ia harus merawat bu Rina. Setelah berpamitan kepada orangtuanya, Rindu langsung menuju rumah bu Rina. Ketika sampai di rumah, ia tak menemukan bu Rina di kamarnya, ia langsung berkeliling mencari bu Rina. Betapa kagetnya Windu, melihat bu Rina ternyata tergeletak di dapur.

Windu meratap histeris melihat kondisi bu Rina yang sudah tak bernyawa.

“Ma’afkan Windu Bu…” hanya itu kata-kata yeng keluar dari mulut Windu. Ia sangat menyesali keterlambatannya mengurus bu Rina.

Seminggu setelah kepergian bu Rina, Windu menerima sebuah surat dari Notaris untuk menghadiri acara keluarga di rumah bu Rina. Anak kandung bu Rina juga hadir di sana, beberpa family dan juga pak Lurah. Betapa kagetnya, ternyata notaries membacakan wasiat dari bu Rina. Bu Rina mewariskan sebuah rumah mewah dan sebuah perusahaan miliknya kepada Windu. Semua orang tersenyum, mengucapkan selamat kepada Windu termasuk mas Hamdan dan Hamdi, anak kandung bu Rina.

“Terimakasih ya Windu..kamu telah mengurusi ibu selama ini. Kamu pantas mendapatkan semua ini.” Ucap Hamdan, anak sulung bu Rina.

“Iya..kami sangat berhutang budi kepada Windu. Mulai besok, Windu harus tinggal di rumah ini ya.” Ucap Hamdi sambil mengelus-elus kepala Windu.

“iya..iya mas. Terima kasih kembali.” Ungkap Windu dengan perasaan tak menentu.

Sejak saat itu, Windu dan kedua orangtuanya pindah ke rumah bu Rina, perumahan elite di kompleks perumahan artis di jalan Merdeka.

“ Alhamdulillah ya nak..berkat kesabaranmu Allah memberikan nikmat ini kepada kita.” Ucap ayah Windu sore itu.

“Iya ayah..mulai besok, ayah akan ditangani secara khusus oleh dokter yang dikirim mas Hamdan. Ibu juga, mulai besok akan konsul ke psikiater, teman mas Hamdi.” Ucap Windu. Windu sangat bersyukur. Ia bertekad akan memanfaatkan warisan bu Rina semuanya di jalan Allah. Orang-orang tak lagi jijik memandangnya. Penampilan Windu perlahan berubah, membuat Gerhana yang dulu menghinanya, justru makin terkagum-kagum kepadanya.

“Kamu cewek hebat, kamu makin cantik. Kamu adalah orang tersabar yang pernah saya temui di dunia ini.” Ungkap Gerhana kepada Windu siang itu.

Windu hanya tersenyum sambil tersipu malu.

 

SELESAI

Sumpur Kudus, 7 Februari 2021

Tinggalkan Balasan