Menulis PGRI
KESETIAAN SEORANG WANITA (Bagian1)
Oleh: Lili Suriade, S.Pd
Marlon menatap hampa ke tengah lautan. Ia begitu bingung dengan keputusan yang baru saja dilontarkannya kepada kekasihnya.
“Maafkan aku, hari ini kita harus berpisah, Aku harus pulang kampung..” Ucap Marlon dengan suara yang ditekannya. Mendengar hal itu, mata Licha berkaca-kaca. Ia begitu sedih mengingat semuanya. Tak terbayangkan bagaimana dia berjauhan dari Marlon, kekasihnya nanti.
“Bagaimana nanti hubungan kita?” Tanya Licha dengan suara yang mulai serak.
“kamu tenang saja, yang penting komunikasi kita lancar. Aku janji bakal selalu setia padamu.” Jawab Marlon sambil memegang tangan Licha.
Licha hanya diam sambil memandang ombak yang menari-nari dihadapan nya. Rasanya begitu berat merelakan kepergian Marlon. Licha masih berharap Marlon tetap berada di kota Padang sampai dia benar-benar wisuda sebulan lagi. Namun, ia tak berhak menahan kekasihnya itu, ia juga sadar bahwa keluarga Marlon tentu lebih menaruh harapan yang besar pada anak sulungnya itu.
Licha menangis terseduh- sedan melepas kepergian Marlon. Ia mengantarkan Marlon ke terminal bus Teluk Bayur. Pertemuan hari itu meninggalkan duka yang dalam di hati Licha.
Selama ini, Licha selalu bersama Marlon. Apa pun yang dia lakukan di kota ini, ia selalu ditemani Marlon. Bahkan, menyelesaikan tugas-tugasnya ia selalu dibantu Marlon. Pulang kuliah, Marlon sudah menunggunya di lobby campus Fakuttas MIPA. Meski begitu Marlon selalu menjaga Licha, Ia sangat menghargai Licha. Karena itu, Licha sangat merasa nyaman berada di dekat Marlon.
Seminggu setelah perpisahan itu, Licha selalu menjalani hari-hari dengan perasaan tak menentu. Meski setiap hari selalu terjalin komunikasi yang baik diantara mereka, namun Licha masih galau, memikirkan nasib hubungan cinta jarak jauhnya ini.
Siang itu, Marlon menelphon Licha ketika Licha baru saja pulang kuliah.
“Alhamdulillah..aku sudah masuk kerja hari ini. Aku bekerja di Rumah Sakit Umum Daerah Muko-Muko Utara.” Ucap Marlon lewat videocall nya siang itu.
Marlon terlihat sangat gagah dengan seragam dokter nya. Terlihat sebuah computer dengan tumpukan alat-alat medis di dekat Marlon.
“terus gimana di sana, apakah enak?” tanya Licha.
“Biasa saja kok, tapi lumayan capek sih. Habis hari ini pasien lumayan banyak.” Jawabnya sambil tetap mengunyah makan siangnya.
“Rekan kerja abang gimana?” Tanya Licha lagi. Seketika hatinya mulai terbakar saat melemparkan pertanyaan tersebut.
“Alhamdulillah dek, di sini semua rekan kerjaku ramah-ramah. Pokoknya kesan pertamanya asik lah. Tuh mereka juga sedang makan di belakang.” Marlon mengarahkan kamera kepada rekan-rekan kerjanya yang tengah asik makan siang.
Licha pun diam, tak lagi berkomentar. Di dalam hatinya timbul kekhawatiran dan kecemburuan yang dalam.
“kenapa dek? Apa adek sakit?” Tanya Marlon melihat wajah kekasihnya yang tiba-tiba murung.
Mendengar pertanyaan tersebut, mata Licha malah makin berkaca- kaca. Seketika ia pun menangis. Sesaat Licha mengarahkan kamera ke arah langit-langit kamar kos nya. Licha tak sanggup menjawab pertanyaan Marlon. Akhirnya ia memilih mematikan HP nya.
Beberapa kali panggilan masuk dari Marlon, ia biarkan berlalu begitu saja.
“Maafkan aku bang..aku tak sanggup berbicara sekarang..” Ucap Licha lirih sambil terseduh sedan. Akhirnya Licha pun tertidur pulas dalam kesedihan siang itu. (Bersambung)
Comments
Theme images by Michael Elkan
LILI SURIADE LOMBA PGRIVISIT PROFILE





