Alhamdulillah tahun ini jadwal puasa serempak untuk seluruh masyarakat Indonesia. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, terkadang terdapat perbedaan hasil fatwa antara MUI dan Muhammadiyah. Tapi menurutku itu biasa saja, semua punya alasannya masing-masing. Namun selama ini aku selalu ikut MUI, ikut kebanyakan orang saja. Hari ini NU mengumumkan kepada seluruh masyarakat agar memulai berpuasa secara serentak.
Cerita ramadhan kali ini ku awali dengan peristiwa kemarin. Sebagai seorang muslim yang wajib berpuasa, seperti biasa seharian kemarin aku mendatangi rumah kerabat dekatku untuk meminta maaf. Pertama, aku mengajak anak-anakku ke rumah mertua ku. Seperti biasa, aku langsung meminta maaf kepada mereka. Alhamdulillah mereka masih sehat, dan mereka juga sampai saat ini masih bisa melaksanakan aktivitas hariannya yakni berjualan di warung kelontong nya dengan lancar.
Selanjutnya aku menuju rumah orang tuaku. Aku hanya pergi dengan ke empat putri ku, lantaran suamiku ada pekerjaan lain yang mendesak. Ketika tadi ku ajak, katanya dia nanti sore saja menyusul. Sampai di rumah orang tuaku, ternyata mereka masih demam. Ayahku bahkan masih di kompres dengan air panas lantaran suhu badannya sangat panas. Aku kasihan pada mereka, hingga aku memutuskan untuk menjaga mereka sampai menjelang magrib. Aku berusaha membantu orangtua ku memasak, namun seperti biasa ibu malah melarang ku. Meski dalam kondisi yang masih demam, ibu terus saja berusaha mengerjakan semuanya sendiri. Hanya ayah yang masih tepar, hingga aku pun memutuskan untuk merawat ayah setidaknya untuk hari ini. Aku berusaha mengurangi sakit ayah, aku memijit kakinya, mengompres kepala dan perut ayah yang masih sangat panas. Namun ayahku tetap dalam rintihan sakitnya. Ketika magrib berkumandang, ayah malah menyuruh ku untuk pulang.
“pulanglah..bawa anak-anakmu pulang, nanti suamimu bisa khawatir.” Aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah kembali. Sampai di rumah, aku menceritakan keadaan orangtua ku kepada suamiku sehingga suamiku langsung mengunjungi orangtua ku. Beberapa saat kemudian, suamiku kembali dengan membawa kabar bahwa panas badan ayah sudah mulai turun. Ketika azan Isya berkumandang, aku membantu anak-anak untuk berbenah, mereka akan segera ke mesjid bersama ayahnya.
Aku sendiri bersama si bungsu Pesona yang masih 3 tahun, memutuskan untuk sholat di rumah. Memang, sudah lebih kurang 7 tahun, aku tak lagi bisa melaksanakan sholat tarawih di mesjid. Hal itu bermula ketika aku melahirkan anak ke dua. Anak yang ke dua masih berumur 1,5 tahun aku melahirkan lagi anak ke tiga. Tatkala anak yang ke tiga masih dua tahun, lagi-lagi aku melahirkan anak yang ke empat. Kondisi seperti ini memaksa ku untuk bersabar, beribadah di rumah. Beberapa kali kucoba mendatangi musholla dekat rumah tentunya dengan membawa anak-anakku yang masih kecil. Namun, hasilnya percuma aku bukannya bisa khusuk beribadah malah kebanyakan menjaga anak, terkadang anakku lari-larian di dalam musholla hingga terjatuh lalu menangis, akhirnya suasana beribadah menjadi terganggu. Sejak itu, suamiku menyarankan agar aku dengan si bungsu tidak usah ke mushollah/ mesjid. Aku pun sholat di rumah saja, sendiri setelah suamiku pulang dari mesjid.
Sebenarnya aku merasa sangat rugi sholat di rumah. Dulu ketika masih remaja hingga memiliki anak satu, aku selalu rajin sholat di mesjid. Tidak hanya di bulan ramadhan, di hari-hari biasa aku pun sering ke mesjid terutama di waktu subuh, magrib dan Isya. Namun, semua itu berubah sejak aku punya anak/ bayi. Aku memutuskan untuk mengalah. Walau hasrat untuk beribadah menggelora, namun aku mesti bersabar setidaknya hingga tahun depan. Mudah-mudahan Allah memanjang kan usia ku, untuk aku bisa kembali focus meningkatkan ibadah ku.
Tepat jam 04.00 aku dibangunkan oleh suamiku. Aku yang memang sudah mempersiapkan menu untuk sahur sejak semalam, hanya tinggal menghidangkan menu-menu tersebut ke atas meja makan. Selain itu, aku mendinginkan nasi ke atas piring. Setelah semuanya siap, aku memanggil suami dan membangunkan anak ke dua ku Berkah (7th). Sebelumnya suamiku sudah membangunkan Riyang (13 th) yang sejak semalam menginap di rumah nenek nya, lantaran keponakan suamiku Nayla yang seumuran dengannya pulang. Sementara Sahaja (5 th) dan Pesona (3 th), kami biarkan terlelap dalam tidurnya.
Alhamdulillah sahur pertama berjalan dengan lancar. Suami dan anakku Berkah makan dengan cukup lahap sampai suapan terakhir. Sebelum waktu imsa’ habis, mereka sudah selesai sahur. Aku mengingatkan anak dan suami agar membaca niat puasanya. Sebelum azan subuh datang, aku pun melakukan aktivitas beres-beres. Aku mencuci semua piring kotor dan melipat selimut. Beberapa saat kemudian, aku berjalan kaki dalam gelapnya subuh menuju mushollah terdekat bersama Berkah. Sedangkan suamiku pergi ke kandang bebek nya sambil menunggu azan subuh. Mungkin karena sudah lama tidak sholat subuh ke Musholah, aku merasa mengantuk berat apalagi di saat ayat yang dibaca imam cukup panjang, rasanya aku hampir terlelap dalam sholat ku.Tapi untung saja aku segera tersadar dan kembali bisa berkonsentrasi. Kami kembali pulang dengan berjalan kaki. Di sepanjang jalan aku terus berdoa semoga langkah kaki kami bernilai Ibadah disisi Allah.
Sampai di rumah, aku mendapati suamiku juga baru selesai sholat. Aku tahu tadinya dia berencana untuk sholat subuh di mesjid, namun lantaran aku sudah pergi duluan tentulah tidak ada yang menjaga anak-anak yang masih tertidur pulas. Aku langsung membuka semua jendela dan mematikan semua lampu di rumah. Beberapa saat kemudian, aku pun berniat hendak berbaring sesaat. Walau aku tahu bahwa tidur setelah sholat subuh itu adalah dilarang, namun aku tak tahan lagi. Mataku sudah terasa melek. Akhirnya aku tertidur hingga pukul 08.00 WIB. Ketika terbangun, kulihat cahaya matahari sudah menerobos masuk ke dalam rumah, aku langsung kaget. Makanya aku langsung ke kamar mandi, lalu menjemur pakaian yang sudah selesai ku cuci kemarin. Setelah itu, aku berniat hendak menulis. Namun ketika tanganku hendak membuka laptop, tiba-tiba setan durjana menghampiri ku lagi. Akhirnya aku tertidur lagi hingga pukul 10 pagi ini.
Saat terbangun, aku mendengarkan rengek anak-anakku Sahaja dan Pesona. Naluri ku langsung menangkap bahwa mereka sudah lapar. Akhirnya ku panaskan sop daging yang sudah terasa dingin, lalu aku pun menyapi mereka makan. Ternyata benar, mereka sudah lapar. Aku tersenyum bahagia ketika seluruh nasi yang ada di piring mereka bisa habis tanpa sisa.
Setelah itu, aku langsung membuka laptop ku. Walau lampu ternyata mati, aku tetap mencoba untuk menulis. Aku merasakan spirit yang luar biasa ketika jemari ku berhasil merangkai kalimat-kalimat ini. Aku seperti mendapatkan semangat baru, kejenuhan itu tiba-tiba lenyap dari pikiran ku. Aku tahu siang ini adalah waktu-waktu kritis terutama bagi anak-anak, aku mendengar beberapa kali rintihan lapar dari Berkah. Namun aku mencoba membujuknya dengan berbagai cara. Mudah-mudahan puasa kami bisa berjalan lancar hari ini. Amin.
Sumpur Kudus, 13/04/2021






