KMAB 10 Ayah Membeli Tanah

Terbaru561 Dilihat

KMAB 10

Perjalanan  Hidup

Ayah Membeli Tanah

Oleh Lusia Wijiatun

Sejak pagi cuaca cerah,    burung-burung berterbangan, kupu –kupu pun terlihat bergembira bersama dengan hewan serangga lainnya. Sampai sore ini pun cuaca masih cerah, banyak anak-anak  bermain di area persawahan yang baru saja dipanen.

Semua terlihat bergembira, ada yang bermain layangan, ada yang berkejar-kerjaran, ada juga yang duduk-duduk saja di pematang sawah.  Tami juga berada disitu, ia melihat layangan yang berada tinggi di udara yang dimainkan oleh kakaknya. Layang-layang meliuk –liuk dengan indahnya.

Ada beberapa layang-layang yang terlihat di udara.Karena selain kakaknya masih banyak anak-anak lain yang bermain layang-layang. Daerah persawahan yang luas itu  dapat menanpung banyaknya anak-anak yang bermain..

Daerah persawahan terletak diketinggian, dibawahnya terdapat jurang dan  aliran sungai, dipinggir sungai ada tempat pemandian yang airnya berasal dari  mata air.  Airnya sangat jernih, air mengalir dari beberapa pancuran yang terbuat dari  belahan bambu. Tempat pemandian tidak terlihat dari atas, karena letaknya agak menjorok seperti gua di gunung-gunung.

Kakak Tami segera menurunkan layang-layang, karena hari sudah sore. Ia mengajak Tami ke bawah menuju tempat pemandian yang sejak tadi ramai.  Mereka menunggu antrian untuk mandi di situ.

Setelah selesai mereka pulang. Di rumah ayah dan ibunya sudah menunggu.   Tikar sudah dibentang oleh ayah. Ibu segara keluar membawa bakul nasi dan selanjutanya lauk pauk dan lain-lainya. Mereka makan bersama.

Rasa lapar membuat mereka makan dengan lahapnya dan terlihat sangat menikmati makanan tersebut.Sambil menikmati makanan ayah menyampaikan  sesuatu.

Ayah berkata bahwa ayah  telah membeli sebidang tanah yang letaknya  di seberang sungai.  “Suatu saat nanti kita akan membuat pondok di sana, “ kata ayah.  Saat ini tanah tersebut masih ditanami jagung.Ibu dan anak anak sangat senang. Mereka akan mempunyai rumah sendiri.

Meskipun belum tahu kapan akan terpenuh, setidaknya punya sendiri dan kemungkinan tidak akan pindah-pindah lagi. Ayah mereka memang pandai menyisihkah uang.  Berkat ketekunan dan keuletannya ayah sudah berhasil membeli tanah, walau hanya sebidang.

Keesokan harinya, setelah pulang dari sekolah kedua kakak Tami diajak ayah untuk melihat tanah itu.Mereka bertiga berjalan menyususi pematang sawah yang saat itu mulai diari. Perjalanan melewati jembatan yang terbuat dari pohon kelapa.

Diperjalanan ayah juga bercerita kepada kedua kakak Tami bahwa ayah juga telah membeli pondok kecil. Tetapi pondok tersebut berada di tanah orang lain. Mereka juga menuju ke pondok kecil yang terbuat dari pelupuh ( dinding terbuat dari bambo yang dicacah ).Pondok berukuran  kecil, tidak ada kamar dan tak ada pula dapurnya.

Ternyata ayah mereka telah membeli tanah dan pondok ( rumah kecil) yang berbeda tempat.  Pondok tersebut berada di pekarangan rumah orang lain.

Kurang lebih 10 menit mereka telah sampai di tenpat itu.Mereka melihat-lihhat dan segera masuk ke dalam. Mas Mulyo bertanya, “ apakah kita akan pindah ke sini, yah?”. “Iya,” jawab ayah sambil membuka jendela kecil rumah itu.  “Ayo kita bersihkan.,” ajaknya lagi.

Mereka bertiga membersihkan tempat itu,  Rencananya mereka akan pindah  ke rumah itu besok. Mereka  terlihat  sangat gembira.

Pondok (rumah kecil ) berdinding pelupuh beratap rumbia berada dipelataran rumah orang lain Itulah tempat tinggal Pak Paul dan keluarganya sekarang. Meski rumah milik sendiri namun masih menumpang di tanah orang lain. Suatu saat pasti akan disuruh pindah dari tepat itu.

Mungkin ayah mereka sudah menpunyai rencana lain yang ibu dan anak-anak mereka tidak tahu.  Apakah rencana  ayah mereka, kejutan lain apa yang akan dilakukan ayah mereka?

Tinggalkan Balasan