KMAB 11
Perjalanan Hidup
Pondok (Rumah Kecil ) Diangkat
Oleh Lusia Wijiatun

sumber: https://www.99.co/blog/indonesia/potret-rumah-gubuk-zaman-dahulu/
Awal tahun ini Tami masuk sekolah, ia bersekolah di sekolah yang sama dengan kedua kakaknya. Tami terlihat senang sekali, pagi-pagi sudah bangun dan siap berangkat ke sekolah.
Hari pertama masuk sekolah, Tami diantar ayahnya, karena mau memastikan apakah sudah terdaftar atau belum. Anak-anak dipanggil satu persatu sampai habis, namun Tami belum juga dipanggil. Untung saja ayah belum beranjak dari situ. Ayah segera mendekat, dan menanyakan kenapa Tami belum dipanggil.
Ibu guru menjawab dan mengarahkan ayahTami untuk menghadap kepada kepala sekolah. Ayahpun menghadap kepala sekolah dan menanyakan perihal yang sama kepada beliau.
Setelah dilihat daftarnya,ternyata Tami terdaftar di taman kanak-kanak. Ayah mohon agar Tami di masukkan di sekolah dasar, karena umurnya sudah mencapai usia sekolah dasar.
Meski agak terlambat, akhirnya Tami masuk ke kelas juga. Guru melihat badan Tami yang pendek dan kecil maka tami pun diberi tempat duduk yang paling depan.
Tami tergolong anak yang sedang, tidak begitu pandai, tapi Tami dapat mengikuti pelajaran yang disampaikan ibu guru. Bahkan Tami sering sekali tunjuk jari bila ditanya guru atau bila guru menawarkan siapa yang mau maju ke depan. Meski dengan rasa takut Tami selalu mengangkat tangannya.
Seiring berjalannya waktu, perkembangan belajar Tami meningkat. Tidak terasa pembagian Raport kuwartal pertama pun akan segera dilaksanakan. Raport akan dibagikan, dan yang harus mengambil adalah orang tua. Maka ayah datang ke sekolah untuk mengambil raport Tami dan kedua kakaknya.
Bersamaan dengan penggambilan raport, ayah juga mempunyai rencana. Ayah berencana untuk memindahkan pondok tempat tinggal mereka yang masih menumpang dipekarangan orang lain, ke tanah yang sudah dimiliki ayah.
Malam harinya ayah menyampaikan niat itu kepada kepala dusun yang ada disitu dan disambut baik. Maka kepala dusun melihat-lihat pondok,apakah bisa dipindahkan dengan cara diangkat atau bagaimana.
Maka berembuklah ayah dengan kepala dusun dan beberapa tetangga lainnya. Sungguh luar biasa, rasa gotong royong yang dimiliki masyarakat di tempat pak Paul tinggal, sangat lah kuat.
Hasil keputusan rembukan atau musyawarah bahwa pondok akan diangkkat dengan cara gotong royong. Maka pada hari yang sudah ditentukan, rumah kecil atau pondok pelupuh beratap rumbia diangkat bersama-sama menuju tanah Pak Paul.
Bapak-bapak dan ibu-ibu semua bergotong royong dengan penuh keakrapan. Bapak-bapak mengangkat rumah tersebut sejauh 50 meter, sedangkan para ibu menyiapkan konsumsi untuk disantap bersama setelah selesai gotong royong.
Menjelang tengah hari pondok sudah berada di tanah yang baru. Posisi pintu yang tadinya menghadap ke kanan merubah menjadi menhadap ke kiri, sedangkan posisi depan berubah menjadi di belakang. Namun semua itu tak menjadi soal. Karena pondok tersebut bagian depan dan belakang bentuknya sama.
Berkat perjuangan dan keuletan pak Paul selama ini, ia sudah menpunyai pondok di tanahnya sendiri. Meski hanya sebuah pondok atau gubuk yang tebuat dari pelupuh dan beratap rumbia. Pak Paul dan keluarganya hidup bahagia.
Mereka tak lagi memikirkan uang sewa rumah atau pindah cari sewaan baru. Ayah dan ibu fokus dengan kerjanya, memenuhi kebutuhan keluarga dan yang paling peting kebutuhan sekolah bagi anak-anaknya.
Beberapa tahun telah berlalu, Tami semakin besar, ia mempunyai dua adik perempuan, yang satu lahir pada tahun 1971 dan yang satu lagi lahir pada tahun 1974. Dengan lahirnya dua adiknya itu, Tami semakin sibuk belajar dan mengasuh kedua adiknya dengah penuh kasih sayang.
Tami selalu mengajak adiknya bemain bersama, bahkan adiknya yang kecil, sejak bayi Tamilah yang mengurusnya. Bahkan Tami sempat berhenti sekolah dengan alasan ingin mengasuh adiknya. Namun pada tahun berikutnya Tami kembali ke sekolah dan mengulang pada kelas yang sama. Bagaimana perkembangan Tami selanjutnya?







