KMAB 12
Perjalanan Hidup
Tami Jadi Pendiam
Oleh Lusia Wijiatun
Tami si gadis kecil yang dulu, sekarang mulai tumbuh remaja menuju dewasa. Setelah tamat dari sekolah lanjutan pertama, Tami melanjutan sekolahnya di sekolah kejuruan. Tami akan mendaftar ke Sekolah Pendidikan Guru. Teman-teman Tami agak heran ketika Tami menyampaikan niatnya kepada teman-temannya
“ Apakah kamu bisa menjadi guru, Tami?” Tanya temannya. “ Ya, mudah-mudahanlah, kan nanti diajarin bagaimana caranya, “ sahut Tami. Tami juga mengajak temannya itu untuk mendaftarkan diri seperti Tami.
Tetapi temannya , tidak mau. Temannya merasa bahwa ia tak mampu menjadi seorang guru. Maka Tami berangkat sendiri. Di perjalanan Tami bertemu dengan teman-temannya yang lain, yang sama-sama mendaftar ke sekkolah itu.
Senang sekali rasanya, bisa mendaftar sendiri. Ya, Tami memang sudah biasa mandiri. Tami tahu betul keadaan keluarganya. Ayah dan ibunya selalu sibuk ke pasar untuk mencari nafkah. Kedua adik Tami pun sudah besar, sudah bisa bermain sendiri.
Jadi Tami tak mau menrepotkan kedua orang tuanya, bahkan kakaknyapun tidak tahu kalau Tami mendaftarkan diri ke sekolah tersebut. Biarlah nanti saja kalau sudah selesai barulah Tami memberitahu sekolah mana yang menjadi pilihannya.
Selesai mendaftar, Tami segera pulang dan melanjutkan pekerjaan di rumah. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Ia harus membantu ibunya menyiapkan dagangan yang akan dijual esok hari.
Bersama dengan kakak dan adiknya Tami mulai mengerjakan pekerjaan itu, mulai dari memetik cabe yang akan digiling halus. Memetik bawang yang harus dibersihkan dari daun-daunnya yang kering. Tak hanya itu, malamnya juga harus mengupas kentang untuk dijual sebagai kentang kupas.

Sumber: https://infopublik.id/
Semua itu mereka lakukan dengan senang, sambil menonton televise, terkadang sambil belajar juga. Itulah yang dilakukan Tami setiap harinya, selain pekerjaan seperti masak, mencuci dan lain –lain.
Pak Paul ( ayah mereka ) memang membiasakan anak-anaknya untuk bekerja. Itu dilakukan ayah agar anak-anaknya bisa mandiri dalam melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan kegiatan di rumah. Begitu juga untuk kegiatan di sekolah, ayah juga selalu mendukung.
Misalnya untuk mengikuti kegiatan ekstra kurikuler. Yang penting Tami dapat membagi waktu untuk kegiatan dengan tugas-tugas di rumah. Apalagi kegiatan pramuka dan baris-berbaris, ayah dan ibu selalu mendukung. Ada rasa bengga tersirat dihati keduan orang tuanya. Dengan mengikuti kegiatan tersebut tentunya anak-anak semakin dapat disiplin.
Tami sangat menikmati hari-harinyan dengan penuh keceriaan,meski sebagai anak yang tumbuh remaja tentunya sudah mulai menyukai lawan jenis seperti layaknya teman-temannya.
Tetapi dalam hal ini Tami tidak seperti teman-temannya yang begitu mudah mempunyai teman laki-laki, katakan lah pacar. Tami merasa rendah diri, mungkin karena parasnya yang pas-pas, membuat ia menutup diri.
Mungkin ia menyadari juga bahwa, ia harus sekolah dulu, yang penting belajar dan belajar dulu. Itulah yang menbuat Tami menjadi gadis pendiam di sekolah dan juga di rumah. Sebenarnya dalam hatinya berkata, ingin seperti teman-temanya juga.
Hingga suatu hari Tami berkenalan dengan teman di sekolah kejuruan lainnya. Mareka sempat menjadi teman dekat, namun tidak berlangsung lama. Karena temannya itu berpaling pada yang lain, selain itu ia harus belajar dan belajar. Kedua orang tuanya juga belumlah mengizinkan Tami untuk berpacaran.
Tami termasuk anak yang penurut, oleh karena itu ia pun mengikuti saja nasehat orangn tuanya, walau teradang beronta juga hatinya. Namun Tami sadar semua itu demi kebaikan Tami sendiri. Supaya Tami dapat belajar dengan baik dan dapat meraih masa depan yang gemilang.
Ternyata ibu Tami juga mempunyai harapan yang besar, Ibu Tami berharap Tami menjadi guru, seperti ibu-ibu yang sering belanja dagangannya.
Suatu hari saat Tami kecewa karena tidak boleh pergi bersama teman-temannya untuk menghadiri pesta. Ibu memberi nasehat melalui cerita pengalannya.
Dan ibu mulai bercerita, katanya,” Setiap hari ibu ke pasar, berusaha mencukupi kebutuhan kalian. Setiap ibu belanja dagangan dan menjualnya kembali, ibu selalu melihat ibu-ibu pakai sepatu jinjit, membawa tas, berpakaian rapi. Ibu sering berkata dalam hati, “ Wah, Mudah-mudahan anak perempuanku jadi seperti ibu itu. Setiap hari ibu selalu berdoa, supaya kamu bisa seperti itu, Tami.
Setiap hari berpakaian rapi, bersih, pakai sepatu, tidak seperti ibu ini. Setiap hari ibu harus bangun lebih awal, kalau ga pagi ga dapat dagangan. Baju juga seadanya, ibu ingin sekali kamu menjadi seperti ibu-ibu itu.
Mendengar cerita ibunya, Tami pun meneteskan air mata, begitu besar harapan ibunya terhadap dirinya. Mulai saat itu Tami belajar sungguh-sungguh, Dalam hatinya ia berkata bahwa ia akan berusaha mewujudkan apa yang menjadi harapan ibunya.








