KMAB 20
Perjalanan Hidup
Perjalanan Cinta Tami 2
Oleh Lusia Wijiatun

sumber: bipa.kemendikbud.go.id
Keesokan harinya, ketika Tami membantu mbak Ani memasak untuk menyiapkann sarapan pagi. Pemuda itu datang. Ternyata setelah kedatangannya ke rumah tami dan bertemu dengan orang tuanya. Sore harinyan pulang dengan naik bus malam.
Pemuda itu bercerita, setelah Tami dan kakaknya sekeluarga berangkat, ia datang ke rumah. Pemuda itu datang untuk menyampaikkan maksudnya menjemput Tami. Ternyata Tami sudah berangkat bersama kakakn dan keluarganya.
Kemudian Tamimberkenalan dengan pemuda itu, pemuda itu sudah cukup dewasa pembawaannya. Orangnya sederhana tapi kelihatannya baik. Tami masih ragu, tapi untukk menyenanhkannhati kakaknya dan mbak Ani Tami tetap menuruti saran yang diberikan.
“Pokoknya kamu berkenalan dulu aja,bagaimana nanti selanjutnya, terserah kamu,” kata mbak Ani. Tami menyambut dengan tanpa banyak bicara. Mungkin Tami berdoa dalam hati, Apakah ini pemuda yang diberikan padaku, kalau memang iya, akan kucoba untuk menerimanya.
Sebagai wanita yang sudah dewasa tentunya ada rencana untuk berumah tangga. Apalagi pekerjaan sudah mapan, usia juga sudah semakin bertambah. Kalau memang jodoh ga ke mana.
Sementara itu di rumah, ayah dan ibu Tami, khawatir. Bagaiman Tami, apakah ia menerima pemuda itu atau tidak. Selama dua hari ibu menunggu kedatangan Tami dengan penuh rasa cemas.
Bagaimana jawaban Tami nanti, pikirnya. Ibu sudah mempunyai rencana akan memberikan nasehat kepada Tami, bila ia pulang nanti.
Akhirnya yang ditungu-tunggu pulang, Ibunya segera menyongsong kedatangan Tami. Tami langsung dihujani berbagai pertanyaan. Tami tertawa saja mendengarkkan pertanyaan itu. Ibu cemas mendengar jawaban Tami.
Tami anak baik, ia tidak mengecewakan orang tua dan keluarga yang sangat mencintainya. Maka saat Tami ditanya bagaimana pendapatmu, bagaimana sikapmu, apakah kamu menerimanya.
Tami menjawab sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Melihat itu ibu Tami merasa sangat lega. Dipeluknya Tami dengan penuh kebahagiaan.
Begitulah perkenalan Tami dengan seorang pemuda yang jauh dari tempat tinggalnya.
Hari-hari selanjutnya hubungan Tami pada pemuda itu semakin dekat. Walau mereka saling berjauhan, namun dapat berkomukasi melalui surat. Karena memang pada waktu itu belum ada alat komukasi yang canggih.
Tak lama kemudian hubungan mereka dilanjuutkan pada tahap pertunangan. Tahap ini dilakukan agar mereka sudah saling mengikat. Jadi diantar mereka sudah mempunyai batasan-batasan.
Masa pertunangan ini merupakan masa persiapan untuk saling mengenal lebih dalam tentang sifat masing-masing. Tami sudah menrima walau ada sedikit keraguan, apakah ia cinta atau tidak. Itu hal yang dapat di bina nantinya. Yang penting ini merupakan pilihan Tuhan. Sesuainyandengan yang pernah ia ucapkan dulu.
Bukankah ia sudah menunggu sekian lama, maka saat ada pemuda yang meminangnya ia tidak menolak, Ia merasa bahwa inilah yang terbaik, inilah yang dihadiahkan Tuhan kepadanya. Ia juga yakin inilah pendamping yang disediakannTuhan baginya.
Sebagai manusia hanya menjalani, semua atas anugerah dan rencana Tuhan. Untuk mencapai hasil yang baik tentunya harus tetap berusaha. Dalam menjalin petemanan yang baik, tentunya dengan saling membuka hati, saling pengertian, dapat menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tami akan berusaha menjaga pertunangan mereka dengan kesetiaan.
Semoga harapan dan kesetiaan Tami dapat berlanjut ke jenjang pernikahan. Dan pada akhirnya Tami dapat membangun rumah tangga. Meskipun berumah tangga bukanlah akhir dari segalanya, namun setidaknya ia memperoleh kebahagiann seperti teman-temannya. 







