KMAB 7
Perjalanan Hidup
Pingin Sekolah

Sumber: lenterakecil.com
Oleh Lusia Wijiatun
Di tempat itu pak Paul mulai bergaul kepada masyarakat sekitar. Pak Paul pandai bergaul, sehingga ia banyak mempunyai teman. Pak Paul sering bertukar pikiran dengan mereka. Banyak hal yang ditanyakan oleh pak Paul.
Sekitar tiga bulan tinggal di daerah itu, adik Tami lahir, adik Tami laki-laki. Betapa senangnya Tami mempunyai adik, ia berpikir akan bermain dengan adik yang sangat disayanginya. Namun tak lama kemudian adik Tami meninggal.
Kesedihan meliputi keluarga itu, tapi kesedihan tak boleh berlarut larut. Ibu Tami segera bangkit, ia harus memikirkan ketiga anaknya. Maka ibu pun mulai bekerja menjadi buruh tani.
Waktu berlalu begitu cepat, pergantian tahun hampir tiba, kakak Paul ingin sekali melanjutkan sekolah. Namun sampai saat ini ayah belum juga menemukan tempat sekolah untuk kedua kakak Tami.
Ayah berusaha mencari sekolah yang sesuai utuk kedua kakak Tami.
Suatu hari ketika Pak Paul sedang bekerja, ia memperoleh informasi tentang sekolah yang dicari oleh pak Paul. Ternyata sekolah yang diharapkan berada jauh dari tempat tinggal mereka.
Sejak saat itu, pak Paul bekerja lebih keras lagi, ia mengumpulkan uang yang akan digunakkan untuk menyekolahkan anak-anaknya.
Menjelang akhir tahun, Pak Paul merasa bahwa waktu sekolah hampir tiba. Oleh karena itu Pak Paul mengajak istri dan anaknya untuk pindah lagi ke daerah lain. Daerah yang ada sekolah yang diharapkan pak Paul.
Keluarga pak Paul pun meninggalkan tempat itu dan mencari tempat tinggal yang baru. Pagi-pagi sekali mereka bersiap-siap akan menuju suatu tempat, yang pastinya anak-anaknya belum tahu.
Ibu pun tidak tahu ke mana arah yang akan dituju, ibu hanya ikut dan patuh saja kepada ayah. Mereka berjalan menuju jalan besar. Menunggu mobil yang lewat.
Sebenarnya, sebelum mengajak keluarganya pak Paul sudah meniniau daerah yang akan dituju. Beberapa hari sebelunya, ia mencari rumah sewaan terlebih dahulu. Setelah menemukan rumah sewaan tersebut, barulah pak Paul mengajak serta keluarganya. Maka hari itu berangkatlah mereka menuju ke tempat yang baru.
Ketika pak Paul dan istrinya asik mengobrol, tiba-tiba terdengar deru mobil mendekat. Pak Paul segera berlari ke jalan dan segera menyetop mobil. Mobil pun berhenti, mereka segera naik. Tapi, Pak Paul dan kakak Tami belum bisa naik karena mobil penuh. Sang supir berkata,” tidak bisa semuanya pak.”
Mobil terlihat penuh, memang yang bisa naik hanya ibu dan Tami dipangku. Ibu naik mobil terlebih dahulu, Pak Paul dan Kakak Tami menunggu mobil selanjutnya. Nanti mereka akan bertemu di terminal. Ibu dan Tami akan menunggu sampai Pak Paul dan Kedua kakaknya sampai.
Demikianlah, menjelang senja Pak Paul tiba di terminal, ibu dan Tami yang sejak tadi menunggu merasa lega. Mereka bertemu di terminal bus di kota itu. Kota ini terlihat sepi, namun sejuk udaranya.
Sebelum menuju rumah sewaan yang sudah dipesan sebelumnya,Pak Paul membeli makanan dan keperluan secukupnya.
Dengan menyusuri jalan yang tidak terlalu lebar, mereka berjalan ke arah timur kota itu. Lurus jauh jalan agak menanjak. Mereka sudah biasa berjalan kaki sebelumnya. Maka tidaklah menjadi penghalang kalau mereka berjalan kaki lagi.
Belok kanan dan belok ke kanan lagi, sampailah mereka di rumah sewaan. Rumah sewaan berupa rumah setengah panggung, tidak tinggi juga tidak rendah, ada dua anak tangga. Rumah itu terdiri dari tiga pintu, Keluarga pak Paul dapat di bagian pinggir sebelah kanan.
Wahh… senang sekali rasanya berada ditempat yang baru kali ini. Rumah sewaan agak lebar, airnya jernih. Dikiri-kanan sudah banyak tetangga. Para tetangga juga banyak yang berasal dari pulau jawa. Maka kampung itu disebut Kampung Jawa.
Kakak Tami juga merasa senang sekali, apalagi mereka berdua akan sekolah. Setiap hari yang ditanyakan, kapan mereka akan didaftarkan, dan kapan mulai sekolah. Mereka sangat menanti-nantikan saat itu.
Setiap hari ayah dan ibu Tami pergi ke pasar untuk mencari nafkah. Ibu Tami berdagang sayur, Sayuran dibeli kemudian dijual lagi. Sedangkan ayah mulai buka jasa pangkas rambut, tidak jauh dari ibu.
Sebelum berangkat mereka menyiapkan makan untuk Tami dan kedua kakaknya. Menjelang tengah hari mereka baru pulang. Tami Dan kedua kakaknya selalu menanti-nanti kedua orang tuanya pulang dari pasar. Mereka menunggu oleh- oleh yang selalu dibawa ayah dan ibu mereka. Selain itu kakak Tami berharap akan segera dapat tempat mereka bersekolah.
Hari itu Pak Paul ayah mereka pulang agak siang, ibu pulang terlebih dahulu. Ayah pulang agak lama karena mesti mencari sekolahan. Karean masih baru, jadi belum tahu persis tempatnya.



