Larangan Mudik Lebaran bagi perantau di luar daerah, dua tahun ini diberlakukan pemerintah. Mulai hari ini, Kamis, 6 Mei 2021, jalur transportasi darat, laut dan udara secara resmi ditutup. Kesedihan bagi pemudik dan perantau yang telah menyimpan kerinduannya untuk pulang kampung selama satu tahun bahkan lebih mulai dirasakan.
Rindu akan kampung halaman untuk merayakan Hari Raya Lebaran bersama keluarga tidak bisa dilakukan. Pandemi Covid 19 yang masih melanda negara kita menjadi alasan utamanya.
Perantau yang sedang menuntut ilmu maupun yang mencari nafkah untuk keluarga, harus bersabar menunggu satu tahun lagi, untuk bisa merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga. Perasaan sedih tentu dirasakan, akan tetapi sedih, gembira, menangis dan lainnya tentu tidak bisa menyelesaikan masalah.
Bulan Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi, dapat dijadikan solusi untuk mengatasi kegalauan diri. Sebab, dimanapun kita merayakan hari raya Idul Fitri, kunci utamanya adalah apakah kita benar benar memperoleh kemenangan atau tidak.
Hari Raya Idul Fitri adalah hari raya kemenangan bagi setiap orang yang bisa melawan hawa nafsunya, menahan diri dari segala yang membatalkan puasa baik secara lahiriyah maupun rohaniyah selama sebulan penuh hingga setelah bulan Ramadhan nanti.
Kemenangan yang sebenarnya adalah mendapatkan gelar Orang Yang Bertaqwa, sebagaimana perintah dari puasa itu sendiri. “Hai orang orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertaqwa” (QS. Al Baqarah : 183).
Bertaqwa secara sederhana adalah mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Nya. Mampukah kita melakukan ini setelah bulan Ramadhan berlalu..?.
Tiga malam ganjil masih tersisa di 10 hari terakhir bulan Ramadhan yaitu malam 25, 27 dan 29. Pada salah satu malam tersebut terdapat amalan yang lebih baik dari 1000 bulan. Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa Rasulullah SAW bersabda “Aku keluar untuk mengkhabarkan kalian tentang malam Lailatul Qadr, tapi ada dua orang berdebat hingga tidak bisa lagi diketahui kapannya, mungkin ini lebih baik bagi kalian, carilah di malam 29, 27, 25”.
Sebagai perantau yang jauh dari keluarga, bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk beriktikaf di Masjid. Menghidupkan malam malam ganjil yang tersisa, mengharapkan kedatangan malam kemuliaan, disaat kita sedang bertasbih, bertahmid, bertakbir, berzikir, berdo’a dan beribadah memohon kasih sayang, ampunan dan pembebasan dari siksa api neraka. Semoga segala urusan kita dimudahkan oleh Allah dengan limpahan rizqi yang seluas luasnya, bermanfaat untuk orang tua, diri sendiri, istri, anak, keluarga, kaum muslimin dan mukminin seluruhnya. Aamiin Ya Rabbal’alamiin.
KEMENANGAN TANPA KELUARGA
Senang Dan Sedih Silih Berganti
Mengharap Mudik Di Hari Raya Fitri
Memanjatkan Do’a Kehadirat Allahu Rabbi
Demi Ketenangan Jiwa Dan Hati
Sujud Dalam Kesendirian Jiwa
Memohon Ampunan Dan Kasih Sayang Nya
Baik Sangka Terhadap Semua Peristiwa
Penolak Segala Malapetaka
Puasa Dengan Keimanan Dan Kesabaran
Senjata Untuk Meraih Kemenangan
Hidupkan Malam Malam Akhir Bulan Ramadhan
Penawar Rindu Dalam Rantauan
Segalanya Milik Allah Dan Akan Kembali Kepada Allah
Tidak Ada Daya Dan Upaya Kecuali Hanya Milik Allah
Hanya Kasih Sayang dan Ampunan NYA
Memberikan Kemenangan Walaupun Tanpa Keluarga
Semoga Bermanfaat….
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa
Semoga Puasa Kita Diterima Oleh Allah SWT
Aamiin Ya Rabbal’alamiin
Oase Ramadhan Hari Ke 24 “Merayakan Kemenangan Tanpa Keluarga”






