Tersebab Covid-19 Meradang Sarapan di Kedai pun Dilarang

Kuliner, Literasi947 Dilihat

BERSAMA covid-19 kita semakin diajarkan banyak perubahan. Termasuk perubahan dari kebiasaan makan dan ngopi di kedai atau di warung-warung kopi. Biasanya aman-aman saja duduk berlama-lama di kedai kopi atau dikafe. Kini jangan coba-coba lagi. Sekurang-kurangnya untuk sementara waktu.

Disebabkan covid-19 yang menghimpit dan segala aturannya yang membuat orang berbenturan, kini banyak warung-warung makan ditutup. Setidak-tidaknya di  Kota Tanjungbalai Karimun, Ibu Kota Kabupaten Karimun, tempat saya bermastautin ini. Konon di kota-kota kecamatan di kabupaten, ini juga diberlakukan penutupan pelayanan di tempat untuk sementara. Seperti di Tanjungbatu (Kecamatan Kundur), Moro (Kecamatan Moro), Tebing, Meral, misalnya juga begitu.

Atas keputusan Pemda ini masyarakat pedagang dan konsumennya tentu saja merasa bertambah susah dengan. Di satu pihak, penjual atau pedagang ingin tetap melaksanakan pekerjaan sehari-harinya yang memang berjualan makanan. Dengan pekerjaan itu pula selama ini dia menopang ekonomi rumahnya. Sementara di pihak lain, para tamu kedai kopi atau kedai nasi juga sedikit kesulitan. Kalau ingin makan di kedai atau di warung makan sudah tidak bisa. Harus dibungkus dan dimakan di rumah. Covid telah mengubah banyak hal. Pelan-pelan masyarakat juga semakin dapat menerimanya.

Untuk sekadar pengetahuan, saat ini di Tanjungbalai Karimun tidak lagi semudah kemarin-kemarin –sebelum covid menghimpit– mencari makanan siap santap di warung langsung. Warung kopi banyak yang ditutup saat ini. Jika ada yang buka –karena sebenarnya dibolehkan menjaual saja– tetap tidak melayani pelanggannya untuk minum atau makan di kedainya. Hanya bisa membeli minuman atau makanan untuk disantap di rumah masing-masing saja. Atau di tempat lain yang aman dari kerumunan. Itulah peraturan yang sudah ditentukan Pemerintah Daerah sini untuk maksud menyetop penyebaran covid yang saat ini sangat banyak jumlah orang yang terpapar.

Maka belakangan ini semakin sering ibu-ibu memasak di rumah. Jika membeli makanan atau minuman masak di warung, tetap juga harus dimakannya di rumah. Tidak ada kursi atau tempat duduk di warung kopi atau di rumah makan untuk bisa makan di kedai seperti dulu. Meskipun bersifat sementara tetap saja membuat orang serasa menderita. Sikap harus diubah dari biasanya duduk-duduk nyaman di warung makan, kini harus kembali ke rumah untuk menyantap makanan yang dibeli. Mendingan masak di rumah saja, kurang-lebih begitu sikap beberapa ibu-ibu.

Pagi Ahad (30/05/2021) kemarin, kembali kami sarapan pagi di rumah saja. Menu nasi goreng alias nasgor yang relative mudah memasaknya kembali tersedia setelah dimasak, tentunya. Nasgor menu dengan cara memasaknya ralatif mudah, ini hanya perlu nasi (panas atau dingin) yang sebelumnya sudah dimasak. Nasi yang sebelumnya tidak habis, misalnya dapat dipanaskan menjadi nasgor dengan bumbu sederhana saja. Cukup bawang –merah dan putih—plus garam dan sedikit sambal (cabe giling). Akan lebih enak jika dicampur telur juga.

Ahad seperti ini biasanya sarapan dipesan di kedai dan disantap juga di sana. Tapi  hari ini kembali di rumah saja disebabkan covid yang semakin meraja lela. Dan sarapan pagi Ahad ini adalah sarapan pagi dengan nasgor yang dimasak di rumah, ini terasa lebih enak karena perut memang sudah lapar. Tadinya masih ada rencana akan membeli sarapan ke pasar. Tapi tidak jadi. Itulah yang membuat sedikit tertunda. Tidak harus ke pasar sana, kata isteri. Masak di rumah dan dimakannya di rumah juga. Meski sedikit tertunda, tidak masalah.

Sekali lagi,  tersebab covid meradang sarapan dan makan di kedai pun dilarang. Covid telah membuat cara hidup baru seperti saat ini. Banyak yang berubah. Bukan hanya pertemuan sesama teman yang semakin berjarak, untuk mendapatkan makan siap saji dan dimakan di tempat juga sudah tak hendak. Akan sampai kapankah ini begini? Hanya Tuhan sajalah yang tahu.***

Tinggalkan Balasan