Perjalanan Cinta Seorang Guru (1)

Humaniora, Novel, YPTD336 Dilihat

SETELAH menerima SK (Surat Keputusan) pengangkatan sebagai guru di Tanjungbatu (1984) beberapa bulan selanjutnya dia langsung berangkat meninggalkan Pekanbaru, kota yang selama hampir 10 tahun dia huni. Di sini dia menuntut ilmu dan belajar mandiri.

SK dengan masa kerja nol tahun terhitung 01 Maret 1984, itu baru sampai ke tangannya pada bulan September tahun yang sama. Pada bulan-bulan setelah itulah dia berangkat pertama kali ke Tanjungbatu. Sebuah nama kota yang sudah lama dia ketahui. Dulu, ya dulu sekali, ketika dia masih kecil, pamannya Abadurrahman merantau ke sini. Masih bujangan. Tapi usianya singkat dan meninggal di Tanjungbatu itu.

Kini dia harus berangkat ke sana karena SK mengajar yang sudah diterima. Meskipun neneknya (Bansuijah) keberatan berangkat ‘jauh’ namun dia tetap akan meninggalkan Pekanbaru dan kampung halaman, Kabun Air Tiris. Ini panggilan tugas, katanya dalam hati.

Tentang keberatan neneknya, itu dapat dimaklumi. Itu ada kaitannya dengan kematian pamannya, Tuo Bodu begitu dia memanggil Abdurraham, anak kandung neneknya. Tuok Bodu adalah anak laki-laki satu-satunya dari neneknya. Hanya berdua dengan Ibundanya, Sawai anak neneknya. Tuok Bodu adalah adik kandung ibunya itu.

Dia merantau sejak masih remaja ke Tanjungbatu, tepatnya di Sebele, dengan pekerjaan menyadap karet milik toke (orang China) di situ. Paman saya itu meninggal di Sebele ketika masih bujangan. Padahal setahun sebelumnya, dia sudah dicarikan jodoh oleh nenek saya. Tapi dia menolak lalu berangkat (merantau) kembali untuk tida pernah kembali lagi itu.

Mungkin neneknya mengingat memori anak kandungnya itu, ketika lelaki, guru itu, harus berangkat ke Tanjungbatu juga. “Dia pasti berpikir, akau yang bujangan –satu-satunya cucu laki-laki dari lima adik-beradik– juga dapat bernasib sama dengan anaknya.” Begitu guru itu berpikir.

“Maka dia tidak akan mengizinkan saya berangkat ke Tanjungbatu. Tapi saya tetap berangkat, walaupun untuk berangkat pertama kali itu saya tidak mendapat restu (berjabat tangan) dari nenek saya.” Guru itu, namanya Jamal, sudah bulat akan berangkat. (bersambung)

Tinggalkan Balasan